
"Lah, dua kesayangan Daddy sedang ngapain?" tanya Alex sambil menyentuh bahu istrinya dari belakang, sontak hal itu membuat Keyla terkejut ulahnya.
Keyla menengadah mukanya ke belakang, dan mendapati suaminya yang tersenyum cengegesan.
"Sayang, Daddy pulang," ujarnya sambil melepaskan baby Devano yang sedang diberi ASI olehnya.
Saat ini bayi mereka berumur 3 bulan, anak itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Alex, memiliki hidung yang mancung, rambut pirang, hanya bola matanya mengikuti Keyla berwarna coklat.
Alex mendekatkan wajahnya pada baby Devano, hendak mencium anaknya yang sangat menggemaskan, namun Keyla lebih cepat mengangkat sebelah tangannya menahan Alex agar tidak mencium Devano.
"Kenapa?"
Mata Keyla membulat mendengar suaminya, apakah keras kepalanya yang dulu sudah berpindah padanya?
"Aku selalu bilang apa?"
"Lupa, coba Mommy ingatkan lagi!" perintah Alex sambil cengar-cengir tidak jelas.
Lantas, bukan mendapat jawaban, tapi malah mendapat cubitan pada lengannya membuat dirinya meringis kesakitan.
Perlu diingat! Keyla tidak segan mencubit suaminya sampai lebam.
Semenjak menjadi orangtua, kelakuan mereka menjadi terbalik. Dulu Alex harus bersabar dengan sikap Keyla, kini malah Keyla harus bersabar menghadapi Alex dengan sikap seperti anak kecil haus perhatian. Ya, seperti itulah kenyataannya. Semenjak baby Devano hadir, Keyla lebih sibuk mengurus buah hati mereka, membiarkan Alex mengurus dirinya sendiri.
"Kamu lupa atau pura-pura lupa? Apa perlu aku tempel di jidat a--ku. Setiap pulang dari kantor, mandi!" Keyla sengaja menekan setiap kata-katanya, harus dengan cara apalagi mengingatkan lelaki ini?
"Sakit," keluh Alex sambil menggosok lengan bekas cubitan istrinya, matanya belum bisa lepas dari baby Davano dalam pangkuan istrinya. "Mommy-nya boleh gak?" sekali lagi ia sengaja menggoda istrinya.
"Malam ini kira-kira mau tidur di mana?"
Untuk kali ini, Keyla sedang tidak bermain dengan ucapannga. Alex yang semula duduk dengan tenang, harus rela meninggalkan tempat duduknya.
"Tangan!" Keyla menepis tangan Alex yang hendak menyentuh baby Devano.
"Iya iya."
Bukan Keyla terlalu berlebihan menjaga baby Devano, tapi karena Alex sekarang terlalu sering bertemu banyak klien, itulah alasannya Alex harus bersih-bersih dahulu sebelum menyentuh bayi kecil mereka.
Kala itu juga, Alex pergi meninggalkan mereka. Setelah itu, Keyla pun menyusul dari belakang dengan baby Devano dalam dekapannya.
***
"Udah bisa pegang Devan belum?" tanya Alex baru keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk putih yang dililit di pinggangnya. Rambutnya yang basah membuat penampilannya semakin maskulin.
"Devan ngantuk Daddy," jawab Keyla menyerupai suara anak kecil.
"Baik Mommy," ujarnya dengan tersenyum nakal. Ia mendekati Keyla sambil berbisik, "Baby Devan sangat pengertian, dia tau ini waktu Mommy sama Daddy-nya berduaan."
Sadar akan maksud suaminya, wajah Keyla menjadi merah merona, meski sudah lama bersama, dan sering melakukan hal itu, Keyla tetap malu jika diajak suaminya.
Alex membantu mengangkat Devano dari atas tempat tidur mereka keranjang milik Devano sendiri, bayi itu seperti paham akan keadaan, dia tertidur dengan sangat pulas.
Keyla masih duduk di tempatnya, memandingi Alex yang semakin mendekatinya.
