
Jika yang aku alami itu adalah sebuah mimpi, maka aku hanya ingin hidup di dalam mimpiku saja.~
Keesokan harinya Alex terbangun dengan kepala yang sangat berat seperti ada sebuah batu besar yang dirinya pikul. Ia berusaha untuk mengingat kejadian tadi malam, namun nihil tak ada satupun yang bisa diingat oleh dirinya.
"Ini bukan lagi jam masuk kantor." Pikir Alex setelah melirik jam di hadapannya.
Beberapa kali mencoba mengingat hal apa saja yang terjadi. "Ah... Kenapa aku bodoh sekali." Ucap Alex sembari memukul pelan kepalanya.
Hatinya seperti tidak yakin jika ia hanya tidur setelah mabuk, tetapi tetap saja meskipun telah berpikir keras tak satupun kejadian dapat diingat.
"Mungkin itu mimpi indah." Ucap Alex berusaha meyakinkan diri lalu turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
***
Di lain sisi Keyla hanya duduk termenung mengingat semua kejadian yang menimpa. Menurutnya apa yang telah terjadi memang tidak sepenuhnya kesalahan dari suaminya, ia juga menikmati dan juga sudah dengan suka rela menyerahkan semuanya.
Namun di saat masih pagi Keyla terbangun dengan sedikit penyesalan dan rasa takut.
Bagaimana jika tiba tiba Alex menuduhnya memanfaatkan keadaan, bagaimana jika sampai lelaki itu menyakiti dirinya lagi.
Semua itu telah dipikir Keyla matang matang. Sehingga Keyla memutuskan untuk membuat semuanya seperti tidak ada kejadian apa apa, dengan mengenakan kembali pakaian suaminya dan dirinya keluar dari kamar menuju kamarnya sendiri. Meskipun Keyla sempat takut bagaimana jika tiba tiba Alex sadar, entah apa yang akan terjadi. Tapi syukurlah kali ini keadaan masih memihak kepadanya hingga Alex tidak terbangun.
Di tengah lamunannya ponsel berdering hingga membuat Keyla tersadar lalu dengan cepat tangannya menyambar ponsel di hadapannya.
Alex...
Itu adalah nama yang tertera di layar ponselnya. Kenapa Alex menghubunginya?
"Kamu sedang dimana? Apa sedang bersama Nicholas lagi?" Tanya Alex dari seberang.
Keyla menghela nafasnya dengan kasar. "Tidak ada Nicholas disini, aku meminta salah satu sopir yang ada di rumah untuk mengantarkanku ketempat kursus komputer. Aku mulai mendaftarkan diri hari ini."
"Awas kalau sampai kamu berbohong! Aku bisa melacak dimana sekarang kamu berada."
Alex memutuskan sambungan setelah memberi peringatan kepada Keyla.
__ADS_1
Dengan perasaan sebal Keyla meletakkan kembali ponselnya di dalam tas. Sekarang Keyla masih di tempat kursus itu dan sedang menunggu jemputan.
"Hai mbak sedang menunggu sesuatu?" Seseorang datang menghampiri Keyla yang sedang memainkan kukunya di atas meja.
"Eh iya, saya sedang menunggu jemputan." Balas Keyla sopan dengan sedikit mengangguk kepala.
"Kenalin saya Amira, baru ya mbak?"
"Keyla. Iya saya anggota baru, ini saya baru mendaftar dan mengambil jadwal."
"Mbak Keyla kuliah atau memang untuk bekerja mengikuti kursus komputer ini."
"Oh ya mbak, boleh tukaran nomor telpon nggak? Lumayanan nanti kita bisa saling share dan kita bisa menjadi teman baik." Lanjut perempuan yang bernama Amira.
"Teman baik? dulu aku juga berteman baik dengan sindy dan akhirnya aku harus menjauhinya karena permintaan dari Alex. pikir Keyla sejenak, lalu membukakan suaranya. "Tentu saja. Bisa saya meminta ponsel kamu untuk saya isi nomor telpon saya?"
"Boleh mbak keyla yang cantik. Silahkan isi saja nomor mbak nanti saya akan menghubungi mbak."
Keyla tersenyum hangat karena ada orang yang baru mengenalnya, namun dengan begitu cepat mengajaknya untuk berteman.
