Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 51


__ADS_3

***


"Mbak Keyla," teriak gadis yang selalu antusias jika bertemu dengan Keyla.


Hm, siapa lagi kalau bukan Almira.


Ya, Keyla sudah mendapatkan izin dari Alex, tapi dengan pengawasan dari Sasya yang sengaja di perintahkan untuk menjaganya.


"Aku rindu Mbak Key." Almira memeluk Keyla dengan sangat erat, sampai-sampai Keyla kesulitan bernafas.


"Kamu mau bikin Mbak mati di sini?" tanya Keyla melepaskan lengan Almira yang melingkar pada tubuhnya. "Nic mana?" tanyanya lagi saat tidak melihat sosok Nicholas.


"Lagi ke toilet, ini siapa Mbak?" Almira melihat gadis yang sedari tadi mengikuti Keyla.


Gadis itu tanpa segan menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Almira, dengan senang hati Almira membalas jabatan tangan gadis itu. "Saya Sasya, Asistennya Mbak Keyla. Senang bisa bertemu dengan Kakak. Saya suka lihat Kakak soalnya cantik banget," ujar Sasya senang.


"Saya Almira, kamu juga cantik. Jadi, kita di sini sama-sama cantik. Benarkan Mbak Key?" Almira mengucapkan dengan penuh percaya diri.


Tapi memang benar kok, cantik.


"Suka-suka kalian aja, udah duduk. Gak pegal apa berdiri terus." Keyla menggeserkan kursi untuk di tempatinya, dan diikuti kedua gadis yang baru saja saling berkenalan itu.


Sasya sengaja Alex tugaskan untuk menjaga Keyla agar tidak terlalu dekat dengan Nicholas, dan melaporkan segala sesuatu yang mereka lakukan bersama.


Tentu saja Sasya tidak sejahat itu membawa laporan mengenai apa saja yang mereka lakukan, walaupun mereka berdekatan pastinya sewajarnya saja. Sebatas pertemanan.


Tuan Alex saya yang terlalu berlebihan.


"Itu dia Kak Nicho nya." Almira menoleh ke arah Nicholas yang berjalan begitu gagah.


"Hai semuanya, maaf sedikit lama."


"Gapapa kok Nic, aku baru aja sampai. Eh iya, aku bawa Sasya untuk temanin aku, gak masalahkan?"


"Tentu saja tidak," jawab Nicholas dengan cepat.


Mau adanya gadis itu ataupun tidak, semua tidak menjadi masalah untuk dirinya. Malah akan lebih seru karena jadi rame.


Nicholas menarik kursi di samping Almira seraya bertanya, "Udah pada pesan makanan dan minuman?"


"Belum," jawab Almira membuat Nicholas memajukan bibir bawahnya.


"Tekan aja desk bell-nya," perintah Nicholas pada Almira, karena bell itu berada di dekatnya. Almira mengikuti perintah Nicholas menekan bell-nya.


Tak lama, seorang waiter datang menuju tempat mereka.


"Four signature dish for us," ucap Nicholas, waiter itu mencatan pesan seraya tersenyum dan mengangguk sopan. "Ada lain yang ingin kalian pesan girl?" tanyanya lagi memastikan semuanya.


"Em, coklat panas sama lava cake," tambah Keyla dengan semangat.


Sejak hamil, coklat selalu menjadi makanan andalan untuk Keyla menahan rasa mualnya.

__ADS_1


Wajar saja jika ia selalu mengonsumsi makanan yang serba mengandung coklat.


"Oke, ada lagi?" tanya waiter yang masih setia menunggu.


Semua dari mereka saling melempar pandangan.


"Sepertinya tidak ada," ujar Nicholas.


Waiter itu tersenyum, dan membungkukkan badannya. "Baiklah, mohon tunggu sebentar." Lalu meninggalkan mereka untuk menyiapkan hidangan.


"Pulang nanti harus menunggu jemputan lagi atau sudah ada yang menunggu?" tanya Nicholas kepada Keyla.


"Huh?" Keyla sempat tidak mendengarkan pertanyaan Nicholas. "Apa?" tanyanya lagi.


"Pulangnya nanti di jemput atau sudah di tungguin?" Almira mengambil alih pertanyaan dari Nicholas, ia merasa kesal dengan Keyla yang asyik sendiri sampai-sampai tidak peduli dengan apa yang Nicholas tanyakan.


"Oh, dijemput." Keyla menjawab singkat.


Permainan yang sedang dimainkannya menjadi lebih seru dibandingkan cuman duduk terdiam menunggu hidangan makanan.


Mata Nicholas terfokus kepada Keyla yang menurutnya sedikit berubah, bentuk pipinya menjadi lebih berisi. Bukan hanya pipinya saja, sepertinya seluruh postur tubuhnya berubah menjadi berisi semua.


"Kamu kuliah di mana Sya?" tanya Nicholas kepada Sasya yang hanya berdiam diri, berbeda dengan Keyla dan Almira mereka terlalu sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


"Belum Tuan, sepertinya tahun depan."


