Terikat Pernikahan Kontrak

Terikat Pernikahan Kontrak
BAB 57


__ADS_3

Di rumah Mira, tempat di mana Alex mendatanginya malam itu.


Dengan tubuh bergetar, Alex memaksa dirinya untuk berdiri. Tiba-tiba kepala begitu amat sangat pusing karena efek samping dari obat bius.


Mira, wanita itu begitu licik. Ia menggunakan bahkan menyuruh salah satu temannya untuk menyuntik obat bius kepada Alex, sehingga Alex tak sadarkan diri selama kurang lebih delapan jam.


Alex menyandarkan tubuhnya pada dinding, ia membutuhkan pertolongan. Tak mungkin ia bisa berjalan keluar sendiri.


"Ah," keluhnya lagi saat pusing kembali melanda dirinya. Tangannya berusaha meraih telepon rumah yang ada di dalam ruangan itu, beberapa kali ia mencoba mengingat nomor telepon rumahnya.


Otaknya seperti susah mengingat. Entah sudah berapa kali ia menekan tombol angka pada telepon itu.


Pada percobaan kesekian kali, akhirnya ia berhasil menyambungkan panggilan ke telepon rumahnya.


"Halo..." sapaan suara dari sambungan kabel telepon yang sudah terhubung.


"I--ini saya Alex, cepat hubungi Ana. Saya butuh pertolongan, suruh dia datang ke rumah Mira."


Apa yang terjadi Tuan?"


"Sekarang bukan waktu untuk bertanya, cepat telefon dia. Saya tidak ingat nomornya, HP saya tidak tau di mana."


Alex memutuskan panggilan.


Ia mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi. Tapi Alex seperti kehilangan ingatan, sangat susah untuknya mengingat.


***


Vila tempat Keyla disekap sekarang.


"Bangun!" Mira menarik lengan Keyla dengan kuat, hingga ia terduduk. "Ternyata kau sangat menikmati tempa ini." Tangannya beralih ke dagu Keyla dan mencengkam dengan paksa.


Seharian menangis, membuat Keyla lelah dan tertidur.


"Katakan apa tujuan kamu membawaku kemari?"


"kau tanya apa tujuanku? Tujuanku hanya satu. Aku mau kamu mati." Mira menatap tajam Keyla, ia mengatakan dengan serius. Artinya ia tidak sedang bermain-main dengan ucapannya.


"A--a--apa mak--sud kamu?" tanya Keyla dengan bibirnya bergetar.


"Mati. Ya, mati. kau harus hilang dari muka bumi ini. Alex milikku!" tegasnya penuh amarah.


Satu berdiri tak jauh dari Mira dan Keyla, ia berjalan perlahan mendekati Mira. Lalu ia berbisik sesuatu pada Mira yang entah apa, hanya mereka dan tuhan yang tahu.


"Aku sudah memutuskan. Kau tidak akan mati dulu, tapi kalian akan mati bersama."


Keyla menatap skeptis wanita di hadapan. Benar-benar licik.


Ia menggelengkan kepala seraya menanyakan, "Aku mohon jangan. Katakan saja apa maumu?"


"Tinggalkan Alex!" ujar Mira penuh penekanan, Keyla kembali menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau.


"Mana Fotoku dan Alex," pinta Mira kepada temannya dan ia langsung menyerahkan sebuah amplop besar.


Mira mengeluarkan beberapa lembar foto, dan betapa terkejutnya Keyla melihat foto-foto itu. Alex bersama Mira? Terpampang nyata pada gambar yang diperlihatkan wanita itu kepada Keyla bahwa, Alex tidur bersam Mira.


"Bohong!" Keyla berusaha membantah semua yang terlihat, bisa sajakan wanita itu meminta orang untuk mengedit?

__ADS_1


"Itu semua akal-akalanmu, suamiku bukan tipe lelaki yang akan tidur dengan sembarang wanita," tegasnya tak ingin mengakui kebenaran pada lembaran foto itu.


Satu demi satu air mata telah lolos dari pelupuk matanya, jika itu benar adanya. Akan sangat menyakitkan.


