
Layaknya orang yang sedang bahagia, Ana sudah membeli satu buket bunga dan juga satu keranjang buah-buahan untuk dibawa kepada Keyla. Bagi Ana hari ini adalah hari pertama untuk dirinya dan Keyla bertemu, harap-harap ini menjadi awal yang baik untuk mereka dekat dan bisa membuat hubungan Alex dan juga Keyla membaik.
Selama lebih satu tahun ini, Ana belum pernah melihat wajah Keyla. Tapi ia yakin wanita pilihan Alex tidak pernah buruk. Dengan hati yang sangat bahagia Ana memasuki ke dalam rumah sakit yang telah di kirim alamat dan juga ruangan di mana Keyla sedang di rawat. Ana benar-benar tidak sabar untuk segera berjumpa dengan wanita yang sudah menyita separuh hidup Alex.
Tidak menunggu lama, Ana membuka pintu ruang di mana Keyla sedang dirawat.
"Hai kak Alex." Ana menghampiri Alex dan menyerahkan bawaannya.
"Terimakasih Ana."
"Kak, wa--jah ka--kak ipar?" Ana menatap bingung Alex.
"Aku yang menamparnya."
"Apa?!"
Ana tidak percaya dengan pernyataan Alex, sungguh ia tidak percaya Alex tega bermain tangan kepada istrinya. Wajar jika Keyla tidak tahan dengan Alex dan memilih untuk meninggalkannya.
"Harusnya Kak Alex sadar diri, kakak udah nyakitin kakak ipar. Kak Alex gak pantas buat kakak ipar." Ana ikut marah sekaligus jijik dengan perlakuan Alex. Baginya lelaki yang suka bermain tangan memang lebih pantas untuk ditinggalkan, bukan dipertahankan.
"Aku tau aku salah."
"Kakak ipar sangat cantik," ucap Ana seraya menatap wajah Keyla yang tenang.
"Benar, Keyla sangat cantik. Bantu aku Ana untuk mendapatkan istriku kembali," pinta Alex kepada Ana, kemudian ia ikut memandang Keyla.
"Jadi Kak Alex menampar kakak ipar sampai begini?" tanya Ana, dan dijawab dengan anggukan dari Alex.
"Tolong aku Ana, kali ini aja. Aku janji deh sama kamu, setelah ini kamu boleh ambil cuti satu minggu."
"Serius?" tanya Ana senang. Dan Alex kembali menjawab dengan menggangguk.
Disela perbincangan mereka ponsel Ana mendapatkan notifikasi pesan, ia membuka layar untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan. Belum sempat Ana membuka layar ponselnya, ia kembali menatap telepon.
"Nicholas?" tanya Ana dalam hatinya.
"Kenapa gak diangkat? Udah angkat saja. Siapa tau penting." Diam-diam Alex memperhatikan Ana yang seperti orang kebingungan.
__ADS_1
Karena yang menghubunginya adalah Nicholas, Ana tidak mungkin berbicara di dalam. Ia keluar dari ruang inap Keyla untuk mengangkat telepon dari Nicholas.
"Iya Nicho, ada apa?" tanya Ana yang sudah menjawab telepon.
"Ana, aku minta tolong sama kamu untuk jujur. Apa Keyla sedang bersama Alex sekarang?" tanya Nicholas dari sambungan telepon.
"Iya," jawab Ana jujur. Tidak mungkin dirinya berbohong, toh selama ini Keyla dijaga oleh Nicholas.
"Kirim alamat di mana kalian sekarang, aku sudah mendatangi rumah Alex. Penjaga bilang belum pulang ke rumah dari tadi pagi."
"Tenang aja Nicho, di sini aku bakalan jaga kakak ipar dengan baik. S**o sorry ya, aku gak bisa kasih tau kita lagi dimana sekarang. Pokoknya Kakak ipar aman."
"Tapi-"
Belum sempat Nicholas meneruskan pertanyaannya, Ana memutuskan sambungannya. Ia tidak mau jika sampai Alex tau dirinya berbicara dengan Nicholas.
Terlebih mengenai Nicholas yang sedang mencari keberadaan Keyka.
"Ana, aku titip Keyla sebentar."
"Mau ke mana?" tanya Ana.