Lelaki itu menundukkan pandangannya, agar sejajar dengan wajah Keyla. Secara pelan, mata Keyla ikut terpejam ketika Alex meraba wajahnya, merasakan hangatnya telapak tangan itu.
Senyuman nakal kembali lolos dari bibir Alex, ia memberi sebuah kecupan pada leher jenjang istrinya, dan bermain di sana. Sontak Keyla membuka matanya akibat napas Alex yang membuatnya geli.
Alex semakin tidak tahan melihat Keyla sudah mengalungkan kedua tangan pada lehernya, ia semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Keyla, dan mulai mengikuti instruksi tubuh wanita itu yang kini sudah berada di bawahnya.
Tangan Alex semakin liar, dengan lihai ia membantu Keyla melepaskan semua penghalang antara mereka, dan melempar kesembarangan arah.
Mereka berdua semakin hanyut dalam percintaan mereka malam itu, Alex tidak memberi masa, ia begitu semangat menggempur wanita itu sampai kesulitan berkata.
__ADS_1
***
Belum lama setelah mereka istirahat karena lelahnya melakukan percintaan yang panas, Devano mulai menangis.
Keyla yang cepat sadar akan tangisan bayi mungil itu membuka matanya, dan mulai mencari pakaiannya.
Terganggu dengan pergerakan Keyla, Alex yang terlelap di sampingnya ikut terjaga, dan memperhatikan istrinya seperti kesulitan menemukan sesuatu. Saat itu juga, ia mendengar suara tangisan kecil dari Devano.
"Kamu mau ambil Devan, gapapa biar aku saja." Alex mengambil handuk yang yang berada di dekat bantal tidurnya, dan melilitkan dipinggangnya.
Karena masih belum menggunakan apapun, Keyla menarik selimut untuk menutupi diri sampai batas dadanya.
"Anak Daddy kenapa nangis sayang, tuh Mommy-nya belum bisa tidur," tutur Alex pada Devano, lalu menidurinya di tengah tengah dirinya dan Keyla.
"Awas kalau kamu lihatin aku," ancam Keyla pada suaminya, lalu lelaki itu berbalik badan membelakanginya.
"Udah sering juga ditengokin," balas Alex tak mau kalah.
"Pokoknya jangan dilihatin."
"Itu doang pun."
"Pokoknya jangan liat!"
Alex mendengus sebal.
"Iya."
Sambil membaringkan tubuhnya agar mudah memberi ASI kepada Devano, Keyla menarik selimut agar bisa menutupi dirinya, dan memberi ASI untuk Devano di bawah selimut.
"Ambil bajuku sebentar!" perintah Keyla setengah berbisik agar tidak mengganggu Devano.
Alex menuruti perintah istrinya, berjalan turun dari atas ranjang untuk mengutip pakaian yang sudah dilemparinya sembarangan di atas lantai. Setelah itu, ia menyerahkan pada istrinya yang masih belum keluar dari balik selimut.
"Iya, kamu sana, pakai dulu baju kamu." Keyla menyuruhnya pergi agar leluasa menggunakan pakaiannya sendiri.
"Siap Mommy," balas Alex membohongi istrinya, nyatanya ia masih berdiri di samping wanita di bawah selimut itu.
"Alex!" teriak Keyla sambil melempar bantal kepadanya, lalu menarik kembali selimut dengan kesal. Dirinya sudah dibohongi lelaki itu.
Melihat istrinya seperti itu, Alex malah terbahak.
"Iya, iya. Ini aku pergi," ujarnya seraya berjalan meninggalkan istrinya.
Keyla mengitip dengan menurunkan sedikit selimutnya sampai batas lehernya mencari kebenaran dari ucapan suaminya, tak mau dibohongi kedua kalinya. setelah lelaki itu benar menghilang, Keyla melepaskan Devano untuk menggunakan pakaiannya kembali.
***
Keesokan harinya, Keyla bangun lebih awal guna mempersiapkan perlengkapan Alex. Devano pun masih terlelap, ia menggunakan waktu yang ada sebelum bayi itu bangun, dan menyita seluruh waktu mengurusnya.
