Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 19


__ADS_3

Suasana hatinya Keyla sedikit membaik setelah mendatangi makam ibunya.


Mereka keluar dari area pemakanan dengan Keyla yang terus berjalan sejajar dengan Nicholas.


"Apa kamu tidak merasa haus atau lapar." Tanya Nicholas pelan.


Keyla menggelengkan kepalanya. "Aku mau istirahat. Rasanya aku begitu capek, tapi entah apa yang aku kerjakan padahal kita hanya pergi ke toko perhiasan saja."


Mereka terus berjalan ke arah mobil.


Saat Keyla ingin membukakan pintu mobil, tiba-tiba saja Nicholas menahan pintu agar tidak dibukakan Keyla. "Tunggu aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi kita." Nicholas memalingkan wajahnya kesamping kiri dan kanan lalu memutarkan tubuhnya ke arah belakang.


"Sudahlah Nicholas, itu hanya perasaan kamu saja."


"Sungguh aku tidak sedang menakutimu. Lihatlah gerak-gerik kedua lelaki yang menggunakan kaos biru dan kemeja hitam itu, mereka seperti sedang mengawasi kita." Masih berusaha untuk meyakini Keyla karena ia merasa benar dengan feelingnya saat ini.


"Ayolah kita pulang sekarang biarkan saja mereka mengawasi kita, jadi sekarang kita tidak perlu takut lagi karena sudah memiliki pengawas gratis."


Nicholas tertawa mendengar ucapan Keyla.


"Haha... Bagaimana jika mereka menculik kita." Gurau Nicholas sambil membukakan pintu untuk Keyla lalu menutup kembali.


Kemudian berjalan sedikit cepat, dia sempat melihat lagi ke arah pria yang mencurigakan itu. Memang jika diperhatikan sekilas tidak ada yang aneh dengan mereka hanya saja perasaan Nicholas berkata seperti ada sesuatu yang sedang diintai oleh kedua pria itu.


"Kalau kamu lelah tidur saja nanti aku akan membangunkan kamu saat sudah sampai di rumah." Ujar Nicholas yang sudah duduk di samping Keyla.


"Kamu benar, tapi aku mau menikmati setiap titik jalanan yang kita lewati." Keyla tersenyum begitu manis ke arah Nicholas.


Dia memang wanita yang tegar, padahal baru saja ia telah melihat suaminya jalan bersama dengan wanita lai. Namun secepat itu ia bisa menghilangkan rasa sakitnya.


"Cinderella apa bolehkah aku bertanya sesuatu." Tanya Nicholas dengan sedikit rasa ragu karena ia takut Keyla tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa pernah aku tidak memberi jawaban setiap saat kamu bertanya padaku."


"Apa kamu sudah tau Alex akan segera tunangan dengan Mira dan pastinya dalam waktu dekat mereka akan menikah, sedangkan Alex tidak mau menceraikanmu sebelum ia mendapatkan semua warisan dan jabatannya." Nicholas memandang kedalam manik mata Keyla.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap untuk di duakan." Pertanyaan Nicholas semakin serius.


Keyla terdiam memandang Nicholas yang terus menatap dirinya. 'Sungguh dia bukanlah salah satu wanita yang sanggup jika harus di duakan.'


Ia mendorong tubuh Nicholas agar menjauh darinya. "Ha..ha... Kenapa kau menanyakan itu, pernikahan kami akan segera berakhir setelah Alex mendapatkan apa yang diinginkannya." Keyla berusaha tertawa meski terdengar hambar.


"Apa kamu mencintainya Cinderella ku."


Deg... Seketika tubuhnya membeku jantungnya berhenti berdetak.


"Aku belum memiliki jawaban untuk itu


Keyla memalingkan wajahnya ke arah luar kaca mobil yang sudah dibukanya.


"Maaf jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman." Ujar Nicholas tulus, dan menghidupkan mobil untuk jalan. Ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia tanyakan kepada Keyla.


Di sepanjang perjalan mereka tidak ada yang berbicara, Keyla hanya sibuk bermain game di ponselnya begitu juga dengan Nicholas yang fokus menyetir tapi dia juga tetap berusaha untuk mencuri curi pandang ke arah Keyla.


***


Nicholas merasa sangat bersalah pada Keyla terlebih wanita itu sudah mendiamkan dirinya di sepanjang perjalan.


Keyla hanya metap sekilas ke arah Nicholas lalu membukakan pintu mobil.