"Oh, cup-cup. Jangan menangis sayang, terima saja kenyataannya. Aku juga bukan tipe wanita pembohong, kamu lihat saja foto-foto itu. Apa ada kebohongan? Perhatikan dengan jelas itu Alex atau bukan! Kau tak mungkin lupa wajah suamimu-kan?" desis Mira.


"Ya, terima saja kenyataannya. Ini tandanya Alex masih mencintai Mira," ucap wanita yang berdiri di samping Mira, lalu tangannya dengan cepat menyambar rambut Keyla hingga membuat kepalanya terangkat ke atas. Ia hanya bisa pasrah, tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis.


"Akan kuberi kau pilihan, kau mau hidup bersama anakmu dengan syarat kau harus menceraikan Alex, atau kau mau mati sekalian dengan anak yang ada dalam kandunganmu. Kau tidak perlu bercerai dari Alex, tapi otomatis kalian sudah berpisah karena kau sudah mati."


Tiba-tiba, terdengar dering nada ponsel.


"Itu ponselku, kembalikan!" Keyla yang tau suara itu berasal dari ponselnya meminta agar wanita yang tak di ketahui namanya mengembalikan ponselnya.


"Alika, silakan cek panggilan dari siapa!" perintah Mira. Tangannya tiba-tiba kembali mencengkam pergelangan Keyla dengan kuat, ia tak peduli dengan suara Keyla merintih kesakitan ulahnya.


"Ana," ujar wanita yang disebut namanya Alika.


"Angkat!" seru Mira.


"Keyla ini aku, kamu di mana sekarang?" tanya suara yang khas di pendengaran Keyla. Itu adalah Alex, suaranya begitu berat. Entah apa yang terjadi.


"Katakan kau ingin bercerai darinya," desis Mira sembari meraih dagu Keyla, lagi-lagi ia menancapkan kukunya pada kulit Keyla yang mulus. "Katakan!" serunya sekali lagi.


"Alex..." lirih Keyla air matanya bercucuran membasahi pipinya.


"Sayang apa yang terjadi denganmu? kamu di mana sekarang? apa kamu baik-baik saja?" tanya Alex beruntun, suaranya menyiratkan kekhawatiran.


"Cepat katakan kau ingin bercerai dengannya," bisik Mira tepat pada telinga Keyla. "Kamu hanya memiliki pilihan antara hidup atau mati." Ia kembali mengancam Keyla.


"Jawab Aku Key... Kamu di mana sekarang!"


Mira merebut ponsel yang ada pada tangan Alika. "Hai honey, bagaimana tidurmu? Pasti sangat nyenyakkan? Aku sedang bersama istrimu sekarang. Apa kamu tidak sedih mendengar permintaan cerai dari wanita sialan ini?" tanyanya dengan nada mengejek, tangannnya tidak lepas dari wajah Keyla.


"Kamu! Di mana istriku? Awas saja jika sesuatu terjadi padanya! Jangan harap kamu bisa bernapas lagi!" Ancam Alex serius.


"Baby, kenapa kamu marah padaku. Inikan yang kamu inginkan? Kamu berpisah dari wanita sialan ini. Tenang sebentar lagi aku akan mengirimnya ke neraka."


"Kamu yang lebih dulu aku kirim ke neraka!" Seru Alex, lalu panggilan itu terputus.


Keyla tak bisa berkutik ketika lengannya diikat dengan kuat ke belakang menggunakan tali.


Di sana, wanita dengan senyuman khas devil-nya.


"Sampai air mata yang kau keluarkan darah sekalipun aku tidak akan membebaskanmu dari sini," ucap Mira. "Alikan mari keluar, aku merasa panas di sini," tambahnya lalu ia melempar ponsel yang jatuhnya tepat pada pelipis Keyla.


Ya, ruangan yang digunakan untuk menahan Keyla begitu panas. Tak ada AC ataupun kipas angin. Mereka sengaja menyiksa Keyla.


***


Suara kegaduhan memecahkan keheningan malam, beberapa kali terdengan letupan peluru yang dilepaskan.


BRAKK


Sekali terjang pintu di hadapan Keyla terbuka lebar, Mira masuk dengan pistol di tangannya. Ia berjalan cepat mendekati Keyla.


