Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 36


__ADS_3

"Kak kita mau kemana sih?" Merasa tidak nyaman dengan Nicholas yang terus membawanya berjalan dan entah untuk mencari apa.


"Temani Kakak malam ini!" Ujar Nicholas singkat. Sedangkan Almira menatapnya bingung.


"Temani gimana maksudnya?"


"Iya kamu Almira temani saya malam ini." Nicholas menunjuk Almira seraya tergelak.


"Apaan sih kak Nicho, gak jelas banget... Aku mau pulang." Rengek Almira seraya memukul lengan Nicholas.


"Hahaha." Tawa Nicholas membludak.


"Malam ini ada acara launching produk baru milik teman Kak Nicho. So, kita belanja untuk keperluan kamu. Pokoknya kamu harus cantik malam ini." Jelas Nicholas. Almira yang sudah tau maksud Nicholas membawanya kemari hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Belanjanya pakek uang siapa, aku atau kak Nicho?"


"Uang Kakak. Almira sayang..." Nicholas tidak habis pikir dengan satu wanita ini. Tentu saja Nicholas yang mengajaknya berarti Nicholas yang akan belanja untuknya.


"Kenapa gak bilang dari awal. Uang kak Nicho dia kartu ATM semua jadi aku gak bawa kartu ATM nya."


Pletak...


Nicholas menepuk jidatnya sendiri, sungguh Almira ini benar-benar sangat polos. Sangking polosnya Almira sudah seperti anak bodoh.


"Gini deh, kamu tinggal pilih apa saja yang menurut kamu itu bisa kamu pakai untuk acara malam ini soal yang bayar udah ada kakak yang bayar."


"Hehe... Oke deh kak Nicho." Almira tersenyum cengir ke arah Nicholas.


Merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Nicholas menggandeng tangan Almira untuk menyelusuri area perbelanjaan. Almira yang awalnya merasa canggung, akhirnya tetap membiarkan Nicholas menggandengkan tangannya. Toh, sebenarnya dalam hatinya bersorak bahagia.


Setelah mereka berdua siap berbelanja, Nicholas langsung mengajak Almira pulang. Ia meminta supaya Almira bersiap sebelum jam delapan malam.


***


Seperti yang Nicholas inginkan Almira sudah harus siap sebelum jam delapan. Bahkan setelah Nicholas mengantarkannya pulang, Almira langsung masuk ke dalam dan segera mempersiapkan diri.


Sekarang di ruang tamu, dimana dirinya sedang duduk menunggu jemputan dari Nicholas.


"Baru bangun?" Tanya Almira yang melihat Keyla menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Loh kok kamu penampilannya kayak mau pergi acara. Mau ke mana kamu?" Bukan menjawab pertanyaan dari Almira. Keyla malah menanyakan penampilan Almira yang tak biasanya seperti ini.


"Kak Nicho ngajak aku ke acara peluncuran produk baru temannya."


"Oh ini sudah tanda-tanda." Canda Keyla yang di balas dengan senyuman-senyuman tak jelas dari Almira.


"Bisa aja mbak Keyla. Tapi gak enak lagi tau kalo panggil mbak Keyla, enaknya tuh 'bumil'."


"Apaan sih. Mbak gak mau, nanti pas tiba-tiba kamu panggil di depan Nicholas gimana?"


"Sebenarnya sudah hampir, maafkan mulutku yang bocor ini mbak Keyla." Batin Almira.


"So pasti Mbak."


"Itu ada suara mobil, coba cek siapa tau Nicholas." Perintah Keyla pada Almira, Keyla juga ikut keluar mengikuti Almira dari belakang.


"Key! Stop, jangan keluar!" Tegas Nicholas yang lari dengan cepat menahan Keyla.


"Kenapa sih kayak drama aja kak Nicho ini."


Nicholas tidak peduli dengan apa yang Almira tanyakan, ia menarik Keyla untuk kembali masuk kedalam. Sedangkan Keyla hanya menatap bingung Nicholas.


"Kesambet apa sih kamu ini?"


"Iya tau tuh kak Nicho, buruan pergi gak usah drama la-"


"Bukan drama. Ini serius, dari tadi di jalan aku merasa ada yang ngikutin." Ujar Nicholas yang memotong pembicaraan Almira.


"Udah deh Nic, kamu itu suka banget kek gini tau? Kamu bahkan beberapa kali juga pernah merasa ada yang ngikutin. sampai sejauh ini semua itu perasaan kamu aja, udah deh mending kalian pergi sana. Sayang tau, tuh Almira udah capek nungguin kamu."


"Iya kak." Sela Almira.


Apa yang Keyla katakan memang benar, Nicholas sudah sering merasakan hal yang sama. Tapi semua hanyalah feeling dari Nicholas, jadi apapun tentang perasaan yang dirasakan Nicholas tak lagi di gubrisi Keyla.


Nicholas menangkup wajah Keyla dengan kedua tangannya. "Cinderella, lihat mataku. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu."


"Sudah-sudah! Pergi sana gih. Aku bisa jaga diri." Ujar Keyla sambil melepaskan tangan Nicholas yang masih menangkup wajahnya.


"Oke, tapi kalo terjadi sesuatu kamu hubungi kita, jangan pernah buka pintu untuk siapapun."

__ADS_1


"Terus nanti aku tidur di mana dong?" Sela Almira di tengah pembicaraan Nicholas dan Keyla.


"Bukan gitu maksud kakak, pintu jangan di buka untuk orang lain. Ngerti?!"


"Ngerti pak..." Jawab Almira dengan memasang wajah sok imutnya.


"Kita pergi dulu Key. Ingat jangan buka pintu kecuali untuk anak ini." Tunjuk Nicholas kepada Almira yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Satu lagi, segera hubungi kita kalau ada sesuatu yang aneh." Sambung Nicholas.


"Siap pak boss." Keyla mengangkat tangannya memberi hormat.


"Kita berangkat dulu. Jaga diri kamu, kunci pintunya dan jangan keluar dari dalam rumah." Nicholas masih belum tenang menganai perasaannya.


"Bye... Hati-hati ya."


Setelah itu Keyla mengunci pintu dari dalam. Karena merasa sepi Keyla mengambil remote untuk menyalakan TV, menurutnya menonton menjadi sedikit lebih baik dari pada memikirkan apa yang sudah Nicholas katakan.


"Anak mama baik budi ya, jangan nyusahin mama. Capek tau harus muntah-muntah tiap pagi."


Ucap Keyla sambil mengelus perutnya. Sekarang Keyla sudah menerima kehamilannya, karena apapun itu anak yang ada di dalam kandungannya tidak pernah salah. Yang salah adalah dirinya, lebih tepat dirinya dan juga Alex.


.


.


.


.


.


.


Ada yang kangen Alex gak?


Terimakasih untuk kalian semua yang masih mau baca cerita dari aku.


Di tunggu vote, komen dan likenya yaa😘

__ADS_1


__ADS_2