Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Rujuk


__ADS_3

Jeni sudah berada di rumah lagi. Ia baru saja menyelesaikan tiga jadwal casting dalam sehari. Satu bintang iklan dan dua bintang drama. Letih, ia menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Banyak hal yang terjadi belakangan dan sangat menyita perhatiannya.


Demi kelancaran aktivitasnya selama di Vegasa, Vante memang sudah menyiapkan mobil beserta supirnya. Walaupun sejujurnya ia tidak ingin menerimanya, tapi tentu saja Vante memaksa. Terlalu banyak alasan yang membuat Jeni berpikir berulang kali untuk menerima bantuan itu. Seperti yang sudah terjadi hari ini.


Semua orang yang ada di masing-masing lokasi casting iklan itu memperhatikan dengan lekat diri Jeni. Wajah yang asing, tapi memiliki mobil mewah dan juga supir pribadi untuk mengawal kegiatannya. Jelas menjadi pertanyaan. Alih-alih mencari tahu mengenai kemampuan aktingnya, semua orang berlomba-lomba untuk mencari tahu siapa orang di balik Jeni.


“Sungguh menyebalkan. Aku datang karena kemampuan aktingku yang baik. Kenapa semua orang jadi penasaran tentang kehidupan pribadiku?”


Jeni membuka pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Entah bagaimana hasil akhirnya, yang jelas ia sudah memberikan yang terbaik pada audisi hari ini. Dia juga ingin membicarakan mengenai hari ini pada sahabat atau keluarga, tapi sayang sekali Jeni sedang perang dengan Vante beberapa hari kebelakang.


“Hmh, apa sulitnya meminta maaf dengan tulus dan bersikap baik padaku? Apa dikira aku akan luluh dengan banyaknya hadiah yang ia berikan padaku? Di lain sisi, bicara saja dia enggan.”


Jeni menggerutu. Ternyata dia memang sedang kesal sekali dengan Vante. Pria itu bisa dibilang tak sensitif juga peka. Sikap Jeni semakin lama semakin buruk justru karena pria itu malah ikut diam. Jeni makin kesal karena Vante seolah ikut marah juga dengan apa yang terjadi.


Di lain sisi, Vante yang telah bicara panjang lebar dengan sang paman melalui telepon, kini merasa jauh lebih siap untuk berbincang dengan Jeni. Kalau dipikir lagi ia memang belum bicara lagi pada Jeni. Hal yang dianggap solusi itu justru mungkin yang memperkeruh keadaan.


Begitu dia masuk ke dalam rumah, ia tidak bisa melihat Jeni di manapun. Ia bahkan bertanya pada seorang pelayan yang mengatakan bahwa Jeni sedang berada di kamar. Vante segera menuju ruangan itu dan ia bisa mendengar dengan jelas suara dari dalam kamar mandi.


Vante melihat bagaimana pakaian wanita itu bergeletak begitu saja di depan pintu. Seolah sebuah kesempatan berharga, Vante dengan cepat menyusul sang istri masuk ke dalam kamar mandi. Vante bisa melihat Jeni berada di dalam bath up dengan mata terpejam.

__ADS_1


Perlahan ia juga ikut masuk ke dalam sana. Riaknya tentu membuat Jeni terkejut setengah mati dan reflek menutup tubuhnya sendiri. Vante hanya terkekeh geli menatap istrinya itu yang salah tingkah.


“Ya ampun. Aku kaget sekali. Kenapa kau asal masuk begitu saja?” tanya Jeni yang kesal.


“Jadi … sudah mau bicara padaku sekarang?” tanya Vante dengan tatapan mata yang tajam.


“A-apa?” Jeni menyadari ia terlalu banyak bicara.


“Maafkan aku, Jeni. Aku tahu aku memang salah dan memang tidak peka. Ya aku pikir itu cara yang baik untuk membiarkanmu sendiri sementara waktu. Ternyata aku salah. Itu justru membuat jarak kita semakin jauh. Aku akui aku memang bodoh dalam hal ini." Vante terlihat menatap dengan tulus.