"Masuk kuliah di tempat aku aja Sasya, nanti kamu bisa dapat beasiswa lagi kalau pinter." Almira ikut menimbrung.


"Permisi, pesanannya sudah datang..."


"Terimakasih," ucap Keyla, sesegera mungkin ia menyambar pesanannya.


Nicholas tidak bisa berhenti menatap Keyla, seperti mendapatkan aja saja-- padahal cuman hot coklat dan lava cake, tapi Keyla terlihat senang sekali dengan minuman dan makanan pesanannya.


"Silakan menikmati makanan dan minuman andalan di tempat kami," ujar salah satu waiter setelah meletakkan semua makanan di atas meja.


"Terimakasih." Nicholas berujar tanpa menatap kedua waiter itu, matanya masih terus memandangi Keyla, dan untung saja Keyla tidak memperhatikannya.


Kedua waiter itu membungkukkan badannya. "Kami permisi dulu, dan selamat menikmati." Keduanya meninggalkan mereka.


"Kak Nicho sering kemari?" tanya Almira sambil menyuapi dirinya dengan makanan yang sudah ada di tangannya.


"Tidak, kenapa?"


"Mm, aku cuman nanyain doang. Soalnya Kak Nicho sudah tau menu andalan di sini, dan makanannya benar-benar enak loh."


"Itu, Kakak sudah sering dengar dari teman-teman kakak."


Almira hanya ber-oh-ria, tidak ada lagi yang perlu ditanyakan lagi. Makanannya itu benar-benar menghipnotisnya agar terdiam untuk menyatap, dan merasakan bagaimana nikmatnya makanan itu. Sungguh sangat lezat sekali.


Berbeda dengan Keyla, ia bahkan belum menyentuh makanan yang Nicholas pesankan. Bukan tidak mau, hanya lumeran coklat di hadapannya lebih menggugah dari pada makanan yang lain.

__ADS_1


"Seperti ada yang beda dengan diri kamu Keyla," ujar Nicholas.


"Huh?" Keyla mendongkak kepalanya. "Beda apanya? Orang masih sama kok," balas Keyla santai.


"Anehnya Mbak Keyla jadi semakin cantikkan Tuan?" Tanya Sasya sekaligus menjadi pernyataan.


Keyla memicingkan matanya, ia selalu berurusan dengan orang-orang yang suka sekali membahas roman. Apa tidak ada yang lebih menarik dari pada membahas rupa?


Nicholas menggelengkan kepalanya, bukan tidak setuju. Ia bahkan mengakui Keyla memang sangat cantik, tapi ada yang lain yaitu postur tubuhnya menjadi berisi. "Keyla terlihat gendutan."


"Wajar kali Tuan... Namanya juga sedang hamil."


"Ha'h? Kamu hamil Key? Serius? Kok gak pernah ngasih tau ke kita?" tanya Nicholas beruntun. Ia memasang wajah bingungnya sekaligus penasaran, apa benar yang di lontar Sasya?


Kamu saja kali, yang lain sudah tau semua.


"Em-- eu--" Keyla menjadi gelagapan, tak tau bagaimana menjelaskannya. Pasti Nicholas akan marah jika tau dirinya sudah hamik semenjak ia tinggal bersama Almira, dan bisa-bisanya ia menutupi itu dari Nicholas.


"Terus kalo Mbak Key kasih tau dia hamil, Kakak mai jadi dukun beranak nantinya?" tanya Almira menaikkan sebelah alisnya.


"Gak juga sih."


"Terus ngapain jadi kepo gitu?"


"Ya gak ada, mau mastiin aja. Kalo benar jadi kita harus tunggu apa lagi?" Nicholas sengaja menggoda Almira.


"Paan sih elu?" Almira menyenggol Nicholas dengan sikunya, dan di balas dengan tawa kecil dari mereka semua.


Sisi lain, dari Almira merasa senang. Meskipun hanya candaan tapi sudah membuatnya melayang entah ke mana.


"Tunggu Kak Almira nya siap wisuda dulu toh Tuan."


"Kamu benar Sasya, ngapain buru-buru kawin. Ntar nyesal ya,kan?!" seru Almira meskipun hatinya bertolak belakang dengan ucapannya.


"Makanya nikah dulu baru kawin, apalagi nikah sama cowok seperti aku ini," ucap Nicholas percaya diri.


"Ke-pe-de-an," balas Almira seraya tersenyum malu-malu kucing.


Di waktu bersamaan mereka tertawa bersama. Tertawa lepas tanpa ada keterpaksaan sedikitpun.


Sampai-sampai Keyla membiarkan ponselnya yang terus bergetar. Panggilan telepon di saat yang tidak tepat, sekarang dirinya sedang menghabiskan waktu bersama yang sangat jarang bisa mereka lakukan, jadinya ia sengaja membiarkan ponselnya. Lagipula tidak ada panggilan yang penting, karena ia tau itu adalah Alex yang suka sekali mengganggunya .


.


.


.


.


.

__ADS_1


Note: Slow Update


ILY my sweet reader ^_^


__ADS_2