
Tiga hari setelah insiden yang menimpa Alex dan Keyla, semua kembali normal. Meski masih ada satu orang yang belum berhasil tertangkap, tapi kini mereka bisa aman karena wanita itu tidak berbahaya untuknya.
Tapi ingat. Hukum masih tetap berlaku, dia sudah menjadi buronan dari pihak polisi.
*
Di mansion keluarga Alex.
Semua orang sangat sibuk menyiapkan ke pulangan Lisa, dan Bram. Ya, Mommy dan Daddy Alex. Nyonya besar di rumah Arnault.
Tak ada yang terkecuali, semua benar-benar bekerja keras untuk mempersiapkan acara anniversary pernikahan mereka ke-40 Tahun.
Acara yang di persiapkan memang tidaklah mewah, Alex meminta agar acara ini dibuat sederhana saja, dan hanya dihadiri oleh sahabat, keluarga dekat, dan beberapa kolega bisnis mereka.
"Maaf saya mengganggu. Tuan, Nyonya dan Tuan besar sudah sampai ke bandara. Saya akan jemput mereka dulu."
"Oh, iya pak. Ingat, jangat sampai bapak keceplosan masalah kita ya. Saya tidak mau mereka khawatir dengan semua masalah yang sudah terjadi." Alex mengingatkan.
Ya, apa yang menimpa dirinya dan Keyla tidaklah di ketahui orang tua Alex. Mereka sudah sepakat untuk merahasiakan semua, termasuk media.
"Baik Tuan," jawab pria setengah baya itu, kemudian berlalu pergi dari hadapan tuannya.
"Sayang ingat. Ini adalah kado paling spesial untuk mereka, nanti kamu jalannya harus menyamping."
"Eits. Satu lagi, kamu harus selalu dekat denganku. Awas kalau kamu berani jauh-jauh dariku, kamu tidak bisa tidur malam ini," bisik Alex pada telinga Keyla, hingga membuatnya menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan pipinya yang sudah memerah, dia dibuat malu ulah Alex.
"Kita harus melihat yang di luar lagi, kamu masih sanggup keliling gak?" tanyanya lagi seraya merangkul pinggang istrinya.
"Sanggup."
"Bagus." Alex menarik hidung Keyla, lalu menangkup wajah istrinya. Padangan mereka saling bertemu, "Nanti... Mommy sama Daddy akan kemari pas acara inti mereka dimulai, biar surprise gitu. Jadi... Mereka benar-benar enggak tau gimana tempat yang sudah di decor ini."
"Kalau gitu kita ke tempat mereka yuk," ajak Keyla yang sudah tidak sabar ingin bertemu Lisa dan juga Bram.
"Enggak bisa sayang, kamu lupa ya?" pandangannya mengarah ke perut istrinya yang semakin buncit.
__ADS_1
Keyla memanyunkan bibirnya.
"Makin cinta," ujar Alex sambil memberi kecupan pada bibir istrinya.
Keyla memukul lengan suaminya, "Malu tau."
"Malu kenapa?"
Keyla meletakkan telunjuk pada dahi Alex yang masih menatapnya dalam jarak berdekatan, "Mata kamu rabun ya? Semua orang ngeliatin kita."
Tanpa peduli dengan orang yang menatapnya dan Keyla, kalaupun iya. Alex semakin mempererat rangkulannya.
"Alex..." Keyla mencoba melepaskan dirinya.
"Gak enak dilihat sama yang lagi kerja, lepasin ah," sambungnya yang sudah berhasil melepaskan diri, ia berlari menjauh.
"Keyla, kamu jangan lari seperti itu!" bentaknya kesal, bisa-bisa wanita itu berlari dalam kondisinya sedang hamil. Alex tidak bermaksud untuk marah, ia hanya tidak ingin terjadi suatu hal dengan calon jabang bayinya.
"Kenapa harus marah-marah?" Suaranya melemah, merasa sedih akibat bentakan dari suaminya.
"Ya. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Nic harus datang, pokoknya dia harus hadir nanti malam."
Alex menatapnya, nampaknya ia sedang berpikir. Keyla, dengan sabarnya wanita itu menunggu jawaban dari suaminya sambil menyisir rambut Alex yang tidak berantakan dengan jari-jarinya.
"Ada syaratnya," katanya tiba-tiba setelah berpikir lama dan itu membuat Keyla kesal, lalu dia menghentakkan sebelah kakinya.
"Sama aja. Aku gak mau maafin kamu."
"Ceritanya ngambek nih?" goda Alex pada istrinya yang membuat muka ke arah berlawanan dengannya.
Keyla tidak menyahut Alex, ia malah melipat kedua tangan pada dadanya, dan membelakangi suaminya.
__ADS_1
Lalu, entah kenapa tiba-tiba Alex menarik tubuhnya agar kembali berbalik menghadapnya, dan secepat itu juga Keyla menutup wajah dengan kedua tangannya.
Lelaki itu bisa merasakan getaran dari tubuh istrinya, ia berusaha untuk tenang seraya membawa wanita itu ke dalam dekapannya, dan mengelus pelan punggung istrinya.
"Udah jangan nangis dong, kamu boleh undang siapapun yang kamu suka."
"Aku mau kamu yang ngundang Nic, kemari," gumamnya disela-sela tangisannya.
Bisa-bisa dia besar kepala kalau aku yang menghubunginya. Andai sekarang ini bukan karena dia menangis aku bersumpah tidak akan pernah menghubungi laki-laki sialan itu.
Batinnya menggerutu.
"Iya sayang, nanti aku bakalan hubungi dia."
"Sekarang!"
"Tapi kita janji mau lihat bagian depan tadi?"
"Cepat hubungi Nic! paksa Keyla yang sudah berhenti menangis, dan tak lagi dalam pelukan suaminya.
Alex mengambil ponsel dalam saku celananya, "Baik Nyonya..." ucapnya pasrah mengikuti kemauan istrinya.
Keyla tersenyum puas karena Alex mengabulkan permintaannya, ia masih betah berdiri di samping lelaki itu untuk menunggu, apakah Alex akan benar-benar menghubungi Nicholas atau bukan.
Keyla sangat ingin, hubungan persahabatan suaminya dan Nicholas kembali terjalin dengan baik.
.
.
.
.
Tbc
__ADS_1
Like dan komentarnya.