Tidak menunggu jawaban apa yang akan Ana jawab, Alex berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Ini lagi dimana?" tanya Keyla serak, ia sudah sadar. Ana segera mendekat.
Sambil tersenyum senang karena Ana baru mendengar suara Keyla, Ana mendekati Keyla. Bukan menjawab apa yang ditanyakan Keyla, Ana malah memeluk Keyla.
"Kamu siapa?" tanya Keyla bingung. Lalu ia memegang kepalanya yang pusing, Keyla baru ingat bahwa Alex menamparnya sampai dirinya kehilangan kesadaran.
"Kenalin aku Ana, sepupu kak Alex."
"Aw, perih." Keyla mengaduh ketika tidak sengaja memegang pipi kanannya.
"Siapa yang membawaku kemari?" tanya Keyla bingung.
"Kak Alex." jawab Ana santai dengan senyum sok polosnya.
__ADS_1
"Dia membawaku kemari? Kenapa tidak sekalian saja dia bunuh aku sampai mati."
Setelah Keyla mengucapkan seperti itu, ruangan menjadi sunyi. Ana tidak tau harus menjawab apa, ia juga mengutuk perbuatan Alex. Karena sekalipun Alex mencintai Keyla, tapi bukan dengan kekerasan. Cara Alex mendapatkan Keyla kembali salah, caranya yang Alex lakukan malah membuat Keyla semakin menjauhinya.
Ana berjalan mendekati Keyla, lalu ia menatap wajah Keyla. Siratan dari matanya terpancar jelas bahwa sekarang Keyla sedang terluka.
"Kakak ipar, aku mohon sama kakak ipar. Tolong maafkan kak Alex."
"Untuk apa?" tanya Keyla tajam. Bukan marah, tetapi ia merasa kesal dengan Ana yang ikut membela Alex dan menyuruhnya kembali lagi kepada lelaki yang sudah menyakitinya berkali-kali.
"Kita sama-sama wanita, jadi aku mengerti bagaimana perasaan kakak ipar sekarang. Aku janji. Kalau sampai kak Alex nyakitin kakak ipar sekali lagi, aku yang akan turun tangan untuk mengurus perpisahan kalian," ucap Ana penuh keyakinan.
Ana menarik nafasnya yang terdengar begitu berat. "Tolong, jangan menolaknya lagi. Kakak ipar tidak pernah tau apa saja yang sudah dilewati kak Alex selama ini. Bahkan dia terlihat seperti orang gila yang kehilangan otaknya untuk berpikir."
"Di mana dia sekarang? Aku mau bicara dengannya," ucap Keyla datar.
Apa benar yang Ana katakan? Bahkan ia sama sekali tidak melihat perubahan dari suami yang pernah ditinggalinya. Harusnya Alex bisa merubah sikap kasarnya, dan juga sikap yang suka merendahkan diri Keyla.
"Tunggu, aku hubungi kak Alex."
Ana merogoh ponselnya untuk menghubungi Alex. Dirinya juga mau agar semua masalah yang sedang dihadapi oleh Keyla dan juga Alex berlarut. Namun, baru saja Ana memencet nomor telepon Alex lelaki itu sudah kembali.
"Sayang kamu sudah sadar?" Alex berjalan dengan cepat menghampiri Keyla. Wajahnya berubah menjadi terlihat lebih bahagia, daripada sebelumnya terlihat seperti orang yang memiliki banyak beban.
"Stop!" Keyla mehan Alex yang mau memeluknya. "Jangan pernah sentuh aku lagi," kata-kata Keyla begitu tegas, ia membuat perlindungan kepada dirinya agar Alex tidak mendekatinya.
"Ada apa?"
"Aku mau kita bicara."
Sekilas Keyla menatap tajam Alex yang sedang mematung di hadapannya.
"Ana kamu tetap di sini," tahan Keyla yang menyadari Ana berjalan ke arah pintu untuk keluar.
"Gak usah, kalian-"
"Gapapa Ana, kamu jangan keluar," tukas Alex yang mengerti dengan kemauan Keyla.
__ADS_1
Perlahan Alex mendekati tempat di mana Keyla masih berbaring. Alex memberanikan diri untuk menyentuh tangan Keyla namun, dengan begitu cepat Keyla menarik tangannya lalu menatap Alex tajam yang artinya ia benar-benar sedang tidak ingin di sentuh oleh Alex.