
Hati Keyla begitu lega ketika masuk ke dalam rumah dan harus bertemu dengan suaminya. Bukan karena hal lain, tetapi karena Alex terlihat seperti tidak mengalami apapun. Terbukti pada saat mereka bertemu Alex masih bersikap biasa saja dan hanya menanyakan bagaimana jadwal yang dipilihnya untuk mengikuti kursus komputer.
"Baiknya jangan seminggu tiga kali. Ikut saja setiap hari supaya lebih cepat kamu memahami semua." Alex menyarankan kepada istrinya agar tidak perlu lama mengikuti kursus itu.
"Pasti kamu harus membayar lebih mahal lagi jika aku mengikuti sampai satu minggu penuh."
"Ikuti saja perintahku! Kamu tidak perlu takut uang yang aku miliki tidak akan menipis hanya untuk membayar kurus komputermu itu."
"Besok akan aku konfirmasi kembali mengenai jadwal baru yang akan aku ikut."
"Usahakan dalam satu bulan kamu sudah bisa menguasai semuanya."
Hah, yang benar saja bagaimana seorang Keyla bisa menguasai degan cepat mengenai komputer? Selama ini Keyla tidak pernah belajar komputer sama sekali.
Di tengah perbincangan mereka berdua ponsel Alex mendapat panggilan masuk hingga mengharuskan ia pergi ke tempat lain untuk berbicara.
Sama halnya dengan Alex. Ponsel keyla juga ikut berdering karena ada panggilan masuk.
Nomor baru?
"Oh ini pasti Amira." Ucap Keyla senang, karena hanya Amira yang sudah meminta nomornya.
"Halo..."
Pria? Itu bukan Amira.
"Keyla ini Anton. Aku memiliki hutang penjelasan soal kejadian tadi malam mengenai Alex."
Keyla tersenyum sendiri mengenai apa yang Anton ucapkan, ternyata lelaki itu menepati janjinya. "Rupanya kamu pria sejati yang menepati janjinya. Btw, bagaimana bisa kamu mendapatkan nomor teleponku?" Penasaran darimana Anton bisa mendapatkan nomornya.
Anton tertawa gelak. "Itulah pria sesungguhnya."
"Tadi aku memintanya dari Nicholas, sekarang aku ingin memberi penjelasan." Sambung Anton yang masih terdengar suara gelaknya.
"Soal kejadian Alex kenapa dia bisa mabuk itu karena Mira."
Anton diam cukup lama.
"Maksudnya Mira mengajak Alex mimun gitu?" Tanya Keyla penasaran.
"*Bukan."
"Semua itu berawal dari Alex yang memergoki Mira sedang tidur dengan pria lain. Dan bodohnya Alex malah memaafkan wanita pengkhianat itu yang jelas telah berselingkuh*."
Hati Keyla seperti di remas dengan sangat kuat mendengar penjelasan dari sahabat suaminya.
"Sepertinya Alex benar benar mencintai Mira meskipun telah berselingkuh, ia tetap memaafkan Mira hanya saja Alex sudah membatalkan pertunangannya."
__ADS_1
Hati Keyla bagaikan di sambar petir. Sebesar itukah rasa cinta Alex kepada Mira?
"Mengenai batalnya pertuangan mereka aku sudah tau dari Nicholas yang mengirimkan pesan kepadaku. Hanya saja aku tidak tau penyebab batal karena apa memang karena aku tidak mau tau."
"Kamu dekat dengan Nicholas?"
Pertanyaan Anton tidak digubris Keyla.
"Karena tidak tau harus melakukan apa, Alex lebih memilih untuk melupakan rasa sakit itu dengan datang ke club."
Bagaikan ada sebuah bom yang meledak di dada Keyla. Air matanya turun membasahi wajahnya, tidak ada lagi kata bertahan setelah mendengarkan bagaimana Alex yang tetap mempertahankan hubungannya dengan Mira.
Mengingat kembali apa yang sudah direlakan Keyla kepada suaminya membuat dadanya begitu sesak menahan rasa perih.
"Kamu menangis?" Tanya Anton yang mendengarkan suara Keyla seperti sebuah isakan.
"Kali ini aku akan pergi."
Keyla memutuskan sambungannya dengan Anton. Dirinya tidak mau lagi mendengarkan apapun.
Entah berapa kali sudah Anton kembali menghubunginya, namun Keyla tidak mau peduli lagi. Dengan kasar dirinya menyeka air matanya.
"Maaf aku tidak bisa lagi bertahan, sebesar apapun usaha kamu menahanku untuk pergi kali ini aku akan tetap pergi."
Tangan Keyla sibuk mengemaskan baju dan barang yang penting miliknya.
