Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 37


__ADS_3

"Selamat malam sayang..." Sapa suara dari belakang Keyla yang sedang mengaduk susu.


Suara yang begitu familiar di telinganya, suara yang sudah satu bulan tidak pernah di dengar lagi.


Prang...


Gelas yang ada di tangan Keyla terjatuh dan pecah. Keyla begitu syok dengan kehadiran Alex di hadapannya.


"A-A---Alex." Bibir Keyla bergetar hebat, tak kalah dengan tubuhnya yang ikut bergetar. Wajahnya sudah pucat pasi melihat Alex yang berdiri dengan tegap di hadapannya. Bagaimana Alex bisa masuk ke dalam? Sedangkan pintu sudah di kunci.


"Susu hamil?" Mata Alex tertuju pada kotak susu di belakang Keyla.


"Untuk apa?" Ia kembali bertanya. Alex menyentuh pundak Keyla tapi dengan secepat kilat Keyla menepis tangan tangan Alex.


"Jawab aku Keyla?!" Bentak Alex dengan mengguncangkan bagu Keyla dengan kuat.


Ingin sekali Keyla menjawab apa yang sedang ditanyakan Alex. Tapi lidahnya seperti kelu.


"Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam?" Keyla berusaha untuk tenang, bahkan ia tidak mau melihat wajah Alex.


"Itu sangat mudah untukku sayang. Sekarang jawab aku itu susu hamil untuk apa?"


"Bukan urusan kamu."


Alex sungguh geram dengan sikap Keyla. Ia bahkan berucap dengan tenang tanpa menatap wajahnya sedikitpun.


"Pergi dari sini sekarang Alex! Atau aku akan teriak kamu sudah masuk ke rumah tanpa izin." Ucap Keyla tenang. Bukan tenang dalam arti Keyla tidak marah, tapi untuk apa dirinya marah. Semarah apapun Keyla yang ada malah membuat Alex semakin menjadi-jadi.


Takut? Sama sekali tidak. Tidak ada yang perlu di takutkan. Alex masih tetap suaminya, tak mungkin Alex tega membunuh Keyla. Jadi lebih baik bersikap tenang, dengan dirinya bersikap tenang Alex pasti akan merasakan bahwa Keyla bukanlah wanita lemah yang dulu dia kenal, wanita bodoh yang mau di sakiti.


"Aku tidak akan pergi! Tegas Alex dengan menatap Keyla, sedangkan Keyla sama sekali tidak melirik kepadanya.


"Satukan kembali gelas yang sudah pecah tadi, buat menjadi utuh seperti semula!"


"Itu tidak mungkin Keyla!" Sontak Alex menarik wajah Keyla agar menghadap wajahnya. Lagi dan lagi Keyla lebih memilih untuk menutup rapat kedua matanya.


"Tatap mata aku Key!"


"Aku tidak sudi!" Sergah Keyla.

__ADS_1


"Beri aku alasan."


"Kau bertanya alasan? Baik dengarkan aku baik-baik. Pernikahan kita sudah berakhir."


"Siapa yang sudah meminta cerai?" Tanya Alex yang sudah melepaskan Keyla. Bahkan dirinya sudah mundur dari hadapan Keyla dengan menyisakan ruang tak lebih satu meter.


"Aku." Jawab Keyla lantang dengan sorot mata tajam. Ia memaksa untuk melihat Alex sekilas untuk memberi pemahaman bahwa ia bisa hidup tanpa Alex yang menyakiti dirinya.


"Kamu? Aku tidak mau. Perceraian tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak tidak setuju." Balas Alex yang ikut santai, ia berusaha untuk tidak lagi melibatkan emosinya.


Menghadapi seorang Keyla sekarang ini tidaklah mudah seperti menghadapi Keyla dulu. Keyla sekarang terlihat begitu tegas dengan pendiriannya. Tidak lagi terlihat air mata ketika berbicara, tidak lagi takut dalam menghadapi Alex.


"Ayo kita pulang, disini tempatnya terlihat sempit rumah kita begitu luas. Aku tidak nyaman dengan rumah seperti ini." Mata Alex menyoroti sekeliling ruangan dapur tempat di mana dirinya dan Keyla berada.


"Aku nyaman."


