
Tanpa mereka sadari, satu pasang mata menatap mereka penuh kehangatan. Air matanya juga ikut terjatuh melihat pasangan yang saling berpelukan dihadapannya. Yanh sedang mengamati Keyla dan juga Alex adalah Ana. Ya, ia bahkan seperti bisa merasakan bagaimana kebahagian pasangan yang sedang berada dihadapannya. Sesekli tangannya juga ikut menyeka air matanya yang terus mengalir.
**************************************
"Ehm, maaf aku mengganggu kalian," ujar Ana pada saat Keyla menatapnya, lalu Keyla melepaskan pelukannya dari Alex.
"Tidak masalah," balas Keyla singkat.
"Apanya yang tidak masalah, aku masih mau dipeluk," ujar Alex sedikit kesal karena kehadiran Ana. "Ada apa?" tanyanya kepada Ana.
"Aku mau pulang, sedari tadi malam aku tidak bisa istirahat gara-gara kalian," cetus Ana sebal.
"Sudah sana pul-"
"No," sela Keyla dengan cepat. "Ana pulang berarti aku juga akan pulang," sambung Keyla.
Alex hanya bisa ternganga mendengar ucapan Keyla, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Alex menatap Ana untuk memberi isyarat agar tidak pulang dulu.
"Tentu saja tidak sayang, Ana akan terus di sini. Kita kembali ke kamar ya, di sini kamarnya terlalu aneh untukku."
"Aku gak bisa." Keyla menggelengkan kepalanya tidak mau. "Aku butuh waktu untuk menyesuaikan keadaan kita, jangan paksa aku. Cobalah untuk paham Alex," jelas Keyla yang mau dimengerti.
Ya, walaupun Keyla sudah berusaha untuk memaafkan suaminya, ia membutuhkan ruang sendiri agar bisa menenangkan dirinya dulu. Keyla masih trauma akibat tamparan dari Alex, dan juga sedikit takut mengingat Alex yang terang-terangan melukai dirinya di hadapan Keyla.
"Kalo gitu aku ke kamar dulu ya," ujar Ana kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.
"Sudah berapa minggu kandunganmu?" tanya Alex dengan mengusap lembut perut rata milik istrinya.
"Aku belum periksa."
"Kenapa?"
"Banyak sekali pertanyaanmu. Tolong suruh buatkan puding coklat untukku, aku merasa lapar," jawab Keyla yang tidak mau memberi jawaban dari pertanyaan Alex.
Bagaimana ia bisa melakukan pemeriksaan, sedangkan dirinya harus bersembunyi dari Alex. Untuk keluar di depan rumah saja ia was-was apalagi berjalan jauh.
"Mom dan Dad sudah tau?" Alex kembali bertanya sebelum ia keluar dari kamar, Keyla memberi jawaban dengan menggelengkan kepalanya. Alex menghentikan niatnya untuk keluar, ia masih mau melanjutkan pertanyaannya mengenai kehamilan Keyla.
"Kenapa? Bukannya selama ini kalian sering berkomunikasi. Harusnya Mom dan Dad tau mengenai, dan pastinya mereka akan sangat bahagia."
"Udah deh, cepat sana suruh buatkan puding untukku. Ingat setelah tanganmu sembuh, kamu yang harus mem buat puding untukku." Keyla mendoron tubuh suaminya agar segera keluar, jika ia membiarkan yang ada malah Alex akan terus mengintrogasikan dirinya.
Cup...
Alex memberi kecupan lembut di bibir Keyla, bibir yang selama ini sangat di rindukannya. Lebih tepatnya, ia merindukan sang pemilik bibir itu. Alex merindukan semua yang ada pada diri istrinya.
__ADS_1
Keyla terdiam mematung, jantungnya terus berdetak dengan sangat cepat. Ciuman itu memberi efek lain pada dirinya. Keyla menyukai itu, rasanya begitu manis.
***
Alex kembali ke kamar Keyla. Sesuai dengan permintaan, ia membawa satu piring besar dengan puding coklat permintaan istrinya.
Alex menempatkan bokongnya untuk duduk berhadapan dengan Keyla yang terus menatap dirinya.
"Mau di suapin?" tanya Alex lembut.
"Tidak perlu, kamu kembali saja ke kamar. Ganti baju sana gih, sekalian mandi!"
"Enggak mau," jawab Alex singkat.
