Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 41


__ADS_3

Pagi ini, dimana Keyla sudah dibolehkan keluar dari rumah sakit. Tapi tidak ada yang berubah dari sikapnya kepada Alex, ia terus mendiami Alex sepanjang hari. Begitu juga dengan Alex, ia tidak bisa memaksa lebih. Jika dirinya memaksa Keyla untuk berbicara yang ada bukan semakin baik, melainkan berujung perdebatan. Bahkan, Keyla tidak mau Alex mendekatinya ia hanya mau bersama Ana.


"Kamu pulang saja bareng kita, nanti mobil kamu aku suruh bawa pulang sama sopir aku." Alex mengatakan kepada Ana, lalu Ana menjawab dengan anggukan kepala tanda ia mengerti dengan kondisi saat ini.


"Kita?" tanya Keyla sinis. "Aku gak mau," putusnya, lalu ia kembali diam seribu bahasa.


"Kakak ipar aku mohon," lirih Ana. "Apa kakak ipar gak kasihan sama kak Alex?"


Keyla mengerti dengan maksud Ana, tentu saja pertanyaannya mengarah dengan kejadian Alex yang berani melukai dirinya sendiri.


"Beri aku kesempatan Key..."


"Ini yang terakhir," sela Keyla yang menerima ajakan suaminya.


Alex tersenyum bahagia, kali ini ia bersungguh-sungguh tidak akan menyia-nyiakan kesempatanya. Sudah cukup rasanya ia tersiksa selama ini, dan tentu saja Alex akan menjaga Keyla sepenuh hatinya.


***


"Bi tolong antarkan saya ke kamar saya yang dulu," ujar Keyla yang baru sampai di rumah, kepulangannya sudah di tunggu oleh beberapa pelayan. Dan tentu saja orang yang di minta Keyla untuk mengantarkannya adalah Bi Tuti.


"Maksud kamu apa? Aku gak mau kita pisah kamar."


"Kak Alex, jangan memulai!" tegur Ana yang meminta pengertian dengan kondisi sekarang.


Akhirnya Alex mengalah, ia membiarkan istrinya pergi ke kamar yang dimintanya.


"Ikuti saja dulu kemauannya, sekarang kak Alex lebih baik mengalah demi kakak ipar."


"Aku tau," balas Alex singkat seraya melangkah pergi meninggalkan Ana sendiri.


Apa yang Ana katakan memang benar, sekarang ia harus menuruti apapun kemauannya Keyla. Ya, walaupun Keyla terus menjaga jarak dengan dirinya, Alex yakin ini hanya sementara. Pastinya ia yakin bisa merebut kembali hati istrinya.


"Bi, tolong tinggalkan kami." Alex mendatangi kamar Keyla, ia menyuruh Bi Tuti untuk keluar.


"Baik Tuan."

__ADS_1


"Jangan tutup pintunya!" seru Keyla kepada Bi Tuti.


Alex melirik Keyla sekilas, ia tau sekarang Keyla sedang menghindarinya namun bukan dengan cara mengusirnya.


"Aw." Alex mengaduh kesakitan, ia mengangkat sebelah tangannya yang sakit.


Bukannya mendapat perhatian, Alex malah dicuekin. Keyla bahkan tidak melirik sedikitpun terhadap dirinya.


Ya itu karena Keyla tau, ia tau bahwa Alex sedang berpura-pura sakit. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba dia sudah kesakitan. Apalagi kalau bukan untuk mencari perhatian dari dirinya.


"Kamu benar-benar berubah Key."


"Ya. Kamu mau tau kenapa aku bisa seperti ini?" tanya Keyla tanpa sedikitpun memandang Alex.


"Itu karena ia sering disakiti, semua wanita jika sering disakiti akan berubah. Secinta apapun, sesayang apapun jika sudah mengenai hati pasti semua orang akan berubah Alex. Harusnya kamu sadar, kamu tidak perlu bertanya lagi Alex," jelas Keyla menyuarakan isi hatinya.


Rasanya ingin sekali ia menumpahkan segala amarah, dan juga rasa kecewanya selama ini dengan menangis di pelukan Alex. Mejambak rambutnya, memukul dadanya supaya ia bisa merasakat sedikit rasa sakit yang selama ini dirinya pendam.