Alika masuk bersamaan dengan Eric, lalu berkata, "Cepat Mir, polisi sudah mengepung kita di luar."

__ADS_1


Polisi? Terimakasih Tuhan. Batin Keyla


"Kenapa kau ceroboh, bisa-bisanya kau menyisakan ponsel itu!" desis Eric, lalu Mira menyeret Keyla tanpa ampun. Alika membantunya untuk membekap mulut Keyla.


Tidak lama, beberapa polisi masuk ke dalam. Mereka sudah lengkap degan senjata api.


"Angkat tangan kalian! Dan jangan ada yang bergerak!" titah salah satu polisi, lalu mengarahkan senjata mereka secara bersamaan ke arah Mira dan yang lain.


Eric dan Alika mengangkat tangan mereka kecuali Mira.


Tak lama berselang, orang-orang terdekat Keyla pun masuk.


"Alex..." Keyla memanggil namanya, ia sangat ketakutan dengan pistol yang Mira todongkan kepadanya.


"Anda! Cepat buang senjata di tangan Anda!"


"Tidak akan pernah!" sergah Mira, matanya menatap mereka satu persatu. "Jangan ada yang mendekatiku, atau wanita ini akan mati," ancamnya serius. Pelatuk sudah berada pada jari telunjuknya, hanya sekali tekan mungkin peluru itu akan tembus pada leher Keyla.


Tubuh Keyla sudah gemetar dengan hebat, keringat dingin sudah membasahi area dahinya.


Ibu sebebentar lagi kita akan bertemu, aku ingin melihat Ibu. Batin Keyla seraya ia memejamkan matanya pasrah.


DORR...


DORR...


Wanita itu benar-benar menarik pelatuknya, tapi ada suara pistol lain yang bersamaan dengan itu.


Luka? Perih? Sakit? Semua tidak Keyla rasakan, suasana sudah terjadi keributan. Dan tiba-tiba saja, sebuah lengan meraih tubuh Keyla dan mendekapnya.


Keyla membuka matanya dengan perlahan dan ia menemukan dirinya dalam pelukan suaminya. "A-- aku. B--belum mati?" tanyanya bingung.


"Kamu tidak akan mati sayang... wanita licik itu yang mati," jawab Alex membenarkan istrinya sembari mengecup puncak kepalanya, dan melepaskan ikatan yang ada pada tangannya.


"Bereskan manyat mereka!"


Ucapan itu membuat Keyla menoleh kepada beberapa anggota polisi. Di sana, Mira dan Eric tergeletak lemah ada banyak darah yang bersimbah di lantai dan tubuh mereka. Keyla hanya menatap bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sedang terjadi, harusnya ia yang mati.


Di saat Keyla menutup matanya, Eric dengan sengaja menarik tangan Mira agar senjata di tangannya tidak melukai Keyla. Namun siapa sangka, wanita itu gagal membunuh Keyla. Ia malah membunuh Eric, dan dirinya juga ikut tewas karena tembakan dari polisi.


"Terimakasih Pak, berkat kerja sama kalian istri saya bisa selamat." Alex mengucapkan terimakasih kepada pihak polisi yang sudah membantunya.


"Sama-sama Pak Alex, setelah ini kita harus ke kantor polisi untuk mengurus perkara ini agar cepat selesai."


"Baik Pak," sahut Alex cepat. "Ana, Anton. Tolong bantu kami," tambahnya. Alex masih merasa pusing, karena itu ia meminta bantuan mereka.


Anton dan Ana berjalan cepat ke arah Alex dan istrinya. Keadaan berubah setelah tragedi penembakan itu, Keyla tidak perlu takut lagi kini ia aman.


Hanya ada Alika yang selamat, tapi ia harus berurusan dengan hukum. Dia harus siap mendekam di jeruji besi akibat ulahnya, sedangkan Mira dan Eric harus berurusan dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan semua kekejian mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Note: Bab belum direvisi Typo atau mungkin kesalahan yang lain, maaf jika Bab ini nantinya tiba-tiba berubah.


__ADS_2