Merasa kesel dengan jawaban dari suaminya, Keyla mencubit lengan Alex. Lelaki itu berubah menjadi menyebalkan, bukan lagi Alex yang bermuka datar, dan bersikap dingin. Sekarang ini Alex benar-benar merubah sikapnya, tidak ada lagi kata-kata mengejek, dan juga kata-kata yang selalu menyalahkan Keyla.
"Harus mau," tegas Keyla.
"Di sini juga ada kamar mandi, kenapa harus capek-capek naik ke atas." Alex memberi alasan supaya tidak perlu jauh-jauh dari istri yang sangat di rindukannya.
"Balik ke kamar kamu sekarang Alex, atau jangan harap kita bisa berbicara lagi seperti ini!" Keyla sedikit membentak Alex seraya mengancamnya agar segera keluar.
Tentu saja Alex tidak mau jika sampai itu terjadi. Baru saja mereka bisa sedekat ini, tapi harus kembali menjaga jarak. Cukup dengan Keyla meminta mereka pisah kamar saja, jika ditambah lagi dengan mereka harus saling mendiamkan satu sama lain sudah tentu dirinya bisa gila.
"Sepertinya aku butuh semangat untuk bisa menaiki tangga," ujar Alex dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Hmmm." Alex mengembungkan kedua pipinya.
"Apa?!"
"Hmm."
"Apa sih gak jelas, awas aku mau makan." Keyla mengambil alih piring di tangan Alex.
Cup, cup.
Dua ciuman mendarat di pipi kiri dan kanan Keyla, dari pada harus menunggu Keyla kelamaan, mendingan ia saja yang melakukannya.
"Akibat terlalu cerewet," ujar Alex yang kini menghilang dibalik pintu.
Lagi-lagi Keyla di buat terkejut dengan ulah Alex yang selalu menciumnya secara tiba-tiba. Pastinya jantungnya juga ikut berirama, sehingga tanpa sadar ia tersenyum dengan tangannya ikut meraba kedua pipinya.
"Sadar Key sadar, kamu harus memberinya hukuman jangan cepat baper," guman Keyla pada dirinya sendiri setelah di tinggal Alex.
Keyla berencana untuk menghukum suaminya dengan mereka tidak tidur satu kamar berdua selama satu bulan, dan selama satu bulan itu ia mau melihat sejauh mana sikap manis Alex bertahan untuknya.
__ADS_1
"Almira sama Nicholas apa kabar ya?"
Tiba-tiba bayangan mereka berdua terlintas di pikiran Keyla, mengingat dirinya pergi tanpa diketahui Nicholas dan juga Almira. Pastinya mereka sangat khawatir dengannya, bahkan untuk menghubungi mereka saja ia tidak memiliki handphone.
Sedari tadi Keyla hanya menatap puding di hadapannya tanpa ada niat untuk menyentuh atau merasakan sedikitpun, ia seperti kehilangann mood untuk makan. Pikirannya mulai tidak tenang mengingat bagaimana keadaan Nicholas dan juga Almira.
***
Sekarang Keyla berada di hadapan pintu kamar Alex, ia sengaja menjumpai suaminya untuk meminta pinjam ponselnya. Keyla membutuhkan ponsel saat ini, ia harus menghubungi Alex.
Klek...
Keyla mencoba untuk membuka pintu kamar tanpa permisi, dan ternyata pintu itu tidak terkunci.
"Nona manis," sapa Alex menyambut istrinya yang berjalan cepat mendekatinya.
"Mana ponselmu."
"Untuk apa?"
"Cepat, mana ponsel mu." Keyla menyodorkan tangannya di hadapan muka Alex.
"Itu di samping kamu." Tunjuk Alex.
Dengan cepat Keyla meraih ponsel itu dan mengusap layar itu agar terbuka. Siapa sangka ketika ia membuka layar ponsel suaminya, foto mereka berdua terpasang dengan jelas hingga membuatnya merasa senang.
Tidak mau berlama-lama, Keyla mencari kontak telepon bernama Nicholas. Dirinya ingin cepat-cepat mengetahui kabar kedua manusia itu.
"Kok gak aktif?" tanya Keyla.
"Siapa?" Alex bertanya balik, ia tidak tau siapa yang dimaksud Keyla.
"Nicholas," jawab Keyla dengan memasang wajah polos menatap suaminya.
Jujur, mendengar nama yang diucapkan Keyla membuat Alex panas dingin. Ia tidak suka ketika sudah merasa sedikit bahagia seperti ini tiba-tiba Keyla menyebut nama pria lain. Terlebih itu adalah pria yang sudah menyembunyikan istrinya selama ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen dan votenya dong.
Ingat selalu tinggalkan jejak 😘