
Alex mulai mengerjap-ngerjapkan mata dari tidurnya. Ternyata semalaman tidur di sofa tidak mempengaruhi tidurnya. Toh, tidurnya juga sama, ia masih bisa bermimpi seperti biasa.
Raut wajah bingung, ketika ia mendapati istrinya sedang mempersiapkan peralatannya untuk berangkat ke kantor. Alex membuat lengkukan kecil di bibirnya, lalu sengaja tidak beranjak untuk bangun. Dirinya memperhatikan setiap gerakan dari istrinya.
Ini adalah kali pertama Keyla mempersiapkan peralatan untuk Alex, entah dorongan dari mana. Ia sengaja bangun lebih awal untuk mempersiapkan semua.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya ketika mendapati Alex sedang memperhatikannya.
"Terimakasih istriku."
Pipi Keyla bersemu merah, ia berusaha menyembunyikan dengan menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh Alex.
Menyadari istrinya yang malu-malu, Alex sengaja berjalan mendekati istrinya.
"Stop!"
Belum sempat Alex mendekat, Keyla malah menyuruhnya untuk berhenti. Ia terpaksa mengurungkan niatnya dan berdiri dengan jarak tidak terlalu jauh dengan Keyla.
Keyla menutup mulutnya dengan sebelah tangan lalu mengatakan, "Mengertilah."
"Sampai kapan kamu seperti ini?" Alex yang mengerti maksud penolakan dari istrinya, ia mundur kebelakang agar tidak terlalu dekat dengan istrinya. Sedangkan Keyla menjawab dengan isyarat gelengan kepalanya. "Nanti siang, setelah meeting aku pulang. Kamu tunggu di rumah, aku bakalan pulang jemput kamu-"
"Kita mau ke mana?" potong Keyla saat Alex belum menyelesaikan perkataannya.
"Kita harus cek kandungan kamu, sayang... Aku gak tahan sama kamu yang aneh seperti ini."
"Ini biasa terjadi pada ibu-ibu hamil, kamu pergi saja sendiri." Keyla mulai meninggikan suaranya. "Hari ini aku ada janji mau ketemuan sama Nic dan juga Almira," tambahnya seraya melipatkan kedua tangannya di dada.
Alex terdiam sejenak, lalu menghela napasnya. "Silakan pergi dengan siapa pun yang kamu suka, kecuali Nicholas," ucap Alex datar, kemudian ia meninggalkan Keyla dan menuju ke kamar mandi.
"Terserah kamu, intinya aku akan tetap pergi."
__ADS_1
Bukan Keyla jika tidak bisa lebih keras dari Alex, ia tetap bersikeras untuk pergi ketemuan dengan Nicholas dan juga Almira. Pertemuan yang sudah di rencanakan beberapa hari oleh dirinya dan juga Nicholas.
Sebenarnya Keyla tau alasan kenapa Alex tidak mengizinkan dirinya dan Nicholas bertemu, alasan terkuat karena Alex yang masih belum memaafkan Nicholas yang telah menyembunyikan Keyla darinya.
Sekarang Keyla terduduk di tepi ranjang menunggu Alex keluar, ia akan terus berusaha agar Alex mengizinkannya keluar.
Klek...
Pintu kamar mandi itu terbuka.
Alex keluar dengan rambutnya yang basah dan acak-acakan, tubuh atletis yang di tampilkan Alex tidak bisa membuat Keyla berpaling sedikitpun. Ia benar-benar tidak pernah memperhatikan itu selama ini.
"Apa kamu suka?" tanya Alex dengan senyuman menggoda. Ia tau, sedari tadi Keyla memperhatikannya tanpa bisa mengedipkan matanya.
"Ehm." Keyla memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia benar-benar malu di buat Alex hanya dengan pertanyaan bodohnya itu.
Alex menaiki ranjang dari belakang. "Kenapa harus malu-malu?" bisik Alex dari belakang istrinya.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai aroma shampo di rambutku lagi? Aku baru sa-"
"Diam!" tukas Keyla secepat mungkin, ia tidak sanggup mendengar Alex melanjutkan perkataannya.
Merasa semakin kesal, Keyla melemparkan bantal yang bisa ia raih untuk di lemparkan ke wajah suaminya.
"Ha ha ha." Alex tergelak saat menangkap bantal yang di lempar istrinya, selain itu ia juga merasa lucu dengan tingkah malu-malu dari istrinya. "Iya. Sorry, sayang. Aku cuman bercanda."
"Terserah."
"Marah?"
"Enggak," jawab Keyla asal. Ya, sebenarnya ia tidak marah kepada Alex, cuman dirinya saja yang tidak bisa jika harus berdekatan dengan Alex. "Udah siap-siap sana gih, nanti telat. Oh ya, pokoknya nanti aku tetap mau bertemu dengan Nic dan ju-"
__ADS_1
"Enough! Ini yang membuat aku jadi telat masuk ke kantor. Berhenti bersikap keras kepala Key... Aku tidak bisa mau kamu bertemu lagi dengan Nicholas. Kalau bisa, blokir nomor teleponnya. Itu akan semakin baik."
"Aku tidak peduli! Aku tetap akan menjumpai mereka nanti siang," putus Keyla tetap dengan pendiriannya dan ia segera pergi ke arah pintu kamar.
"Berhenti bersikap keras kepala Key!" bentak Alex semakin geram dengan istrinya yang tidak bisa di aturnya.
"Terserah kamu," ucap Keyla yang masih berdiri di ambang pintu dengan menatap tajam Alex, matanya mulai berkabut akibat menahan air mata. "Aku tetap pergi." Keyla membanting kuat pintu kamar itu seraya melangkahkan kakinya untuk keluar.
Shit! Alex hanya bisa mengumpat kesal, sekeras apapun dirinya tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia merasa bersalah karena telah membentak Keyla, tak mungkin juga dirinya menyusul. Yang ada, jika dirinya menyusul Keyla malah membuat amarah wanita itu semakin meninggi.
Mau tidak mau, ia harus membiarkan Keyla pergi untuk menjernihkan pikirannya. Bisa jadi, ia juga bisa menerima Alex yang melarang dirinya bertemu Nicholas.
.
.
.
.
.
.
Hai-hai di tunggu like dan komen dari kalian.
Bagi yang kelebihan poinnya bisa vote supaya authornya jadi semangat up ceritanya
ILY ^_^
__ADS_1