Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 22


__ADS_3

Sesampai di rumah Alex tidak langsung menuju kamar tidurnya. Alex berjalan menuju kamar Keyla. Rasanya ingin sekali memeluk tubuhnya menghirup aroma wanita itu.


Tok tok


Alex masih menunggu Keyla membukakan pintu untuknya. Harap harap wanita itu belum tidur.


15 Menit sudah menunggu, tidak ada pergerakan. Alex memberanikan diri untuk membuka pintu.


"Apa kau sudah tidur." Bisik Alex


Tidak ada jawaban.


Keyla tidak menjawab karena memang sudah terlelap. Alex terus menatap wajah Keyla.


"Maaf sering melukai hati kamu." Alex menyapu lembut pipi Keyla, harap harap wanita itu tidak terbagun dari tidurnya.


Perasaan hangan memenuhi hati Alex dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Alex tidak bisa membohongi dirinya bahwa sekarang dia begitu menginginkan Keyla.


"Bagaimana aku bisa melepaskan kamu, sedangkan saat aku berada di samping kamu aku merasa hanya seluruh hidupku lebih terarah. Kamu sekarang layaknya tujuan dalam hidupku." Alex hanya mampu berucap dalam hatinya. Sekarang Alex sudah menyelinap masuk ke dalam selimut Keyla dengan memeluknya dari belakang.


"Alex tolong lepaskan aku."


Mendengar apa yang keluar dari mulut Keyla Alex bukan melepaskan Keyla. Dirinya malah mempererat pelukannya. "Apa aku salah memeluk istriku sendiri."


"Aku kira kamu sudah tidur tadi, jadi aku tidak membangunkan kamu lagi." Lanjut Alex yang tidak peduli dengan permintaan istrinya.


"Tolong lepaskan aku Alex, apa kamu belum puas menyakiti ku. Aku selalu berusaha menutupi apa yang aku rasakan jika Mom menanyakan tentang kebahagiaan ku."


Kali ini tidak ada suara lantang saat Keyla menyuarakan tentang apa yang sedang dialaminya. Suara Keyla terdengar begitu lirih, lebih tepatnya sekarang dirinya sedang menangis.


"Aku sedang tidak ingin berdebat. Tidurlah ini sudah larut, kali ini biarkan saja begini."


"Hingga seterusnya." Alex melanjutkan dalam hatinya.


Tidak ada penolakan dari Keyla, namun dirinya tetap tidak mau melihat muka Alex.


***


Pagi hari matahari Keyla terbagun dirinya melihat kesamping tempat tidurnya untuk mencari Alex. Kemana lelaki itu? Apa tadi malam hanya mimpi. Tidak, jelas jelas dirinya merasakan pelukan dari Alex begitu nyata.

__ADS_1


"Kenapa kamu suka sekali membuat aku ini semakin susah untuk melepaskanmu." Gumam Keyla pada dirinya sendiri.


Sikap Alex yang tidak bisa ditebak membuat Keyla semakin kebingungan dibuatnya. Apa dengan menyakiti dirinya menjadi suatu kepuasan bagi Alex? Atau malah ia hanya menguji kesabaran Keyla dalam menghadapinya. Entahlah, yang jelas sekarang Keyla berusaha sedikit demi sedikit untuk menghapus jejak Alex dalam hidupnya.


"Harusnya kamu tau ini Alex. Setiap kamu menyakiti diriku, aku selalu berusaha untuk memaafkanmu. Tidak peduli sudah berapa pedang yang sudah kau tancap di hatiku."


Keyla mengambil foto dirinya dan Alex yang ada didalam lacinya. Keyla sengaja menyimpan foto itu, dirinya masih berharap ada ruang yang kosong di hati Alex untuk di isi.


"Kamu sangat pintar dalam memainkan hatiku dengan membiarkan aku mencintai kamu, lalu kau menyakitinya setelah aku memberi seluruh kepercayaan kepadamu."


Keyla menghela nafas panjang. Hatinya begitu perih, dadanya sudah sangat sesak mengingat semua perlakuan suaminya dan kata kata yang dikeluarkan dari mulutnya seakan akan Keyla tidak pernah berarti dalam kehidupan Alex.


"Nona, apa nona sudah bangun." Tanya seseorang di balik pintu kamar Keyla.


