
"Kok gak aktif?" tanya Keyla.
"Siapa?" Alex bertanya balio, ia tidak tau siapa yang di maksud Keyla.
"Nicholas," jawab Keyla dengan mamasang wajah polos menatap suaminya.
Jujur, mendengar nama yang diucapkan Keyla membuat Alex panas dingis. Ia tidak suka ketika sudab merasa sedikit bahagia seperti ini tiba-tiba Keyla menyebut nama pria lain. Terlebih itu adalah pria yang sudah menyembunyikan istrinya selama ini.
****************************************
"Hoho, tidak boleh menghubungi siapapun menggunakan ponselku."
Alex menarik ponselnya di tangan Keyla, ia memberi tatapan ketidak sukaan dengan sikap Keyla. Bisa-bisanya Keyla dengan berani meminta ponselnya untuk menghubungi Nicholas, sudah pasti ia akan membiarkan lelaki itu yang telah lancang menyembunyikan istrinya. Alex juga akan melakukan hal yang sama seperti yang telah Nicholas lakukan.
Tidak mau kalah, Keyla menarik kembali ponsel itu. Jangan pikir dirinya takut dengan Alex. "Nic harus tau aku sudah bersamamu," ujarnya dengan merapatkan gigi akibat menahan kekesalannya terhadap Alex.
"Tidak perlu," balas Alex singkat. "Biarkan saja dia mencarimu seperti yang aku lakukan, lagi pula apa pentingnya lelaki itu tau kamu bersamaku," sambung Alex tak peduli. Sebenarnya dirinya juga tidak tau kenapa nomor telepon Nicholas bisa tidak aktif.
Ya... Walaupun sudah memutuskan persahabatan dan tidak pernah saling berkomunikasi lagi, Alex masih menyimpan nomor telepon Nicholas. Hanya saja ia tidak tau nomor itu tidak aktif lagi, karena tidak pernah menghubunginya lagi.
"Apa? Kamu bilang tidak perlu. Nic dan Almira pasti sangat mengkhawatirkanku." Keyla menatap marah.
"Mereka berdua sudah pasti tau aku yang membawamu kabur dari rumah." Alex kembali menarik ponsel yang ada di tangan Keyla.
"Kalau begitu antarkan aku bertemu mereka."
"Tanganku masih sakit, bagaimana aku bisa menyetir mobil?" tanya Alex, sebenarnya dirinya keberatan dengan permintaan Keyla.
"Ya sudah, aku minta di antar sama sopir saja," tukas Keyla semakin kesal dengan Alex. Padahal apa susahnya menuruti saja permintaanya, ia memiliki sopir di rumah. Alex bisa meminta sopir mengantarkan mereka, tanpa harus menjadikan tangannya sebagai alasan.
"Keyla jangan macam-macam!"
Alex memberi peringatan agar istrinya tidak nekat pergi tanpa izin darinya, apalagi ini baru hari pertama Keyla kembali ke rumahnya.
"Terus mau kamu apa?" tanya Keyla, berbalik badan lalu berdiri berkacak pinggang kesal dengan Alex terus melarangnya.
__ADS_1
"Kita pergi sama-sama. Tolong bantu sisir rambutku, tanganku sakit," pinta Alex dengan menunjukkan tangannya.
Keyla menuruti permintaan Alex, ia menyisir pelan rambut suaminya. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma shampo di rambut Alex, aromanya begitu khas. Keyla sengaja menyisir dengan pelan, ia sangat suka wangi rambut Alex.
Rasanya begitu nyaman, ketika tangan Keyla menyentuh dagunya, jejak sisir yang pelan dikepalanya. Alex menikmati semuanya, matanya terus menatap wajah Keyla. Tidak ada yang berubah dari wajahnya, ia bahkan semakin cantik.
"Aku mau setiap hari kamu menyisir rambutku." Alex menarik tangan Keyla, ia membawa tangan lembut istrinya mendekati bibirnya. Alex mengecup lama punggung tangan istrinya.
"Aku tidak sempat, sudah ayo berangkat." Keyla menarik tangannya dan tersipu malu.
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Alex, Keyla tidak bisa membiarkan dirinya terus berada di bawah pengaruh sifat manis suaminya. Bisa-bisa Keyla gagal dalam menjalankan misinya memberi hukuman lanjutan.
