Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 32


__ADS_3

Sang mentari kembali menyapa, dengan memancarkan cahayanya yang menghangatkan seluruh isi bumi. Setiap kehangatan yang di pancarkan merupakan ke damain bagi seluruh insani. Dan setiap kehadirannya adalah anugerah bagi manusia untuk memulai hari baru setelah sang malam pergi.


"Mbak bangun." Panggil Almira kepada Keyla yang masih dalam balutan selimut.


"Mbak Key cepat bangun, katanya mau buat donat. Cepat mbak, aku harus ke kampus jam 10." Almira menarik selimut agar Keyla terbangun.


Ya, hari ini mereka berencana untuk membuat donat. Sesuai dengan rencana, Almira bangun lebih cepat lalu membangunkan Keyla. Almira sudah mengatur waktu agar tidak telat ke kampus, jadi dia sengaja membangunkan Keyla jam 7 pagi.


Karena tidak ingin rencana mereka batal, akhirnya Keyla membuka matanya dengan rasa malas. Ia bangun dan duduk di tepi ranjangnya, sambil mengikat rambutnya.


"Bahannya sudah siap semuakan?" Tanya Keyla memastikan agar Almira tidak perlu keluar lagi.


"Sudah." Jawab Almira dengan mengacungkan jempolnya.


Namun, perasaan seperti mual menghampiri Keyla yang baru berdiri. Karena takut jika mengeluarkan isi di kamar, Keyla berlari ke kamar mandi dan memuntahkan di sana.


"Mbak kenapa?" Almira terlihat panik, ia berdiri di belakang Keyla dan membantu menggosok punggung Keyla yang sedang muntah di wastafel.


Masih dalam keadaan mual, Keyla terus mengeluarkan isi perutnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Almira. Tidak tau apa yang salah dengan perutnya, dirinya merasa tidak pernah salah makan sehingga harus begini.


"Bantuin aku ke kasur." Ucap Keyla kepada Almira yang masih setia berdiri menunggu dirinya.


Almira memegang tangan Keyla untuk membantunya kembali ketempat tidur. Ia melihat wajah Keyla begitu pucat, dengan tubuh yang lemas. Setelah membaringkan tubuh Keyla, Almira menarik selimut agar menutupi setengah badan Keyla.


"Tunggu sebentar mbak, aku mau buat teh mint."

__ADS_1


Almira sudah terbiasa dalam merawat orang sakit, jadi dia tau apa yang harus di lakukan. Karena memang sebelumnya ia juga pernah merawat neneknya yang baru meninggal lima bulan yang lalu.


Keyla berbaring lemah, ia merasa gelisah tidak jelas. Apa yang membuatnya sampai begitu? Seingatnya dia akan begitu jika mabuk perjalanan atau ada makanan yang tidak cocok dengan perutnya.


Segelas teh hangat rasa mint sudah dibawa Almira. Ia menghampiri Keyla yang sedang istirahat. "Mbak bangun, ini tehnya minum dulu."


"Makasih, letakin saja dulu di situ." Gumam Keyla dengan lesu. Kepalanya terasa begitu pusing, syukur mualnya sudah hilang.


"Minum dulu mbak biar bisa sarapan."


"Bantuin, kepalaku pusing." Lirih Keyla, mungkin baru kali ini dia tidak mau berdebat dengan Almira.


"Apa perlu kita ke dokter?" Tanya Almira. Ia kasihan melihat Keyla yang terlihat pucat dan lemas.


"Dih sok kuat. Eh, kalo kita ke dokter sama dengan aku nyerahin mbak Keyla ke suami mbak yang jahat itu." Ujar Almira sambil membulatkan matanya, ia baru mengingat tentang suami Keyla yang sedang mencari keberadaan istrinya.


"Hadeh." Almira menepuk jidatnya. "Ribet benar. Aku hubungi kak Nicho aja ya."


"Jangan!" Keyla menyentak tangan Almira. Ia tidak mau harus merepotkan Nicholas, sedangkan baru dua hari yang lalu Nicholas baru menjenguk mereka.


"Terus gimana dong mbak?" Tanya Almira sambil menatap bingung Keyla.


"Tidak usah khawatir, hari ini kita batalkan rencana kita. Tolong ambilin roti sama susu mbak laper." Ucap Keyla dengan memasang tampang sok kuat. Yang sebenarnya, dia sudah kehabisan tenaga setelah muntah barusan.


"Pokoknya aku gak mau kuliah hari ini." Tagas Almira sambil berjalan, ia tidak tega harus meninggalkan Keyla sendirian. Bagaimana jika sampai dia kenapa-kenapa? Sedangkan Keyla hanya sendiri di rumah.

__ADS_1


Setelah Almira keluar, Keyla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya merasa, meskipun tidak lagi memiliki orang tua, tapi dirinya masih di anugerahi orang-orang seperti Almira yang sangat tulus membantunya, bahkan merawat dirinya sakit.


***


Seperti yang sudah Almira katakan, dirinya tidak akan masuk kuliah hari ini. Almira sengaja meninggalkan mata kuliahnya hari ini hanya untuk menjaga Keyla.


Almira benar-benar menjaga Keyla seharian. Bahkan, tidak mengerjakan apapun. Makanan saja di pesan karena tidak mau jauh-jauh dari Keyla yang kerap kali bolak-balik dari kamar mandi hanya untuk memuntahkan makanan yang telah masuk kedalam perutnya.


"Mbak Key... Mbak sudah Anu sama suami mbak belum? Tanya Almira sambil menggarukkan tengkuknya.


Dia memberanikan diri untuk menanyakan hal pribadi kepada Keyla. Sedari tadi Almira merasa Aneh dengan kondisi Keyla.


"Apaan sih?"


"Aish.. Serius Mbak! Soalnya mbak muntah-muntah terus sih."


Keyla memiringkan kepalanya menghadap Almira. Apa yang di katakan Almira ada benarnya, tapi apakah mungkin? Jika itu benar bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Alex.


"Aku tidak tau, tolong belikan test pack. Dan jangan kabari Nic."


Keyla menyuruh Almira untuk membelikan alat test. Hatinya sudah semakin gelisah, padahal Dirinya belum juga melalukan test.


"Oke, aku tinggal sebentar ya mbak."


Setelah Almira pergi, Keyla hanya bisa duduk terdiam memikirkan nasibnya kedepan. Jika dirinya benar-benar hamil, maka dia harus kuat menerima kenyataan ia akan memiliki anak yang tidak di akui ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2