
Sebuah map yang entah apa isinya terletak di meja makan. Secarik kertas? Gunting? Setangkai mawar merah? Jika hanya mawar mungkin akan terlihat romantis. Tapi apa maksud benda lain? Teka- teki di pagi hari sepertinya menarik.
Eh, tapi ini sudah tidak pagi lagi. Keyla terbangun hampir pukul 12 siang, suaminya saja sudah berangkat ke kantor.
Merasa malas menyentuh semua barang yang ada di atas meja, Keyla beranjang duduk di kursi yang sedikit jauh dengan benda yang membingungkan dirinya, dan mulai sarapan pagi, ralat makan siangnya.
Kesunyian menyelimuti Keyla, berlama-lamaan makan bukan hal yang tepat di saat sendirian.
Tangannya meraba perutnya yang sudah sedikit buncit. "Sebentar ya sayang. Mama mau minum susu dulu, siap itu kita jalan-jalan keliling di taman belakang. Mama bosan di kamar terus."
Selama kembali ke rumah, Keyla sangat jarang keluar rumah. Keyla lebih sering berada di kamar, walau hanya sedekar membaca, itu saja sudah cukup membuatnya senang.
Rasa keingintahuan membuat Keyla mendekati benda yang masih terletak di atas meja makan, tak ingin menyentuh, apalagi mengambil.
"Biarin aja kali, siapa suruh kasih kejutan ga jelas gini."
Setelah melirik sekilas, Keyla beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
***
Pulang kerja tepat waktu, sudah menjadi kebiasaan baru untuk lelaki yang bernama Alex. Tidak ada lagi list Club mana yang akan di kunjungi, yang ada di dalam list kehidupan barunya adalah pulang ke rumah tepat waktu, menghabisi banyak waktu bersama istrinya.
__ADS_1
Istrinya yang suka memerintahkan hal aneh padanya, cerewet, suka marah-marah tidak jelas. Pokoknya, Alex harus memiliki kesabaran yang luar biasa bila harus menghadapi sikap istrinya.
Keras kepala, tidak mau diatur tapi suka mengatur Tidak ingin ditanyai, tapi harus mempunyai banyak jawaban ketika dia yang menanyakan. Kadang-kadang manja tidak jelas, eh, tiba-tiba sudah menangis tidak jelas.
Ya, begitulah Keyla sekarang. Alex harus siap dengan segala suasana hati Keyla. Entah mau mengerjai dirinya, atau memang itulah sifat Keyla yang sebenarnya.
Semua sikap Keyla sama sekali tidak membuat Alex menyerah, bahkan ia sangat suka dengan Keyla sekarang. Apalagi ketika wanita itu menangis, dia akan menjadi sangat lucu dan pastinya menjadi semakin cantik.
Eitss... Bukan berarti Alex menyukai istrinya menangis, tapi entahlah. Apapun yang ada pada wanita itu semuanya sangat menarik bagi Alex.
"Selamat sore Tuan."
Salah satu pelayan menyambutnya pulang, dengan kepala terus menunduk.
Pertanyaan yang selalu Alex tanyakan ketika sampai di rumah, bukan tidak bisa mencari sendiri. Hanya saja Alex mau semua pelayan di rumahnya peduli kepada istrinya, bisa mengawasi istrinya ketika dirinya sedang berada di luar, atau di mana saja bila tidak sedang bersama istrinya.
"Tadi ada di kamar, Nona belum makan. Katanya Nona akan muntah jika harus makan," jelas pelayan itu.
Tidak lagi memberi tanggapan, Alex melangkah dengan cepat untuk menemui istrinya.
"Sayang," panggil Alex dari luar, berharap Keyla membuka pintu kamar untuk dirinya.
__ADS_1
"Sayang..."
"Ngapain sayang-sayang. Udah tau tiap hari pintunya ga pernah di kunci malah sayang-sayang di luar," cetus Keyla dari dalam.
Berharap disambut istrinya saat pulang dari kantor, di peluk, dan mendapatkan ciuman selamat datang dari istrinya? Sia-sia.
Mungkin Alex belum seberuntung itu bisa memiliki istri seperti keinginannya.
Tak masalah, jika istrinya tidak mau melakukan semua. Maka, dirinyalah yang harus memulai lebih dulu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, komennya. Sayang sayangku..