
Vee dan Jeni melanjutkan kegiatan mereka di Purple Wonderland. Sesuai pembicaraan sebelumnya, apapun yang melibatkan gerakan berputar dan berpotensi membuat Vee kembali mual, ia tidak akan menaikinya. Alih-alih, ia memberi semangat pada Jeni dan bahkan memotretnya.
Vee bisa melihat Jeni begitu bersemangat. Seolah ini adalah hari pada akhirnya ia bisa bebas bersenang-senang. Bagi Vee, melihat Jeni seperti itu, juga adalah kebahagiaan tersendiri. Vee setuju sepenuhnya dengan apa yang Jeni katakan. Bahwa mereka berdua adalah manusia dengan nasib yang sama dan ingin berbagi kepedihan dengan cara yang sedemikian rupa.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan membeli hot dog dan kentang goreng sebagai makan siang keduanya. Kali ini mereka duduk di bawah pohon, di hamparan rerumputan yang cukup luas, yang memang digunakan pihak pengelola sebagai tempat berkumpul keluarga. Tidak jauh berbeda dengan yang mereka lakukan.
“Akhir minggu. Tempat ini ramai sekali.”
Jeni dan Vee menatap ke sekeliling. Mereka bisa melihat beberapa keluarga sedang bermain atau makan siang di sana. Keluarga lengkap dengan ayah, ibu, dan juga anak. Pemandangan yang lagi-lagi tak bisa dirasakan oleh keduanya.
“Apa kau pernah merindukan mereka, Jeni?” tanya Vee mendadak.
“Maksudmu orang tua? Hm, itu pertanyaan yang cukup sulit. Aku kehilangan orang tua saat usiaku masih sangat muda. Aku bahkan hampir melupakan wajah mereka. Bagiku, aku memang terlahir tanpa ayah dan ibu. Bagaimana aku bisa merindukan seseorang yang bahkan tak pernah aku rasakan kehadirannya?” tanya Jeni.
“Kau benar. Tapi, bukankah lebih baik begitu? Setidaknya, kau tidak perlu merasakan rindu yang menyiksa,” ucap Vee.
“Bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Jeni kali ini.
“Orangtuaku … sebenarnya aku juga tidak mengingat mereka. Aku mengalami amnesia. Aku tidak ingat apapun mengenai aku yang dulu. Aku hanya mengenal pria yang merawatku selama ini.” Vee tersenyum getir.
“Aku rasa … kita memang tidak jauh berbeda. Kita mungkin kehilangan orang tua, tapi aku percaya kau dan aku memiliki seseorang yang peduli dengan kita. Benar kan?” tanya Jeni kemudian.
“Kau benar,” jawab Vee singkat.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan setelah perut mereka kenyang. Oleh karena itu, mereka mencoba menaiki wahana yang pastinya tak akan mengocok perut mereka untuk sementara waktu. Setelah puas berfoto-foto, mereka akhirnya memutuskan untuk naik bianglala yang sangat besar.
__ADS_1
Bianglala tersebut penuh dengan berbagai jenis tulisan dari pengunjung yang datang. Terlihat rusuh memang, tapi kalau dilihat lebih dekat, semua sangat menyenangkan. Ada yang meninggalkan pesan untuk suami, istri, anak, orang tua, teman, pacar, dan lain sebagainya.
“Apa kau juga ingin menulis sesuatu?” tanya Vee.
“Hehehe. Tidak. Aku hanya senang membaca pesan-pesan ini. Semua lucu dan terlihat menyenangkan,” ucap Jeni kemudian.
“Ya, kau benar.”
Bianglala mendadak macet dan kemudian berhenti. Jeni yang panik tentu saja dengan reflek memegang kaos yang dikenakan oleh Vee. Berada dalam situasi yang cukup rumit, Vee dan Jeni saling tatap.
Melalui pengeras suara itu, pihak pengelola mengumumkan bahwa bianglala macet dan perlu waktu 10 menit untuk kembali beroperasi secara normal. Vee dan Jeni cepat melepaskan tautan. Mereka menatap ke sekeliling dan posisi bianglala itu cukup tinggi. Hampir berada di puncak.