"Keyla, aku tau aku salah. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita bisa memulai semua ini dari awal, kamu berhak bahagia. Aku juga mau bahagia, dan kebahagianku itu kamu Key." Alex tak kuasa menahan tangisnya, selama ini ia hampir tidak pernah mengeluarkan air matanya. Tetapi saat ini air matanya lolos begitu saja, ia membiarkan pipinya basah.


Siapa sangka, Keyla tidak melakukan penolakan apapun. Tangisannya pecah ketika Alex mendekapnya, begitu juga dengan Alex, ia tak kuasa membendung air matanya.


"Kamu jahat Alex, kamu jahat. Aku gak mau maafin kamu," gumam Keyla disela-sela tangiskan. Tangannya dengan kuat memukul dada bidang milik suaminya.


Mereka sama-sama larut dalam tangisan mereka masing-masing, sesekali Alex mengecup pucuk kepala Keyla penuh cinta. ini adalah moment yang sangat ia tunggu-tunggu. Ia bahkan tidak peduli dengan pukulan-pukulan dari Keyla, sakit yang dirasakannya belum sebanding dengan rasa sakit yang Keyla rasakan selama ini.


"Pukul saja sepuas kamu, bila perlu aku bisa mengambil pisau. Kamu bisa menyayat seluruh tubuhku."


Keyla menggelengkan kepalanya. "Bagaimana ji--jika kamu ma--ti?" tanyanya terisak.


"Itu pantas untuk lelaki seperti-"


"Nanti anak kita akan menjadi anak yatim kalau aku membunuhmu, aku gak mau itu terjadi," potong Keyla yang masih terisak. Ia juga bukan wanita bodoh yang mau mengikuti permintaan suaminya.


Seperti orang yang baru mengingat suatu hal penting, Alex melepaskan pelukannya. Dia menatap bola mata Keyla dengan jarak yang begitu dekat, Alex sengaja menempelkan jidatnya dengan jidat Keyla.

__ADS_1


"J--jadi ini benar anakku?" tanya Alex dengan suara bergetar dan balas anggukan dari Keyla yang artinya ia membenarkan pertanyaan Alex. "Kenapa kamu tidak memberitahu suami bodohmu ini dari awal?"


"Aku tidak tau harus memulai darimana, sedangkan di malam itu kamu mabuk. Kamu lagi mabuk berat. Bahkan ingin sekali rasanya aku menuntut kamu setelah kejadian itu, tapi mana mungkin pihak kepolisian menerima tuntutanku. Malah yang ada mereka akan menertawaiku karena membuat laporan yang aneh."


"Aku percaya sama kamu sayang."


"Asal kamu tau, setelah kejadian itu aku benar-benar terpuruk. Akan tetapi, aku meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apapun hanya dengan satu kali. Tapi lagi-lagi aku salah, ternyata aku hamil. Waktu itu aku kembali stres memikirkan bagaimana nasib anak ini," jelas Keyla dengan mengusap perutnya. Butiran-butiran kristal terus membasahi wajahnya, ia tidak peduli apa dirinya akan terlihat jelek atau tidak.


Alex terdiam mendengar apa yang di jelaskan Keyla.


"Kamu tau? Untungnya Almira selalu menguatkanku. Dia gadis yang sangat baik, bahkan dia mau merawa-"


"Ssstt." Alex menempelkan satu jemarinya di bibir istrinya. "Jangan dilanjutkan, aku berjanji akan menebus segala dosaku dengan membahagiakan kalian."


"Terimakasih." Keyla kembali menghamburkan diri ke dalam pelukan Alex, tangisannya juga ikut pecah. Rasanya bahagia itu sangat sederhana.


Tanpa mereka sadari, satu pasang mata menatap mereka penuh kehangatan. Air matanya juga ikut terjatuh melihat pasangan yang saling berpelukan dihadapannya. Yang sedang mengamati Keyla dan juga Alex adalah Ana. Ya, Ia bahkan seperti bisa merasakan bagaimana kebahagiaan pasangan yang sedang berada dihadapannya.


Sesekali tangannya juga ikut menyeka air matanya yang terus mengalir.


.


.


.


.


.


.


Di tunggu Like, komen dan vote.


Semoga terhibur buat kalian semua, ily.😘

__ADS_1


__ADS_2