
Ruang keluarga yang biasanya sepi, malam ini jadi ramai. Ana dan keluarganya juga ikut hadir. Kehangatan dari kedua anggota itu terlihat begitu jelas dari topik pembicaraan mereka mengalir, dan dipenuhi canda tawa.
Keyla yang berada di tengah keluarga suaminya pun merasa senang, mereka semua bahkan lebih sering mengajak dirinya berbicara.
Bahkan mereka yang sesama wanita juga saling bercerita bagaimana mereka hamil dulu, dan beruntungnya memiliki sosok laki-laki yang mendampingi mereka. Kecuali Ana, wanita itu hanya diam dan bermain ponsel tapi sesekali juga ikut menimbrung jika ada topik yang nyaman.
"Dari tadi kamu asik main handphone aja, ngapain sih?" Alex menarik ponsel Ana yang duduk tak jauh dari dirinya, dan sontak saja Ana berusaha untuk mengambil kembali ponselnya. Sedangkan orangtua mereka hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka yang kenak-kanakan.
"Kak Alex, ih ngapain sih! Nyebelin bangat jadi orang. Cepat balikin handphone aku," rengek Ana yang terus menarik baju lelaki yang sudah mengganggu dirinya.
"Tidak bisa!" bantah Alex dengan cepat.
Laki-laki itu sudah dari tadi geram dengan Ana, ia tidak suka jika sedang berkumpul bersama ada yang asik sendirian. Apalagi bermain ponsel, itu sangat tidak menghargai.
"Pah, lihat Kak Alex nih." Ana memandangi Papanya sambil menunjuk Alex. "Kakak Ipar, lihat suami Kakak Ipar ini selalu membuatku kesal," tambahnya yang kemudian duduk sambil memeluk lengan Keyla.
"Aku sangat malas mengurus kalian berdua."
"Papa setuju dengan Alex," imbuh Papa Ana.
"Kamu sudah dewasa. Harusnya kamu bisa tinggalkan handphone kamu dulu, kita bisa berkumpul seperti ini sangat jarang. Jadi ke sampingkan dulu hal yang tidak perlu, kecuali urgent," tambahnya lagi hingga membuat anaknya mencabikkan bibir akibat ia kesal karena tidak ada yang membelanya.
Alex menyodorkan kembali ponsel milik Ana. "Nih simpan."
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat.
"Ana, Auntie mau tanya sesuatu sama kamu."
"Apa auntie, masalah kerjaan?" tanyanya sambil meraih gelas yang berisi menimuman.
"Kapan kamu melanjutkan pertunanganmu dengan Nicho?"
Ana terkesiap dengan pertanya dari Lisa langsung tersendak karena minuman yang sedang diminumnya.
"Minumnya pelan-pelan sayang," tegur Lisa.
"Mereka sudah lama memutuskan untuk tidak lagi berhubungan, sepertinya laki-laki itu juga sedang menjalin hubungan dengan wanita lain, Sa." Mama Ana berujar dengan nada ketidak sukaan kepada Nicholas.
"Auntie tidak tau, maaf ya sudah menanyakan hal itu," ujar Lisa kala melihat raut wajah sedih Ana. Dirinya memang tidak salah, karena memang ia tidak pernah tau mengenai putusnya hubungan Ana dan Nicholas.
Apa semuanya ada sangkut paut dengan awal mula kedekatan mereka?
Mengingat waktu pertengkarannya dulu, Alex juga pernah membawa-bawa nama Ana, apa yang sebenarnya terjadi?
Entahlah, Keyla menahan diri agar tidak bertanya lebih dulu. Apalagi melihat raut wajah kesedihan Ana, dan nada ketidak sukaan Mama Ana, Keyla mengurungkan niatnya untuk bertanya sekarang.
"Tidak masalah Lisa, anakku lebih baik tidak perlu berhubungan lagi dengan laki-laki sialan seperti itu." Papa Ana juga ikut bersuara dengan nada ketidak sukaan kepada Nicholas sekaligus tidak setuju lagi jika mereka dekat.
__ADS_1
Ana hanya menundukkan kepalanya di samping Keyla. Sedangkan pikiran Keyla dipenuhi dengan tanda tanya besar mengenai,
apa hubungan Nicholas dan Ana sebenarnya sampai keluarga Ana begitu tidak suka kepada Nicholas.
"Bukankah mereka berencana akan bertunangan?" Bram ikut melontarkan pertanyaan, suaranya terdengar jelas bahwa ia ingin tau permasalahan yang sedang terjadi antara keponakannya dan juga Nicholas.
"Sekalipun laki-laki itu datang dan mengemis lagi, aku tidak akan sudi memiliki menantu seperti dia," jawab Mama Ana.
"Diam!" bentak Alex, ia tidak ingin Ana harus membuka lagi luka lama.
"Sudah-sudah! Aku tidak mau mengungkit masalah lama. Sebaiknya aku pulang saja." Ana bangkit seraya meraih sling bag untuk pergi, dengan begitu orang tuanya juga akan ikut. Ia tidak mau semua orang membenci Nicholas, baginya Nicholas tetap laki-laki yang baik.
Rasa penasaran Keyla semakin besar, apa selama ini laki-laki itu tidak sama seperti yang terlihat?
Ia juga tidak mau akan ada korban lagi setelah Ana, apalagi jika terjadi kepada Almira. Keyla tidak akan pernah memaafkan Nicholas.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.