"Amira saya duluan ya, mobil jemputan saya sudah sampai." Bangkit dari duduknya lalu pergi menuju mobil yang sudah di depannya.
Begitu juga sebaliknya dengan Keyla yang membalas lambaian tangan Amira dari dalam mobil melalui kaca yang sudah diturunkannya.
"Jalan pak." Perintah Keyla pada sopir yang menjemputnya.
"Baik nona, maaf sudah membuat sedikit menunggu tadi antreannya lumayan panjang."
"Iya pak tidak masalah, malahan waktu saya menunggu bapak tadi saya sudah ada teman baru loh pak. Namanya Amira dia itu cantik." Jelas Keyla dengan wajahnya berbinar bahagia. Karena mememang sebelumnya Keyla tidak memiliki teman karena dirinya sulit untuk mendapatkan teman.
"Bagus nona, dengan begitu nona akan menjadi lebih semangat untuk belajar. Teman itu juga berpengaruh dalam apa yang kita kerjakan."
"Is si bapak mantap bangat ucapannya. Tapi memang benar loh pak saya setuju dengan bapak, teman bisa membuat kita jadi semangat dengan apa yang kita kerjakan."
Keyla dengan sopirnya terlihat begitu dekat. Bukan hanya sopir saja tapi juga dengan semua para pekerja di rumahnya. Bukan tepatnya rumah Alex suaminya.
__ADS_1
"Mom apa kabarnya ya? sudah lama tidak mendapat kabar darinya."
"Saya juga merindukan nyonya, biasanya beliau sangat sering membuat pertemuan hanya sekedar untuk kedekatan para pekerja."
"Nyonya juga pernah ikut makan siang bersama kami saat Tuan besar dan tuan Alex sudah berangkat kerja."
"Saya jadi sedih kalo mengingat tuan besar dan nyonya besar." Tambah sopir itu dengan nada sedih.
Memang tidak ada yang tidak sedih dengan Bram dan Lisa memutuskan untuk tinggal di luar negeri dengan Alasan mereka ingin mengembangkan jaringan bisnis mereka hingga ke manca negara.
"Pak boleh saja bertanya sesuatu dengan bapak? Tapi jangan turun dulu dan hidupkan mesin mobilnya pak." Ujar Keyla ketika mobil sudah memasuki area parkir rumah.
Sopir itu mengikuti perintah Keyla. "Tanyakan saja nona."
"Apa bapak pernah tau kalau Alex sering mabuk?"
"Maksud Nona apa? Saya sudah lama bekerja di sini. Saya juga kenal betul dengan tuan Alex sedari kecil, tuan Alex tidak pernah minum minuman haram itu." Sedikit memberi pembelaan kepada tuannya.
"Tapi, semalam Alex pulang dalam keadaan mabuk dan diantarkan oleh temannya."
"Apa!?" Terkejut dan masih tidak percaya dengan Keyla.
"Tuan Alex tidak pernah seperti itu sebelumnya. Tuan Alex sering pergi ke tempat begituan tapi tuan Alex tidak pernah ikut minum meskipun teman temannya minum." Lanjut pak sopir.
"Nona Keyla ingat siapa yang mengantarkan tuan ketika sedang mabuk?"
"Anton." Jawab Keyla singkat
"Sebenarnya saya sudah meminta Anton untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Tapi sampai sekarang saya belum menerima penjelasan apapun, padahal dia sudah berjanji untuk mengatakan itu semua hari ini tapi nyatanya sampai siang ini dia belum datang." Jelas Keyla dengan sedikit kesal karena Anton tak kunjung menjumpai dirinya.
"Kalau sampai Tuan besar dan nyonya tau pasti mereka akan marah." Timpal pak sopir dengam menggelengkan kepalanya.
"Berarti ini akan menjadi rahasia kita berdua sebelum saya mendapatkan informasi mengenai kejadian tadi malam."
"Baiklah pak kalau begitu mari turun." Ajak Keyla yang sudah mendahului sopirnya.
__ADS_1
Langkah kaki Keyla terhenti pikirannya mulai kembali mengingat kejadiannya dengan Alex. Jantungnya sudah memompa dengan kuat, bagaimana jika sampai Alex menyadari semuanya?
Ini bukanlah akhir dari semuanya, melainkan awal dari memulai sesuatu yang akan membawa kepada kebahagiaan.