Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 35


__ADS_3

Hari ini Almira kembali masuk ke kampus seperti biasa. Keyla meminta Almira agar tidak perlu khawatir dengan kondisi dirinya. Karena semua biasa terjadi pada ibu hamil, jadi Keyla tidak pernah mengizinkan lagi Almira libur kuliah hanya karena dirinya.


"Mbak aku berangkat jaga diri baik-baik. Itu handphone baru yang di kasih sama kak Nicho di pakek. Kalo ada apa-apa cepat kabarin kami, di situ sudah ada nomor kita semua. Ingat kalo ada apa-apa segera hubungi kami." Protes Almira yang over protektif.


"Gua berangkat dulu ya, sayang calon suami gua harus nunggu lama." Lanjut Almira dengan berbisik di telingat Keyla.


Mendengar apa yang Almira ucapkan yang ada malah membuat Keyla terkekeh geli. Bagaimana tidak, setiap Nicholas mengunjungi mereka Almira selalu bersikap aneh.


"Kita berangkat dulu ya." Ucap Nicholas dan Almira barengan.


Keyla membalas mereka dengan melambaikan tangan dan senyuman manisnya.


"Udah jalan." Ujar Almira dengan tersenyum kikuk. Wajar saja karena baru kali ini dirinya bersama Nicholas di dalam mobil hanya berdua. Pagi ini Nicholas kembali mengunjungi Keyla untuk menanyakan keputusannya mengenai Alex. Namun ketika mengetahui Almira yang ketinggalan Bus, dengan senang hati Nicholas menawarkan diri untuk mengantarkannya.


"Nanti ada kemana?"


"Huh?" Almira menolehkan kepalanya ke arah Nicholas karena pertanyaanya kurang jelas di telinganya.


"Nanti ada kemana setelah pulang dari kampus?"


"Pulang ke rumah, sayang bum--" Almira menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hampir saja dirinya keceplosan mengenai Keyla. "Deh mulut ini kayak ember aja." Almira melanjutkan dengan mengutuk dirinya dalam hati.


"Bum apa yang kamu sayang, kok gak di lanjutin?


"Bum itu... e... itu kak."


Skatmat. Almira tidak bisa memberi jawaban, ditambah lagi dengan Nicholas yang memandangnya untuk menemukan jawaban.


"Kim Bum kak, ha Kim Bum. Jadi aku tuh lagi nonton drama yang di bintangin sama Kim Bum. Sayang kalo di lewatkan."


"Serius?" Nicholas mengernyitkan, sebelah alisnya terangkat.

__ADS_1


"Kok kamu gak pernah kasih tau kakak kalo kamu itu suka korea."


Deg...


Rasanya jantung Almira seperti ingin meloncat keluar dari dadanya di tambah lagi dengan pipinya bersemu merah.


"Nanti pulang kabarin ya, Kak Nicho jemput kamu." Kata Nicholas sembari menepikan mobilnya yang sudah sampai di depan kampus Almira.


"Gak ngerepotin?"


"Sama sekali tidak Tuan Putri."


Blush...


Mendengar apa yang baru saja Nicholas katakan membuat wajah Almira kembali bersemu, dan lagi-lagi Almira harus menahan agar jantungnya tidak copot. Hatinya sungguh bahagia, Almira tersenyum dengan malu-malu kearah Nicholas.


"Hmm, Oke kak. Nanti aku kabarin kalo sudah pulang. Terimakasih sudah mau nganterin aku." Ujar Almira dengan semangat seraya turun dari mobil dan menutup kembali pintu mobil Nicholas.


"Sama-sama," Nicholas membalas senyuman Almira. "Kalo gitu semangat belajarnya ya, Kakak balik dulu." Sambungnya dengan melambaikan tangan.


"Dek, kamu kenapa?" Tegur security yang menghampiri Almira. Wajar saja karena tingkat Almira sudah seperti anak bodoh di pinggir jalan.


"Eh bapak. Nggak pak, saya permisi dulu mau masuk." Merasa malu dengan apa yang di lihat penjaga pintu gerbang kampus, Almira langsung berlari menuju ke ruang kelas yang akan menjadi tempat mereka mengikuti jam mata kuliah hari ini.


Bahkan Almira sampai ngos-ngosan harus lari seperti di kejar setan.


Sesampai di ruangan Almira mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan diri. Almira memilih salah satu sudut yang dilihatnya nyaman.


"Kek orang kesetanan aja lo." Ujar teman di samping Almira duduk.


"Iya, dikejar sama siapa sih kok lari-lari?" Begitu juga dengan yang duduk di depan Almira ikut bertanya.

__ADS_1


"Entah, kayak telat aja." Jawab teman yang di samping Almira.


"Dosennya udah masuk. Udah ih, gak usah tanya-tanya ceritanya panjang." Sela Almira kepada teman-temannya yang ikut kepo dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Selama mengikuti jam kuliah, Almira masih tersenyum-senyum sendiri. Ia tidak bisa menahan diri agar tidak tersenyum ketika mengingat Nicholas. Ya, mengingat Nicholas yang memanggilnya dengan sebutan 'Tuan Putri'.


***


Jam lima sore Almira keluar dari kampusnya. Sekarang dirinya sedang menunggu Nicholas yang menjemputnya pulang. Bahkan demi menunggu Nicholas, Almira tidak ikut duduk berlama-lamaan dengan teman-temannya yang lain di ruangan seperti biasanya.


Nicholas menepikan mobilnya, lalu menurunkan setengah kaca mobilnya. "Sorry, harus nunggu lama." Ujar Nicholas. Dengan cepat ia berlari lalu menghampiri Almira.


"Gapapa kok Kak, cuman dua puluh menitan."


"Yaudah, Ayo." Nicholas berjalan sedikit lebih cepat untuk membukakan pintu untuk Almira.


"Silahkan..." Ucapnya mempersilahkan Almira untuk masuk ke dalam mobil. Sedangkan Almira hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.


Almira memandangi Nicholas dari kaca mobil sedang berjalan memutar untuk masuk ke dalam.


"Pasang seatbelt-nya." Perintah Nicholas pada Almira, Nicholas juga sedang memasang sabuk pengaman pada badannya sendiri.


Tanpa menunggu lama Almira segera menarik sabuk pengaman dan memasangnya. Setelah itu Nicholas menghidupkan mesin mobil lalu melajukan dengan kecepatan tinggi. Sampai-sampai Almira harus memejamkan matanya. Baik Nicholas maupun Almira mereka sama-sama terdiam tidak ada yang mengangkat pembicaraan.


Tidak lama hanya membutuhkan waktu lima belas menit, mobil yang di kemudikan Nicholas memasuki salah satu pusat perbelanjaan yang begitu besar.


"Ngapain kita kesini?" Almira menatap Nicholas yang fokus untuk memarkirkan mobilnya.


"Kamu gak suka?"


"Bukan gak suka... Kita tidak perlu kemari."

__ADS_1


"Kita perlu." Balas Nicholas singkat lalu menarik pergelangan Almira untuk ikut dengannya.


Sedangkan Almira hanya menatapnya bingung lalu berjalan sejajar mengikuti Nicholas.


__ADS_2