
Alex duduk mematung menunggu kepulangan Keylaa. Ia sengaja pulang lebih cepat dari jam biasanya hanya karena ia terus-terusan memikirkan Keyla yang tak kunjung menjawab telepon darinya. Alhasil, Alex memutuskan untuk pulang lebih cepat. Tapi sayang, ia malah harus menunggu lagi karena Keyla belum pulang.
Dua jam lebih Alex duduk menganggur. Benar-benar membosankan.
Matanya mulai melirik jam di ponselnya, sembari mengecek apa ada notifikasi dari Keyla. Kosong. Keyla benar-benar menguras pikirannya untuk memikirkannya seharian ini.
"Sya, Keyla mana?" tanya Alex melihat Sasya masuk seorang diri.
"Ada apa?" tanya Keyla yang baru muncul di belakang Sasya.
"Ke mana saja seharian?"
"Kan, aku udah bilang, kamu juga udah ngizinin. Napa kamu tanyain lagi?" jawab Keyla malas dan ikut menanyakan balik.
"Saya permisi dulu Tuan, Mbak Keyla." Sasya membungkukkan setengah badannya meninggalkan kedua majikannya yang sedang berdebat.
"Ngapain aja kamu seharian sama Nicholas?"
"Alex udah ya! Aku udah bilang sama kamu! Aku bukan berdua sama Nic, ada Almira. Kamu juga sudah nyuruh Sasya ngawasin aku." Keyla menarik napasnya lalu membuangnya dengan kasar, ia lelah menghadapi suaminya yang tiba-tiba posesif tidak jelas.
"Aku tau, terus kenapa--a telepon dari aku gak kamu angkat?"
"Cukup Alex, aku mau istirahat. Aku capek sama kamu, dan aku tau kamu udah bosankan sama aku?"
Alex membulatkan matanya, ia berusaha mencerna kata-kata Keyla. Dirinya tidak mengerti maksud Keyla.
"Awas!"
Alex membiarkan Keyla pergi.
"Arrghh!" Alex mengacak rambutnya frustrasi, lalu kedua tangannya mengusap kasar wajahnya. Alex tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran istrinya, ia bertanya secara baik-baik sedangkan jawaban istrinya seperti ada yang salah saja dengan pertanyaannya.
Merasa ada yang tidak beres dengan Keyla, sesegera mungkin Alex menyusulnya.
__ADS_1
***
"Kamu kenapa?"
Alex mendapatinya istrinya sedang meringkuk di bawah selimut, dan ia menangis.
"Keyla kamu kenapa? Jawab aku!"
"Keluar! Aku gak mau bicara sama kamu..." lirih Keyla di sela-sela isakannya.
Alex tidak menyahut. Ia memejamkan matanya mendekati istrinya yang masih betah menutupi diri di bawah selimut.
"Kalau aku salah kamu ngomong Key... Jangan seperti ini."
Tidak ada jawaban apapun.
"Maaf sudah bikin kamu seperti ini," ucap Alex tulus. Sebenarnya ia juga tidak tau, kata maaf untuk apa barusan diucapkannya. Perasaan ia tidak melakukan kesalahan apapun. Entahlah, kata-kata maaf itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kamu bilang apa sih sayang? Aku gak ngerti."
Alex menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Keyla, ia mendapati Keyla dengan penampilannya berantakan. Rambutnya kusut, tetapi tetap paling cantik di mata Alex. Ia membawa Keyla ke dalam dekapannya.
"Aku gendut."
"Siapa?"
"Aku," dengus Keyla kesal. Jelas-jelas ia sedang berdua. "Aku udah gendut, jelek. Kamu pasti bosan sama aku, nanti kamu malu lagi punya istri kayak gi-"
Belum sempat Keyla melanjutkan ucapannya, Alex lebih dulu membungkam bibir Keyla dengan bibirnya.
Keyla menarik diri, ia kehabisan napasnya. Bagaimana bisa ia sedekat ini? Tidak ada rasa mual, jijik atau apa seperti biasa. Malah, ia bisa menikmati dengan santai.
"Siapa yang mengatakan kamu gendut dan jelek?" tanya Alex tak terima, ia akan memberi pelajaran kepada siapapun yang telah mengatakan istrinya seperti itu.
__ADS_1
"Aku takut kamu ninggalin aku..."
Alex mengulumkan senyumnya, ia ingin menertawakan istrinya sekarang juga. Namun, jika ia menertawakannya di saat kondisi sedang serius seperti ini bisa-bisa dia akan marah.
"Coba ucapin dengan jelas, aku apa?"
"Aku takut kamu bakalan ninggalin aku," teriak Keyla.
"Benaran kamu takut?" tanya Alex, Keyla mengangguk. "Makanya sekarang kamu tidur di kamar kita, kamu gak takut apa aku diculik tidur sendirian?" Ia mengambil kesempatan mengajak Keyla kembali tidur di kamar mereka.
"Iya, aku mau. Tapi kamu janji gak bakal tinggalin aku kan?"
"Sayang lihat mataku," pinta Alex seraya meraih tengkuk istrinya agar bisa menghadap dirinya. "Sekarang dengarkan aku baik-baik. Kamu itu akan tetap cantik dalam kondisi apapun, mau kamu gendut, kurus atau apa kamu tetap cantik." Alex menatap bola mata istrinya meyakinkan ucapannya bahwa ia tulus mencintai istrinya itu.
"Kamu gak lagi bohongin aku kan?" Keyla menatap Alex jengah.
"Tidak," jawab Alex cepat. "Asal kamu tau Key, aku benar-benar bahagia bisa menikah dengan kamu." Ia membawa Keyla ke dalam pelukannya, mengecup lama puncak kepada Keyla.
"Terimakasih," gumam Keyla dalam pelukan suaminya.
"Harusnya aku yang berterimakasih sama kamu," ucap Alex. "Terimakasih sudah menjadi istriku, terimakasih sudah sudi menjadi Ibu dari anakku. Aku mencintai kamu apa adanya, dan akan selalu begitu."
.
.
.
.
Jangan lupa like, dan komennya. Tenang tidak berbabayar kok.
(Note : Slow Update)
__ADS_1