"Hm, baiklah. Aku memaafkanmu. Ya aku juga tidak menyangka kau sebodoh ini. Aku bahkan sempat berpikir tidak seharusnya memilihmu sebagai suami." Jeni tentu saja bercanda.


"Apa katamu? Jangan keterlaluan." Vante merajuk.


"Jangan bicara seperti itu lagi. Aku salah dan aku minta maaf."


"Iya iya. Aku hanya bercanda. Hanya saja kau benar-benar harus berjanji padaku. Daripada kita harus fokus memadamkan api seperti yang kita lakukan sekarang, alangkah lebih baiknya kita membuang semua benda yang bisa memicu kebakaran. Kau mengerti maksudku kan?" tanya Jeni dengan tatapan serius.


"Ya aku mengerti. Ini memang kesalahanku dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan berhati-hati lain kali." Vante masih merajuk.

__ADS_1


"Baguslah kalau kau mengerti. Hm, dan terima kasih juga untuk semua hadiah itu ya. Asal kau tahu aku sama sekali tidak mengharapkan itu semua. Permintaan maaf yang tulus saja cukup. Terlebih lagi ya momen seperti ini. Di mana kita bisa berbicara dari hati ke hati." Jeni mengusap punggung tangan sang suami.


"Ya. Aku rasanya jadi semakin mengenal dirimu sekarang. Aku akan mencatatnya dengan baik dalam ingatanku, tapi sungguh alangkah lebih baik kalau kita tidak bertengkar lagi. Aku benar-benar kapok." Vante masih terus merajuk.


"Hehehe. Aku mengerti. Mari kita berhenti membahas itu. Jadi, bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Jeni kali ini.


"Baik, hm, sibuk juga. Lalu pekerjaanmu bagaimana? Apa kau sudah menemukan kegiatan baru selama di sini?" tanya Vante.


"Belum. Aku hanya mengikuti beberapa audisi. Berada di negara baru tentu membuatku merasa kembali di titik nol. Ya aku menikmatinya, hanya saja aku tidak suka mereka terlalu ingin tahu tentang kehidupan pribadiku karena mobil dan supir itu. Ck, bagaimanapun aku punya kemampuan." Jeni akhirnya berkeluh kesah.


"Ya mereka pasti akan melihatnya. Kau tidak perlu terlalu cemas. Kau bisa melihat beberapa referensi film atau drama yang ada di negara ini. Kau mungkin bisa belajar dari situ. Aku rasa ada cukup banyak perbedaan antara negara kita sebelumnya dengan negara ini." Vante coba memberi pendapat.


"Ya, itu masuk akal juga. Aku rasa ini memang periode yang baik untuk mengembangkan bakatku sendiri. Kita bisa mulai dengan menonton film kalau begitu. Apa kau … mau membawaku menonton bioskop?" tanya Jeni kali ini dengan senyum berbinar.


"Sekarang?" tanya Vante.


"Ya sekarang. Apa kau tidak bisa? Apa kau keberatan?" tanya Jeni cepat.


"Eh, tidak. Baiklah. Kita bersiap menonton bioskop malam ini juga." Vante menyetujui.

__ADS_1


Keduanya bersiap untuk sesi menonton bioskop mereka. Siapa sangka, bukannya pergi ke bioskop biasa, mereka pergi ke sebuah bioskop mewah yang memang diperuntukkan orang-orang kaya. Tentu saja Jeni menatap dengan kagum. Benar kata Vante, dunia hiburan di Vegasa ini memang jauh berbeda dari yang ia ketahui.


"Kebetulan sekali hari ini ada sebuah film baru yang dirilis. Aku tidak hanya membawamu menonton film, tapi juga membawamu menemui produser dan sutradara juga aktor dan aktris besar di negara ini. Hari ini adalah pesta perilisan film baru itu. Kau pasti akan menyukainya." Vante tersenyum menepuk punggung tangan sang istri.


__ADS_2