"Terimakasih sudah mau menemaniku untuk berkunjung ke makam ibu, Aku masuk dulu." Keyla sudah turun dari mobil meninggalkan Nicholas


Menurunkan kaca mobil."Terimakasih juga sudah sudi untuk menemaniku seharian ini." Teriak Nicholas dari dalam mobil lalu menutup kembali kaca yang sudah dibuka.


Keyla membalas dengan lambaian tangan, lalu masuk dengan cepat kedalam rumah. Ia berjalan menuju ke arah dapur untuk mencari minum sungguh tenggorokannya sudah kering sedari tadi.


"Kenapa tidak ada yang masak. Bukankah ini sudah sore, bagaimana dengan makan malam kita semua ?" Keyla bertanya pada salah satu maid yang sedang membersihkan lantai dapur. Setiap sore para para pekerja di rumah Alex yang mengurus bagian dapur biasanya sudah sibuk dengan kegiatan memasak.


"Tidak nona, tuan sudah memberikan kami uang untuk membeli makan malam ini. Tuan tidak mengizinkan kami masak,"


"Tadi tuan juga berpesan kepada kami semua jika melihat nona pulang tuan menyuruh anda untuk menemuinya di kamar." Lanjut maid itu, kemudian kembali melakukan kegiatannya untuk bersih bersih.

__ADS_1


"Sejak kapan dia sudah pulang ?"


"Saya kurang tau nona tadi pelayan yang lain menyampaikan kepada saya, sebaiknya nona segera menjumpainya saya juga mendengar wajah tuan Alex sedang tidak sedang tidak baik baik saja." Maid itu mengatakan dengan sedikit berbisik dia juga takut jika tiba tiba tuannya itu mendengar jika dirinya berkata seperti itu bisa bisa Alex memecat dirinya.


"Baiklah kalau begitu saja pergi dulu, semangat bersih bersihnya ya." Keyla memang sangat sopan bahkan dengan para maid yang bekerja di rumah itu.


Ia pergi menuju tangga langkah kakinya sedikit dipercepat dia masih penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Alex pada dirinya.


Keyla sudah berdiri di depan pintu kamar Alex, ia memberanikan diri untuk membukakan pintu.


'Gelap' itulah kata pertama dalam hatinya saat pintu telah dibuka. Keyla mencari tombol lampu di dinding lalu menghidupkannya.


"Hebat sekali anda nyonya besar."


Keyla terkejut saat mendengar ucapan dari Alex, ia mengira tidak ada orang di dalam kamar. "Kau mengejutkanku."


"Kamu membiarkan suamimu sendirian di rumah tanpa ada istri yang menemaninya. Aku harus memberi hukum kepada istriku yang sudah berdosa membiarkan suaminya seorang diri dirumah." Wajah Alex terlihat begitu datar tidak ada ekspresi apapun yang di perlihatkannya.


"Kemarilah wahai istriku." Alex sengaja menekan kata istriku, wajahnya masih terlihat sangat dingin dengan menatap lurus ke arah depan dan dirinya duduk di atas sofa sambil menyilangkan kakinya.


Bulu kuduk Keyla sudah merinding dibuat Alex ia merasa seperti lekaki lain yang sedang berasa di hadapannya.


"Kenapa masih berdiri di situ apa kamu tidak bisa mendengar ucapanku atau telingamu sedang bermasalah dalam pendengaran."


"Alex aku tidak memili waktu jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan aku akan kembali ke kamar." Keyla langsung to the point. jujur saja jika dirinya bisa berkata dirinya sangat ketakutan melihat suaminya.


"Sabar sayang jangan buru buru kamu tidak perlu ke kamar jelekmu itu Kamu bisa tidur di kamar kita malam ini. Sekarang tutup dan kunci pintunya cepat kemari." Alex menepuk bagian yang kosong di sampingnya.


Keyla menuruti semua yang diperintah suaminya, kakinya sedikit bergetar saat melangkah ke arah Alex.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan." Tanya keyla pelan ketika sudah duduk disamping suaminya.


"Tenanglah sayang waktu kita masih sangat panjang, aku akan mengatakannya nanti." Bisik Alex tepat di telinga Keyla.


Keyla meremas kedua tangan tangannya dengan kuat, dirinya tau tidak akan bisa berbuat apa apa dengan lelaki yang berada di sampingnya sekarang. Matanya sudah di pejamkan dan tubuhnya semakin bergetar 'semoga saja tuhan masih mau menjaga dirinya.'

__ADS_1


__ADS_2