“Ya ampun maaf, aku reflek saja melakukannya. Ini cukup menakutkan,” ucap Jeni.
“Tidak apa. Berpegangan saja,” kata Vee.
“Kemana Jeni pemberani yang sebelumnya naik semua wahana menantang itu?” tanya Vee menggoda.
“Ish kau ini. Kita berada sangat tinggi dari tanah. Kalau ada apa-apa terjadi-”
“Tidak apa-apa. Akan ada aku di sini,” kata Vee cepat.
Jeni yang saling bertatap dengan Vee, hanya bisa menelan ludah kasar saja. Entah bagaimana, Vee memberanikan diri untuk mendekati wajah Jeni lalu menciumnya. Ciuman yang sangat lembut dan manis bagi keduanya. Terlebih lagi, itu adalah pengalaman pertama bagi keduanya.
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Tangan Vee merengkuh pipi dan rahang Jeni. Tangan lainnya memeluk pinggang Jeni. Sedangkan Jeni masih memegang erat pakaian Vee dan bahkan memeluknya. Ciuman berubah menjadi sedikit intens hingga bianglala itu mendadak bergerak lagi. Sontak keduanya melepaskan ciuman mereka.
__ADS_1
Tak ada lagi saling tatap. Keduanya melihat ke arah yang berbeda. Melalui pengeras suara, dikatakan lagi bahwa bianglala telah bisa beroperasi dengan normal seperti sedia kala. Semua pengunjung akan diturunkan sedangkan bianglala akan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Hari mereka di tempat rekreasi itu berlalu begitu cepat. Langit berwarna jingga mulai terlihat. Matahari juga cepat tenggelam. Keduanya sedang berada di tepian danau buatan di mana pemandangan indah itu terpampang nyata.
“Jeni, aku sebenarnya … harus mengerjakan sesuatu selama kurang lebih satu minggu ini. Apa kau mau menungguku?” tanya Vee.
“Memangnya kau mau kemana? Apa bekerja keluar kota?” tanya Jeni yang bingung.
“Ya, aku ada pekerjaan, tapi bisa dibilang ini sedikit berbahaya. Aku … terus terang ingin sekali terus bersamamu. Aku menyukaimu, Jeni,” ucap Vee.
Jeni yang bingung dengan semua yang mendadak terjadi bertanya, “apa yang sedang coba kau katakan?”
“Jeni, aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu. Aku ingin kita bersama, bukan untuk sementara, tapi selamanya. Oleh karena itu, aku harus menyelesaikan pekerjaan terakhirku ini untuk bisa bersamamu. Aku mungkin tidak bisa mengatakan detailnya padamu, tapi aku harap kau percaya padaku. Aku mungkin manusia yang buruk, tapi aku ingin menjadi manusia yang baik saat bersamamu. Pertanyaannya sekarang, apa kau percaya padaku dan mau menungguku?” tanya Vee serius.
“Lalu … bagaimana kalau kau tidak kembali?” tanya Jeni.
“Satu bulan. Beri aku waktu satu bulan. Kalau hingga saat itu, aku juga tidak muncul di depanmu, maka kau boleh pergi dan bahkan membenciku. Maka aku akan berharap kau menemukan kebahagiaan yang lebih besar daripada saat bersamaku.” Vee memegang tangan Jeni.
“Kau punya ponsel kan? Kenapa kita tidak bisa berkomunikasi seperti biasa saja?” tanya Jeni yang masih bingung.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya. Jeni, aku tidak ingin melibatkanmu di sini. Aku hanya tidak bisa melakukannya untuk sementara waktu.” Vee terus coba menjelaskan.
Jeni diam. Ia coba memperhatikan tatapan mata Vee lekat. Ia tentu saja takut dengan sesuatu hal yang tak pasti semacam ini. Apalagi seolah pria di hadapannya itu akan pergi dan menghilang entah kemana. Jeni tidak bisa menahan diri lagi. Dia menangis di dalam pelukan Vee.
“Apa tidak bisa kalau kau di sini saja?” tanya Jeni lirih.
__ADS_1
“Justru karena aku ingin ada di sisimu, aku melakukan ini. Tolong mengerti aku, Jeni.” Vee memeluk Jeni begitu erat.