Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 64


__ADS_3

Pukul 00.00 Keyla belum juga bisa memejamkan matanya. Entah sudah berapa kali ia mencoba untuk mengubah posisi tidurnya. Kadang-kadang memiringkan ke kiri, dan ke kanan tetap saja tidak ada yang nyaman untuknya. Sepertinya di usia kehamilannya yang menginjak usia ke-38 minggu, semuanya menjadi serba susah. Hari demi hari berlalu begitu cepat, banyak hal sudah ia lalui hingga berada di titik sekarang ini.


Keyla menyibakkan selimut yang menutupi setengah badannya, dan menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Sambil mengucirkan rambutnya, ia turun berjalan keluar kamar. Satu persatu langkah kakinya menuju ruang kerja suaminya, lelaki itu sedikit berubah menjadi seorang workaholic beberapa minggu ini. Pintu yang tidak tertutup membuat Keyla mudah untuk masuk ke dalam. Di sana, ia bisa melihat dengan jelas sosok suaminya sedang menatap layar monitor di hadapanya, dan juga setumpukkan kertas yang tidak ia mengerti.


"Ada yang bisa aku bantu?" Keyla menyadarkan suaminya, namun lelaki itu masih tak bergeming ditempatnya.


"Sayang, aku gak bisa tidur," regeknya lagi, karena tidak tahan dengan Alex mencuekinya ia mendekati lelaki itu. Mengalungkan tangannya dari belakang lehernya.


Alex menghela napas beratnya.


"Karena baby kita lagi?"


Ia juga tau masalah yang sedang dialami istrinya, meski merasa kasihan dengan kondisi Keyla, tidak mungkin juga ia memindahkan bayi dalam perut Keyla ke dalam perutnya.


"Kapan siapnya?"


"Ini udah mau siap, makanya jangan di ganggu dulu. Berbaring aja dulu di sofa."


Keyla melepas kaitan lengannya.


"Aku mau dekat kamu." Ia berjalan mendekati meja tempat Alex bekerja dan menyandarkan dirinya di sana agar bisa melihat wajah tampan suaminya.


"Iya. Tapi kamu diam dulu, jangan gangguin aku."


"Hmm."


***

__ADS_1


Berselang satu jam, Alex baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia melihat Keyla masih betah duduk di sofa menunggunya. Herannya, matanya masih begitu segar sudah larut begini.


"Yang doyan begadang itu, Mamanya atau anaknya sih?" tanya Alex seraya menutup beberapa berkas di hadapanya. Setelah siap ia berjalan ke arah Keyla. Dengan sigap, Alex meraih tubuh yang tak lagi kurus itu, dan menggendongnya secara bridal style.


"Kamu juga."


"Aduh, gak bisa dibiarkan kalau begini."


"Apanya?" Keyla mengerutkan dahinya. "Aku mau turun," pintanya sembari memukul kecil lengan suaminya, lelaki itu menurunkannya.


Alex mengapit lengan istrinya agar bisa berjalan sejajar. "Kita gak bisa begadang sekeluarga begini."


"Tau gak? Yang sering begadang itu kamu. Aku itu merasa tidak diperhatikan akhir-akhir ini, kamu selalu saja sibuk dengan semua pekerjaanmu. Seharian kamu ke kantor, pulang dari kantor kamu istirahat sebentar, terus lanjut lagi sampai tengah malam. Aku udah kayak gak ada suami tau."


Alex terbungkam, tidak memiliki jawaban.


Keyla mulai emosi jiwa dengan keadaan suaminya, kesedihannya terpancar dari sorot matanya. Ia merasa waktunya dengan Alex sudah terbagi begitu banyak kepada pekerjaan dibandingkan dirinya.


Semua yang Keyla katakan memang benar, akhir-akhir ini ia menjadi lebih sibuk karena banyak sekali perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya. Semenjak perusahaan ia pimpin semua terus berkembang pesat.


"satu minggu lagi aku akan lahiran, aku harap kamu tidak sesibuk sekarang ini." Keyla meninggalkan Alex yang masih mematung ditempatnya.


Tangannya ingin meraih pergelangan Keyla, tetapi ia kalah cepat dengan wanita itu yang terus berjalan membelakanginya.


Dari belakang, Alex terus memperhatikan langkah kaki istrinya yang sedang hamil tua.


Dalam masa-masa seperti ini, harusnya ia bisa mengerti, bahwa istrinya membutuhkannya.

__ADS_1


Sambil terus mengikutinya dari belakang, Alex memperhatikan betapa susahnya wanita itu berjalan.


"Sayang, aku minta maaf ya," gumamnya dari belakang. Keyla berhenti dan berbalik badan, lalu disusul Alex. Kedua tangannya meraih tengkuk Keyla dan membenamkan di dada bidang miliknya.


"Waktu aku lahiran nanti, aku mau kamu temanin aku," pinta Keyla tanpa ingin ditolak.


"Aku janji, aku bakalan temanin kamu."


"Hm, aku juga mau kamu tepati janji kamu itu."


"I promise," ujarnya singkat tapi penuh keyakinan untuk menempati janjinya.


"We love you Dady." Keyla menengadah wajahnya menatap muka suaminya, yang kemudian mendapat hadiah kecupan singkat di bibirnya.


Alex menyapu alis Keyla dengan jempolnya. "Daddy juga sayang kalian." Lalu ia sedikit berjongkok untuk mengecup perut istrinya.


"Mau digendong ke kamar gak?" tawarnya lagi sambil terus memandangi wajah istrinya yang tidak lagi masam seperti tadi.


Keyla memberi isyarat dengan mengangguk kepalanya, dan dengan senang hati Alex mengangkat tubuh istrinya yang tak lagi seringan dulu ke dalam gendongannya. Begitu juga dengan Keyla, ia langsung mengalungkan tangannya pada leher Alex, lalu lelaki membawanya ke dalam kamar mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Semoga cerita ini kelar bulan ini, amin.


__ADS_2