Sambil tersenyum menang, Alex bangkit mengikuti Keyla. Alex yakin sedikit demi sedikit dirinya pasti bisa membuat Keyla tidak bisa jauh darinya lagi. Alex sangat yakin, tidak ada wanita yang tidak akan suka diperlakukan dengan manis.
"Sayang tunggu." Alex meraih pergelangan Keyla saat menuruni anak tangga. "Nanti pulang, sekalian kita cek kandungan kamu," tambahnya.
"Malas. Lagian, kemarin kenapa tidak minta dicek saja waktu aku pingsan?"
"Aki tidak sempat memikirkan itu, kamu sadar lebih penting."
"Oh, jadi maksud kamu anak ini nggak penting? Baik, sekarang biarkan aku pergi." Keyla meninggikan suaranya seraya menepis tangan Alex yang masih menggenggam lengannya.
"Sayang... Bukan begitu maksudku."
Alex mengejar Keyla, langkahnya sempat tertahan karena ucapa Keyla. Ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu, pada saat itu dirinya benar-benar khawatir dengan kondisi istrinya. Jika istrinya baik-baik saja sudah pasti anak yang ada di dalam kandungan Keyla juga baik.
"Hiks... Awas, hiks... Nggak usah sok peduli."
"Sayang dengarkan aku dulu," ujar Alex berusaha mendekati Keyla. "Kamu salah." Alex mengurungkan niatnya untuk memberi penjelasan. Sekarang bukan waktu yang tepat, toh sama saja ujung-ujungnya pasti berujung perdebatan karena Keyla tidak percaya kepadanya.
Alex membawa Keyla ke dalam pelukannya, mengecup lembut pucuk kepala istrinya. "Jangan marah, aku bersungguh-sungguh mencintai kalian...." lirihnya di telinga Keyla.
"Aku belum memakan puding coklat siang tadi, rencananya aku menyuruhmu untuk makan. Cepat ke kamarku, setalah itu kita pergi ke rumah Almira."
"Tentu saja sayang, lagi pula aku juga belum makan." Alex menggendong Keyla menuju kamar. Apa saja, terpenting sekarang membuat Keyla tidak berpikir negatif kepadanya.
__ADS_1
Keyla mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Keyla menatap lekat-lekat wajah suaminya, banyak bulu-bulu halus yang sudah tumbuh. Tidak panjang, tapi dirinya kurang suka. Seperti apa kondisi suaminya di saat dirinya pergi, sampai-sampai ia tidak lagi mengurus penampilannya. Dulu ia sangat mengedepankan penampilan, tetapi setelah Keyla tidak ada ia berubah menjadi pria menyedihkan seperti tidak bisa mengurus diri sendiri.
"Tampan bukan?"
"S-su-dah sampai, turunkan aku," ujar Keyla gelagapan, ia tidak sadar sudah lama menatap wajah suaminya.
"Jawab dulu, baru bisa turun."
"Aku masih marah pada mu, jadi jangan banyak tanya. Cepat lepaskan aku mau turun."
"Baik Nona keras kepala."
Tak!
Satu pukulan mendarat di kepala Alex.
"Ah, sakit sayang." Alex meringis kesakitan, akibat pukulan yang lumayan kuat.
"Alah itu aja sakit, kayak belum pernah ke jedot benda keras," ujar Keyla menatap sinis. "Kamu tam-"
Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya Alex lebih dulu membekap bibir istrinya dengan bibirnya, Alex merasa sangat bersalah kepada istrinya. Cukup bekas memar di wajahnya saja yang terlihat, jangan diucapkan lagi dari mulut.
Keyla melepaskan diri dengan nafas yang memburu, ia membutuhkan oksigen agar bisa kembali bernafas dengan lancar.
"Lakukan apa saja yang kamu mau Key, kamu bisa membalas tamparan itu. Bukan hanya tamparan, kamu juga bisa memukulku dengan kuat. Asalkan kamu tidak mengatakan itu lagi, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri..." lirih Alex, tidak masalah apapun yang akan Keyla lakukan kepadanya. Alex siap menerima hukuman, asalkan ia bisa terus bersama Keyla.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ramaikan dengan like, dan komentarnya dong.😁
Bantu dukungan votenya juga supaya makin semangat upnya yaa. 😘😘