Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 54


__ADS_3

Dini hari Keyla terbangun dengan rambutnya yang kusut, matanya sudah pasti sembap akibat tangisannya. Sesekali ia masih sesenggukan.


Rasanya sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur, jika bukan harus ke kamar mandi ia tidak akan bangun.


Dengan langkah tergontai karena sedikit pusing Keyla mengayunkan langkahnya.


"Hufff, mengandung ternyata tak seindah yang aku bayangkan. Entah berapa kali aku harus bolak-balik ke kamar mandi setiap hari," keluhnya mengenai ia semenjak hamil. Itu hal yang wajar untuk setiap wanita hamil, tapi sangat malas rasanya jika sebentar-sebentar harus membuang air kecil seperti ini.


"Alex ke mana?"


Keyla baru menyadari suaminya tidak ada, ekor matanya menyipit saat melihat pintu kamar sedikit terbuka. Ia juga penasaran dengan sumber suara dari luar. Orang teleponan tengah malam?


Sedikit pelan ia menuju sumber suara itu.


Keyla melihat Alex sedang berbicara dengan telepon.


"Tunggu aku ke situ sekarang." Alex memutuskan sambungan.


"Sayang!" Alex terperanjat dengan kehadiran Keyla di belakngnya.


"Mau ke mana?"


"Ada hal penting harus aku tangani sekarang, kamu tidurlah!"


"Tapi ini sudah tengah malam."


Alex mendekati Keyla, mengelus pipinya dengan lembut lalu mengecup keningnya sekilas. "Hanya sebentar."


"Hati-hati." Dengan suara berat Keyla membiarkan Alex pergi, tapi melihat wajah suami yang seperti orang panik ia tidak bisa melarang.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Keyla kembali ke kamar setelah Alex pergi.


***


"Bagaimana?"


"Dia sedang kemari, bakat akting-mu luar biasa."


"Bagus, jalankan semua misi kita!"


Ada yang sedang menyusun rencana, entah apa yang mereka rencakan. Hanya mereka yang tau.


Salah satunya adalah wanita yang menyimpan amarah yang besar, tidak ada kata takut dalam kamusnya. Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak berhasil menjadi miliknya akan menjadi milik orang lain.


"Oke, semua sudah siap."


"Sudah."


"Alika di mana?"


"Tepat pada posisinya, cepat masuklah ke dalam. Nanti dia kemari kamu masih di sini."


Semua sudah siap pada posisi mereka masing-masing. Dalang dari semua itu masuk ke dalam kamarnya, mengunci diri dari dalam.


Suasana di buat gaduh dengan salah satu menggedor-gedorkan pintu dari luar, mangis, berteriak memanggil temannya yang di dalam.


"Di mana dia?" tanya Alex yang baru sampai.


Dengan wajahnya yang panik, Dhea mendekati Alex. "Tolong Lex, aku tidak tau harus menghubungi siapa lagi. Di-- dia sangat nekat aku takut dia mencelakai dirinya sendiri." Wanita itu bejalan mendekati Alex, dan tapi lelaki itu sadari seseorang di belakangnya datang membekapnya mulutnya dari belakang dengan kain yang sudah diberi obat bius hirup.

__ADS_1


"Kerja bagus Alika," ucap Dhea merasa bangga dari hasil kerja mereka.


"Semua sudah beres cepat bukan pintu!" perintah Dhea kepada wanita di dalam kamar.


Pintu itu terbuka memperlihatkan sosok wanita dengan senyum devil-nya. Mereka menyeret Alex ke dalam kamar itu.


"Cepat ambil nomer telepon wanita sialan itu, lalu bawalah ponselnya jauh dari sini. Kalau bisa hancurkan."


Baik Alika dan Dhea mereka mengikuti perintah wanita itu, tanpa pikir panjang mereka berdua meninggalkan wanita itu, menutup pintu kamar dan membiarkan Alex dengannya.


Mereka pergi untuk melakukan misi mereka selanjutnya.


"Al, kamu yakin obat bius itu tahan lama?" tanya Dhea sedikit ragu, karena ia tidak banyak tau mengenai obat bius.


Alika tersenyum kecil. "Semuanya aman, yang penting telepon ini kita musnahkan dulu sembelum ada yang melacak kita." Ia mengangkat ponsel Alex di tangannya.


"Siap untuk rencana selanjutnya?"


"Siap," jawab Dhea cepat.


Kedua wanita itu saling melempar pandangan tertawa menang, kemudian pergi ke kamar mereka untuk melanjutkan istirahat. Masih banyak hal harus mereka urus, jadi mereka butuh tenaga untuk melanjutkan misi mereka besok hari.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2