"Nic aku mohon tolong aku Nic..." Lirih Keyla dengan suara terbata bata.
"Kamu dimana? apa yang terjadi?"
Nicholas sudah panik dari seberang telfon.
"Nic aku cuma ada kamu yang bisa aku harapkan sekarang ini. Tolong jemput aku di rumah dan kabarin kalau sudah di hadapan pintu gerbang tidak perlu masuk." Keyla mengakhiri sambungan telepon dengan Nicholas sambil menyeret satu koper miliknya.
***
Tidak seperti biasanya rumah itu terlihat sepi. Tidak ada pelayan atau orang yang mengurus taman di halaman depan rumah.
Rumah ini memiliki banyak kenangan yang sulit dilupakan.
Sekilas menatap rumah yang akan ditinggalkannya lalu mantap untuk kembali melangkah pergi.
"Loh kok nona bawa bawa koper?" Tanya salah satu penjaga di pintu gerbang.
"Anu pak ini barang barang saya yang tidak saya pakai lagi mau dibagi untuk yang membutuhkan." Usaha Keyla untuk menutupi bahwa dirinya mau pergi dari rumah.
"Oh ya pak nanti kalau Alex nyariin saya bilang saja saya pergi tidak perlu di cari."
__ADS_1
"Memangnya nona Keyla mau kemana biar saya anterin."
"Tidak perlu pak saya akan pergi dengan teman saya."
Mobil milik Nicholas berhenti di hadapan mereka membuat Keyla was was.
"Satu lagi pak, kalau Alex bertanya dengan siapa saya pergi bilang saja saya naik taxi. Saya mohon pak jangan sampai Alex tau saya pergi dengan Nicholas." Dirinya takut jika nanti penjaga itu memberitahu dengan siapa ia pergi.
Penjaga itu mengangguk pertanda setuju. Meskipun tidak ada yg memberitahu Keyla yakin jika Alex juga akan tau kalau ia mencari tau melalui CCTV.
Nicholas turun untuk membantu Keyla mengambil koper dan memasukkan ke bagasi mobil. "Ayo masuk." Ajak Nicholas yang masih melihat Keyla berdiri mematung.
"Pak kami pergi dulu." Ujar Keyla
"Baik nona hati hati, saya tutup gerbangnya ya nona."
Keyla hanya menunjukkan senyum getirnya. Berharap jangan sampai penjaga itu mencurigai kepergiannya.
Di dalam mobil Nicholas menatap Keyla yang duduk terdiam dengan menundukkan kepala kebawah. "Kita akan pergi kemana?"
"Emmm, Terserah kamu cepat kita pergi jangan sampai Alex pulang melihat kita."
Ya, Alex tidak ada di rumah. ia pergi setelah mendapatkan telepon tadi lalu dia pergi keluar entah kemana.
Nicholas membawa mobilnya tanpa arah tujuan kemana dirinya harus membawa Keyla. Mengapa ia terlihat begitu sedih? Apa yang sedang terjadi?
"Katakan apa yang sedang terjadi?" Tanya Nicholas bingung menatap Keyla yang tidak jelas mengajak dirinya kemana.
"Tempat di mana Alex tidak akan pernah bisa menjumpaiku lagi."
"Maksud kamu."
"Nic jangan bodoh aku telah membawa koper yang pertanda aku akan pergi dari rumah ini. Banyak luka yang aku alami disini." Teriak Keyla.
Tangannya terus terusan menyeka setiap air matanya yang turun, Keyla benci kepada dirinya sendiri. Mengapa ia harus menangis? Bukankah ini yang seharusnya ia lalukan sedari dulu?
"Menangislah Key jangan di tahan. Aku memang tidak tau bagaimana rasa sakit yang kamu alami, tapi mata kamu menggambarkan dengan jelas bahwa kamu begitu terluka." Alex menyentuh pundak Keyla dengan tangan kirinya.
Tangisan Keyla tidak dapat di artikan. Begitu sakitkah? Sehingga ia harus menekan dadanya ketika menangis.
"Kita akan mencari rumah yang dekat dengan rumahku supaya aku bisa menjaga dan mengawasi kamu." Ujar Nicholas masih tenang.
"Kamu sangat baik Nic, aku akan membayar semuanya setelah aku menjual rumahku dulu."
"Jangan pikirkan itu, sekarang bagi aku kebahagiaan kamu yang paling penting." Balas Nicholas dengan nada penuh ketulusan.
Entah rasa apa yang ada di dalam diri Nicholas kepada Keyla. Cinta? Dia juga tidak mengerti. Sekarang hanya rasa ingin melindungi yang paling besar ia rasakan.
__ADS_1