
Pada saat Alex keluar dari kantor Nicholas hatinya sudah benar benar kacau. Penampilannya terlihat begitu berantakan. Memutuskan persahabatannya dengan Nicholas yang sudah dijaganya sejak kecil memang bukanlah hal yang benar, hanya saja dirinya terlalu mengikuti egonya.
Di saat pikirannya sedang tidak tenang Alex memilih untuk menemui Mira untuk sedikit menenangkan pikirannya. Tepat sekarang Alex sedang memasukkan sandi agar pintu apartemen itu terbuka.
Tidak menunggu lama saat pintu itu terbuka, Alex membawa langkah kakinya menuju arah tawa dari Mira.
Sedang apa wanita itu tertawa begitu bahagia? Dirinya terus melangkah menuju kamar tidur Mira di mana suara itu berasal.
Mata Alex langsung terbelalak melihat pasangan di hadapannya sedang asyik bergelut.
"Wah bagus sekali pertunjukan kalian."
Mereka yang baru menyadari kehadiran Alex menghentikan aktivitasnya, dan Alex berjalan mendekati tempat tidur Mira.
"Kamu tidak menutup pintu depan sayang, lihatlah siapa lelaki ini berani masuk ke dalam dan mengganggu kita." Ucap pria yang di samping Mira.
"Tutup mulutmu dan cepat keluar dari sini." Bentak Mira.
"Kenapa kau menyuruhnya pergi? Lanjutkan saja, biar aku yang keluar." Ujar Alex dengan dingin. Manik matanya begitu jelas menunjukkan kemurkaan terhadap Mira.
"Tunggu !! Jangan pergi dulu Alex. Aku bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi." Mira menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu mengejar Alex dari belakang. Ia tidak peduli kepada pria tadi yang masih mengenakan pakaian di dalam kamar.
"Dasar wanita murahan. Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Aku tidak bodoh sampai harus mendengarkan penjelasan yang sudah aku lihat kebenarannya." Alex menangkis kuat tangan Mira yang berusaha menahannya.
Tapi Mira tetaplah Mira yang tidak mau kalah dengan Alex, dirinya masih menahan agar Alex tidak pergi. Sekarang hanya tinggal Alex dan Mira lelaki yang tadi bersama Mira sudah keluar.
"Berhenti mengejarku!"
"Tidak. Kalau kamu pergi dari sini aku akan melukai diriku sendiri." Mira sudah mengambil pisau yang ada di sampingnya.
"Lihat pisau yang ada di tanganku! Jika sampai kamu benar benar pergi aku juga akan pergi selama lamanya." Ancam Mira dengan pisau yang sudah diletakkan di urat nadi pada pergelangan tangannya.
__ADS_1
Alex yang mendengarkan Mira dengan cepat menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mira. Karena dia tau wanita itu adalah orang yang nekat.
"Berhenti bersikap konyol Mira, ini tidak lucu."
"Lepaskan pisau itu, aku tidak mau sampai terjadi apa apa denganmu. Aku pasti akan kerepotan memberi penjelasan kepada orang orang jika sampai kau mati konyol." Alex mendekatkan diri untuk berusaha merebut pisau di tangan Mira.
"Aku tidak peduli, terserah kamu mau bilang apa. Silahkan pergi saja."
"Oke aku tidak pergi." Pungkas Alex.
"Bohong. Kamu hanya berpura pura supaya aku tidak melukai diriku sendiri."
Alex sudah benar benar geram dengan tingkah laku Mira. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan, jangan membuat ku semakin marah."
"Aku hanya minta maaf dan jangan tinggalkan aku, tolong dengar penjelasan dariku. Kamu harus dengar penjelasan dari semua ini." Mira sudah menangis dengan suara sangat kuat.
"Buang dulu pisau yang ada ditangan kamu, aku janji tidak akan pergi." Sudah menyerah dengan ancaman dari Mira.
"Katakan apa yang ingin kamu jelaskan."
Mira menarik nafasnya dalam dalam.
"Seperti apa yang sudah kamu lakukan dulu, di saat kamu memutuskan untuk menikah dengan perempuan itu aku hampir gila menahan rasa sakit hati menerima pengkhianatan dari kamu."
