Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 53


__ADS_3

"Apa ini?" Keyla menatap bingung suaminya yang menyerahkan map dan gunting kepadanya.


"Surat perjanjian pernikahan kita."


Keyla mengerutkan dahinya. "Lalu?"


Alex mendengus sebal. "Ambil, dan lakukan apa yang kamu suka. Tidak ada perjanjian apa pun diantara kita, aku mau kita saling terbuka satu sama lain," jelasnya lalu ikut duduk dekat istrinya di atas tempat tidur.


Keyla menatap ragu suaminya yang masih setia menyodorkan map kepadanya. Dengan tangan sedikit bergetar ia menerimanya.


Membuka dengan pelan, membaca beberapa kata dalam hatinya lalu ia merobek kertas perjanjian konyol yang pernah mereka sepakati bersama hingga menjadi kecil-kecil dan di biarkan berjatuhan di lantai.


"Terimakasih," ujar Alex sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya.


Alex menempelkan keningnya dengan kening Keyla. Sontak Keyla langsung memejamkan matanya tatkala hidung mereka saling bersentuhan. Dengan lembut tangan Alex menekan bahu Keyla, mendorongnya perlahan agar terbaring dengan telentang dan di susul olehnya.


Ya, Alex menginginkan Keyla. Sangat. Ia benar-benar ingin melakukan dalam keadaan dirinya yang sadar.


"Aku takut..." lirik Keyla berharap mengerti dengan kondisinya yang sedang hamil. "Maaf," ujarnya lagi tanpa membukakan matanya.

__ADS_1


Pada saat itu juga, Alex mengangkat dirinya agar tidak terlalu menindih istrinya lagi seraya mengatakan, "Dokter bilang di usia kandungan yang sudah enam belas minggu sudah boleh?" Jujur ia masih berharap tapi tidak bisa memaksa.


Perlahan Keyla membuka matanya, dilihat wajah Alex yang menatapnya penuh harap. Ia mengusapkan wajah Alex dengan sebelah tangannnya dan membiarkan dirinya dalam posisi Alex mengunci dari bawahnya.


"Aku mengerti Alex, tapi sekarang ini aku takut nanti kita akan menyakitinya."


Mata Alex menatap perut istrinya, ia mengerti maksud Keyla. "Baiklah." Kini Alex ikut berbaring di samping Keyla dengan menjadikan lengannya sebagai bantal kepada Keyla.


Keyla melihat raut wajah kekecewaan dari suaminya, tak dapat di pungkiri ia juga menginginkan tapi ia belum berani.


Alex menggenggam tangan Keyla, membawa perlahan mendekati bibirnya dan menngecup lembut punggung tangannya.


"Terimakasih."


"Terimakasih untuk segalanya, terimakasih sudah menjadi istri yang kuat menghadapi sikapku, terimakasih karena sebentar lagi kamu aku menjadi Ibu yang hebat untuk anak kita," ucap Alex tulus lalu mengecup puncak kepala istrinya, membenamkan kepala Keyla pada dada bidang miliknya.


Keyla yang merasakan ketulusan dalam ucapan suaminya mulai tersedu. Ia tak kuasa menahan air matanya, terserah air matanya itu akan membasahi baju Alex ia tidak peduli.


"Jangan menangis," bisik Alex menenangkan Keyla. Ia sama sekali tidak bermaksud membuat Keyla menangis, tapi entahlah mungkin dia tersentuh dengan kata-kata darinya.

__ADS_1


Tangannya membelai lembut rambut istrinya yang sudah terisak di dekapannya.


"Sayang," panggilnya sembari mengangkat wajah istrinya. Wajah yang terlihat kacau, matanya mulai membengkak. Itulah penampilan istrinya saat ini, tanpa mengatakan apa pun lagi Alex mengecup kedua mata itu dan merengkuh kembali ke dalam dekapannya.


Sekuat apa pun Alex berusaha menghentikan Keyla ia tidak akan bisa, yang ada malah Keyla semakin terisak.


Ada baiknya Alex membiarkan wanita itu menangis dan menunggu sampai dia berhenti sendiri walaupun ia tidak suka melihat air mata istrinya.


Akhirnya Alex hanya bisa pasrah dan membiarkan begitu saja, tapi tangannya tidak berhenti membelai rambut panjang istrinya sesekali ia mencium puncak kepala istrinya.


Mungkin juga dia akan tertidur setelah itu.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Like dan komennya ya..


__ADS_2