Alex menggidikkan bahunya. "Oh, aku lupa. Dulu kamu juga tinggal di tempat yang tak kalah jauh berbeda dengan ini, jadi ya wajar kamu nyaman." Ujarnya dengan nada mengejek tapi tenang.


"Saya tidak butuh pendapat dari anda Tuan Alex yang terhormat." Desis Keyla yang melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi dari hadapan Alex.


Namun dengan cepat Alex menahan Keyla agar tidak pergi. "Kanapa? Bukankah benar seperti itu sayang..."


"Berhenti menyebutku dengan kata-kata itu." Masih dengan sorot mata tajam dan juga dengan kedua tangannya terkepal kuat.


"Kenapa?"


"Kamu tidak berhak!" Seru Keyla yang sudah berusaha agar kuat menghadapi Alex.


"Aku berhak, aku ini suami kamu." Alex menarik Keyla agar berbalik menghadap dirinya.


"Ck. Aku tidak sudi, kita hanya sebatas suami istri di atas lembaran putih di atas hitam yang terikat karena pernikahan kontrak! Dan sebentar lagi itu akan berakhir." Teriak Keyla dengan suara begitu keras.


Plakk...


Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat di pipi mulus Keyla. Tanpa bisa dicegah tubuh Keyla langsung lunglai, namun secepat kilat Alex menangkap tubuh Keyla agar tidak terjatuh.


"Sayang... Key... Sayang kamu kenapa? Bangun Keyla!" Alex yang mulai panik melihat tubuh Keyla terjatuh dengan lemah. Keyla pingsan, ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat.


"Sayang bangun..." Alex benar-benar panik. Tidak menunggu lama, ia segera membopong Keyla untuk di bawa keluar.

__ADS_1


"Cepat buka pintu belakang!!" Perintah Alex kepada sopirnya. Dan sopirnya berlari dengan cepat membukakan pintu untuk Alex.


"Cepat ke rumah sakit terdekat."


Sopir itu kembali mengikuti arahan dari tuannya, dengan begitu cepat mobil itu melaju menyelusuri jalan. Alex yang di belakang tak henti-henginya mengutuki dirinya sendiri, semua di luar kendali.


Mereka sudah sampai di rumah sakit, dengan begitu cepat Alex kembali menggendong istrinya dan membawa masuk keruang UGD.


Baik dokter maupun perawat mereka langsung menghampiri Alex dan membantunya.


"Dokter tolong istri saya, dia pingsang."


"Baik pak mohon tunggu di luar."


Setelah berada di luar Alex malah mondar-mandir tidak jelas. Ia sangat takut jika sampai terjadi sesuatu dengan Keyla, maka ia tidak bisa memaafkan dirinya.


Selang lima belas menit, dokter yang memeriksa Keyla keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? Dia baik-baik saja bukan? Apa dia sudah sadar?"


Dokter itu tersenyum melihat Alex yang begitu khawatir dengan istrinya. Baru saja ia keluar, Alex malah menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.


"Mari ikut saya ke ruangan." Dokter itu berjalan lebih dulu.


Mau tidak mau Alex mengikutinya, ia kesal dengan sang dokter yang tidak memberinya jawaban mengenai Keyla. Tetapi mengingat dokter itu keluar dengan tersenyum, Alex bisa memastikan bahwa Keyla baik-baik saja.


"Silahkan duduk." Dokter mempersilahkan Alex yang ada diruangnya.


"Sebenarnya istri anda tidak apa-apa. Apa anda melakukan kekerasan?"


"Saya... Katakan saja bagaimana istri saya sekarang?!" Alex mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Hati-hati dengan kekerasan bisa saja anda di tuntut dengan pembuktian hasil visum."


Jawaban yang bukan dari pertanyaannya. Alex tidak suka dengan orang yang.


"Katakan bagaimana istri saya sekarang." Desis Alex tajam.


"Baiklah, mengingat kondisi istri anda sedang hamil. Apalagi di masa kehamilannya yang masih sangat muda, baiknya anda bersikap lembut kepadanya."

__ADS_1


Hamil? Apa dia tidak salah mendengar, berarti Keyla benar-benar hamil. Susu tadi, ya. Susu hamil, jawaban untuk apa Keyla susu hamil adalah untuk dirinya yang sedang hamil.


__ADS_2