"Sekarang kita impas, kamu telah memberiku luka aku juga telah memberi kamu luka. Tidak bisakah kamu memaafkan ku seperti aku memaafkan kamu dulu?" Pinta Mira dengan suara lirih.
"Dan satu lagi, kamu tidak perlu menceraikan perempuan yang menjadi status istri kamu. Aku menerima semua aku tidak akan pernah memaksakan kamu untuk bercerai lagi, aku mohon Alex maafkan aku."
"Pintar sekali wanita ini." Alex membatin.
Dirinya menggertakkan giginya untuk menahan amarahnya yang semakin memuncak.
__ADS_1
"Aku memaafkan kamu tapi untuk kelanjutan hubungan kita, aku butuh waktu untuk memikirkannya." Ucap Alex dengan muka datar, Alex adalah tipe lelaki yang dingin dan suka memaksa kehendaknya tapi tetap saja dirinya tidak pernah suka melakukan kekerasan fisik.
Hatinya sungguh sangat kecewa melihat apa yang sedang diperbuat kekasihnya dengan pria lain. Namun Mira sangat pintar dalam mengolah Alex dalam segala hal, dirinya tau Alex akan melunak jika Mira sudah mengaitkan dengan pernikahannya dengan Keyla.
"Maksud kamu memikirkan hubungan kita itu apa?" Mira melepaskan pelukannya dan menatap mata Alex yang ada dihadapannya.
"Apa kamu ingin menyudahi semua ini." Mira melanjutkan pertanyaannya dengan raut wajah setengah kecewa dan setengah berharap agar Alex tidak mengakhiri hubungan dengannya.
"Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan kamu, bukan kamu tau seberapa besar kesalahan kamu aku tetap mempertahankan kamu di sisiku. Hanya saja tentang pertunangan kita aku tidak bisa melanjutkannya besok."
"Sampai kapan?" Mira menggenggam tangan Alex untuk mengharapkan jawaban apa yang akan keluar dari mulut Alex.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban itu sekarang. Bisa jadi sampai aku bisa melupakan semua kejadian kamu yang tadi."
"Oke, aku mengerti. Terimakasih karena sudah mau memaafkan ku dan bersedia untuk tidak meninggalkanku, aku tau aku telah melakukan kesalah yang besar." Mira kembali memeluk Alex dengan mengulumkan senyum penuh kemenangan. Dirinya tau Alex tidak tega meninggalkannya segampang itu.
"Kenakan pakaianmu, kita akan keluar untuk mencari tempat tidur lain, aku tidak mau kamu kembali menggunakan tempat tidur yang menjijikkan itu." Alex menarik Mira agar melepaskan pelukannya.
"Baiklah. Tunggu sebentar aku akan bersiap siap."
Mira tersenyum lembut ke arah Alex. Dirinya sangat bangga karena bisa dengan sangat mudah mendapatkan pernyataan maaf dari Alex.
Alex menunggu Mira disofa tempat biasa dirinya duduk dengan Mira. Kejadian Mira dengan pria tadi masih terlintas dalam bayangan Alex, membayangkan semua yang terjadi di depan matanya seperti mimpi buruk yang menghampiri tidurnya.
"Ini seperti hukuman untukku yang sering menyakiti istriku sendiri. Kalau sampai kamu tau aku sedang merasakan sakitnya di khianati mungkin kamu aku sangat senang bahkan bisa jadi kamu sudah menertawakan ku." Pikiran Alex mulai merasakan bagaimana perasaan Keyla yang sering dilukai olehnya. Bahkan kadang kadang secara terang terangan bermesraan dengan Mira.
"Sayang aku sudah siap." Suara Mira membuyakan Alex dari lamunannya.
"Hmm... Kamarnya jangan dikunci, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mengangkat keluar tempat tidur kamu yang menjijikkan itu."
"Oke aku akan membukanya kembali." Mira berjalan menuju kamarnya yang telah di kunci, bukan karena lupa hanya saja dirinya terbiasa mengunci pintu kamarnya jika pergi keluar rumah.
__ADS_1