"Pagi sayang," sapa Alex saat baru keluar dari kamar mandi, lalu mendekatkan diri pada istrinya untuk memberikan kecupan selamat pagi pada bibir mungil itu.
"Kenapa kamu bangun terlalu cepat?" Sekali lagi ia bertanya pada istrinya.
Keyla menyungging sebuah senyum pada bibirnya.
"Mau bantu kamu siap-siap."
Sorot mata Alex melirik pada baby Davino yang tergeletak dengan tenang di atas tempat tidur mereka, lalu kembali beralih pada istrinya, menyoroti wajah yang terlihat kurang istirahat. Ya, wanita itu tidak lagi memiliki jadwal tidur yang benar setelah Davino hadir. Selalu saja bayi itu menangis tengah malam meminta susu, kemudian dia akan sulit tidur jika menyusui Devano.
"Sana tidur lagi, aku bisa sendiri."
Dahi Keyla berkerut, kedua alisnya menjadi sejajar. Tiba-tiba ia jadi bingung sendiri pada Alex yang menyuruhnya tidur lagi.
__ADS_1
"Sana temani Devan!" Alex memutar tubuh Keyla untuk berjalan, dan menuruti perintahnya.
Sedangkan Keyla yang bersikeras ingin membantu Alex, ia kembali membalikkan badannya.
"Aku mau bantu kamu," putusnya tanpa ingin dibantah.
Alex menarik tangan istrinya, membawa diri mereka duduk bersama di ujung ranjang. Ia masih menggenggam kedua tangan itu dalam pangkuan istrinya.
"Kamu gak lelah?"
Keyla memberi jawaban dengan menggelengkan kepalanya singkat. Terdengar suara lelaki itu melepaskan napasnya secara kasar.
"Kamu lelah, aku tau," ungkapnya lagi sambil mengelus pelan pipi istrinya.
"Aku mau jadi yang terbaik untuk kamu, dan Devan. Maaf, aku juga sering mengabaikanmu demi Devan."
Alex meletakkan jari telunjuknya pada bibir istrinya. "Sstt. Aku harusnya minta maaf tidak bisa membantu banyak, aku tau kamu lelah mengurus Devan, makanya aku tidak pernah menuntut banyak dari kamu."
Kedua tangan Keyla mencubit pipi suaminya gemas sambil berkata, "Kamu tetap Daddy terbaik untuk kita."
Sambil menarik tangan Keyla, ia mengaitkan jemarinya pada jemari wanita itu, memberikan kecupan kecil pada punggung tangan Keyla.
"Terimakasih."
Pandangan mereka saling bertemu, bola mata mereka mengunci satu sama lain.
Sesaat suasana menjadi hening, hanya deru napas yang terdengar diantara mereka.
"Terimakasih doang?"
"Harus ngucapin apa lagi coba?" bingung Alex, karena tidak ada satupun kata yang pantas jika mengingat bagaimana istrinya berkorban untuk dirinya dan, Devano.
"Harusnya terimakasih sayang."
Alex menarik ujung hidung wanita di hadapannya gemas, "Ngarep banget di panggil sayang"
"Sakit ih."
"Masak?"
"Iya benaran gak sakit," canda Keyla membenarkan kondisinya.
"Aku mau ucapin banyak hal."
Ucapan dari Alex, membuat Keyla membesarkan pupil matanya, siap mendengarkan apa yang akan diungkapkan lelaki itu.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah menjadi istri terbaik, Mommy terbaik. Kamu boleh lelah dalam mengerjakan apapun, tapi jangan pernah lelah mencintaiku, Devan, then next our child. I love you more than anything i do
Ujung mata Keyla melirik Devano yang masih tertidur pulas, air matanya juga ikut mengalir membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar suaminya berkata sampai menyentuh ke dalam dasar dirinya.
Keyla menghamburkan diri dalam pelukan suaminya, menumpah seluruh tangisannya.
"Aku juga mencintai kalian, sampai aku tidak bisa bernapas lagi."
~ TAMAT ~
Karya baru⏩ Takdir Cinta Untuk Trisa
jangan lupa datang dan Ramaikan cerita baruku
__ADS_1