"Sudah bi, saya akan sarapan sebentar lagi." Keyla sudah tau jika pagi pagi ada yang membangunkannya itu untuk sarapan.


"Tuan Alex menunggu anda untuk sarapan dengannya,"


Alex menunggu Keyla. Ada apa?


Tidak biasanya, apa dia belum puas menyakiti dirinya dari kemarin.


Tidak berapa lama Keyla sudah siap dari ritual mandinya dan nenyudahi dengan berpakaian santai.


"Kenapa kau lama sekali, cepatlah aku sudah sangat lapar." Gumam suara Alex memenuhi seluruh isi ruangan itu.


"Aku tidak menyuruh kamu menungguku, bukankah biasanya kamu tidak suka jika harus ikut makan denganku." Balas Keyla.


Sebenarnya lelaki ini maunya apa, suka sekali memancing keributan. Sepertinya sekarang sudah menjadi hobby baginya.


"Aku mau kamu kerja di kantor mulai besok."


Itu terdengar seperti sebuah perintah.


"Kerja di kantor? Kamu sedang tidak bercandakan." Tanya Keyla dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Ini adalah keinginannya sejak dulu, bekerja di kantoran dan mendapatkan penghasilan yang lumayan.


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"


"Tidak tau,"

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa, aku hanya bersekolah di sekolah yang biasa saja. Dan aku juga tidak kuliah." Ada rasa senang dan rasa takut dalam hati Keyla. Dirinya senang karena akan bekerja di tempat yang benar benar layak, dan juga takut karena itu semua bukan keahliannya.


"Oh ya, kalau begitu aku akan mencari orang yang bisa mengajari kamu bermain komputer."


"Apa itu tidak berlebihan jika kamu memanggilnya kemari? Aku akan mencari tempat yang bagus untuk mengikuti kurus nanti."


"Terserah kamu saja." Alex membalas singkat.


"Aku tidak suka jika kamu berkeluyuran setiap hari dengan Nicholas."


"Apa maksud kamu, aku menerima ajakannya jika sudah bosan di rumah."


Lagi lagi Alex seperti ingin mejak ribut dengan Keyla. Padahal dirinya dan Nicholas murni sebagai teman, tidak seperti Alex dengan Mira yang memiliki hubungan.


"Jika kamu membantah ucapanku, siap siap kamu aku kurung di dalam kamar setiap hari. Kamu tidak akan bisa keluar tanpa ada aku." Kali ini Alex benar benar serius dengan apa yang keluar dari mulutnya.


"Aku sangat bosan di rumah ini sendirian, aku mohon mengertilah." Keyla menatap wajah Alex dihadapannya. Dirinya tidak duduk berjauhan lagi, Keyla berharap supaya hati lelaki di hadapannya itu dapat melunak.


"Oh ternyata istriku sudah bosan sendirian di rumah ini, apa sudah waktunya sekarang kita memiliki Alex juni-"


"Aku tidak bermaksud seperti itu, diamlah."


Keyla tersipu mendengar Alex, lelaki ini benar benar membuat pipinya merah padam.


"Apa salahnya jika memang benar, bukankah sudah seharusnya pasangan yang sudah menikah itu memiliki anak."


"Sebentar lagi kamu akan menikahi Mira kekasihmu. Kalian pantas memilikinya." Ujar Keyla lemah.


"Aku tidak suka jika kita sedang berdua kamu menyebut namanya. Satu hal harus kamu ingat dari surat perjanjian pernikahan kita,"


"Tidak ada point yang menyebutkan kita tidak boleh memiliki momongan." Lanjut Alex dengan kembali mengingatkan Keyla hal apa saja yang tidak tertera di dalam perjanjian kontrak pernikahan mereka.


"Jangan bersikap egois, aku mengingat semua isi perjanjian itu. Aku juga berhak menentukan hidupku Alex."


"Aku bersikap egois karena aku mampu, aku mampu menafkahi kalian berdua." Alex berkata kata seolah tidak ada yang tersakiti dengan sikapnya.


"Ceraikan aku."


Kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Keyla.

__ADS_1


Alex yang tidak mengindahkan perkataan Keyla. Dia memilih untuk meninggalkan wanita itu tanpa mengucap sepatah kata apapun. Dirinya belum siap untuk melepaskan Keyla secepat itu.


__ADS_2