Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Menempuh Hidup Baru


__ADS_3

Hari pernikahan akhirnya tiba. Semua tamu undangan telah datang di lokasi pernikahan yang berada di sebuah resort mewah tepi pantai. Keduanya bahkan hampir tidak memiliki keluarga, jadi kebanyakan adalah rekan kerja dari Vante dan Jeni.


Penjagaan ketat dari banyaknya anak buah Vante dan Sanchez, tentu saja membuat para rekan Jeni bertanya-tanya, siapakah sebenarnya calon pengantin pria yang akan menikah dengan Jeni. Begitu Vante menampakkan diri dengan balutan jas hitam dan tuksedo mewah, bisik-bisik para wanita dengan cepat menggema.


Vante memang terlihat begitu tampan dengan raut yang misterius. Senyumnya hanya terbit saat dia melihat Jeni berdiri dengan sangat cantik di ujung jalan. Didampingi Irene, Jeni terlihat cantik dengan gaun putih sederhana yang sarat dengan kemewahan. Berjalan dengan membawa sebuket lili putih yang menyempurnakan penampilan.


“Siapa dia sebenarnya? Sungguh membuat aku penasaran.”


“Aku tidak tahu mana yang lebih beruntung. Apakah Jeni atau sang mempelai pria.


“Seandainya aku mengenal pria itu lebih awal. Siapa dia? Apa pekerjaannya?”


“Tuan Vante sangat beruntung menemukan wanita yang cantik dan juga berbakat.”


“Tidak terlalu mengejutkan saat dua manusia yang tampan dan cantik akhirnya bersatu di pelaminan.”


“Apa ini mungkin hanya pernikahan karena bisnis saja? Atau justru karena pamor?”


Semua komentar itu terdengar berisik di antara para tamu. Masih banyak komentar lainnya yang memang sama sekali tidak mengetahui kapan hubungan itu bermula. Tidak pernah juga menunjukkan kedekatan satu sama lain, tapi tiba-tiba menyebar undangan dan berdiri di pelaminan.


Janji diucapkan dan Vante dan Jeni resmi dinobatkan menjadi suami istri yang sah. Saling menatap satu sama lain, Vante mengecup singkat bibir wanita itu. Dia bukan tipe pria yang suka mengumbar kemesraan di hadapan banyak orang. Lagipula ia punya waktu sendiri untuk melakukannya nanti.


Acara dilanjutkan dengan jamuan makan dan juga pesta dansa. Vante sama sekali tak berhenti menggenggam tangan Jeni yang berada di sisinya. Senyum itu benar-benar hanya ditujukan apda sang mempelai wanita yang terlihat luar biasa cantik di sisinya.

__ADS_1


“Jeni, aku sangat bahagia kita akhirnya bisa menikah. Aku jadi tak sabar.” Vante bicara lirih.


“Aku juga bahagia. Hm, tidak sabar untuk apa?” tanya Jeni ingin tahu.


“Ya mengusir semua tamu ini dan membawamu masuk ke dalam kamar kita.” Tatapan Vante yang sedari tadi tertahan di bibir juga leher Jeni yang terbuka.


Spontan Jeni memukul lengan pria itu dan menggeleng heran. Sejak kapan mafia di sisinya ini mendadak begitu mesum. Jeni hanya tersipu malu, apalagi kalau dipikir lagi Vante memang sudah pernah melihat tubuhnya saat ia hampir diperkosa oleh Kori saat itu.


“Aku sudah sangat berbaik hati untuk tidak menyentuhmu selama ini, Jeni. Bukannya aku tidak pernah ingin, tapi aku sangat amat menahan diriku agar tak melangkah semakin jauh. Karena … sekali aku melakukannya, aku tidak bisa berhenti.” Vante berbisik membuat bulu kuduk berdiri.


“Vante, apa kau bisa berhenti bicara saja?” tanya Jeni kesal.


“Aku hanya mengatakannya saja.” Vante melihat para tamunya kini.


“Hmh, di lain sisi, aku sebenarnya juga mulai muak dengan pestanya. Tidak ada yang benar-benar baik selain … lima orang mungkin dari mereka. Sisanya justru aku dengar membicarakanmu.” Jeni terlihat melirik.


“Aku? Kenapa?” tanya Vante yang bingung.


“Ya … kau tahu kan. Tentang wajahmu yang tampan, lalu apakah kau kaya, siapakah kamu, dan lainnya. Aku mendengarnya tadi. Bahkan sekarang kalau kau lihat lagi, masih banyak mata yang terus memperhatikanmu.” Jeni tanpa sadar menunjukkan kekesalannya.


“Sebentar … apa kau cemburu?” tanya Vante menggoda.


“Hah? Apa? Siapa bilang? Kenapa aku harus cemburu?” tanya Jeni yang sudah semerah udang.

__ADS_1


“Hahaha. Aku tidak tahu kau punya sisi yang ini.” Vante tertawa terbahak.


“Hehehe. Aku juga tidak tahu kau punya sisi yang seperti ini. Caramu tertawa itu … punya pesona yang hangat. Aku suka.” Jeni tersenyum.


“Ya sekarang kita sudah menikah. Mungkin akan setiap hari terkejut karena satu sama lain. Kita akan menyesuaikan diri perlahan. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.” Vante kembali menggenggam tangan Jeni. “Owh ya, dan jangan khawatir tentang para wanita itu. Aku sama sekali tidak peduli bahkan walaupun mereka adalah aktris kelas A sekaligus. Aku sudah jatuh cinta padamu dan aku rasa akan selalu begitu.”


Vante mengecup punggung tangan Jeni dan sebelum membawanya turun ke lantai dansa, Vante mendadak berdiri dan dengan sendok yang ia miliki, meminta perhatian seluruh hadirin yang berada di dalam acara tersebut.


“Selamat malam semuanya. Saya Vante bersama istri saya sekarang, Jeni, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran kalian semua. Saya yakin sebagian besar dari para tamu undangan ini bertanya bagaimana saja bisa mengenal sosok istri saya ini.” Vante menatap sang istri.


“Bisa dibilang hubungan kamu cukup rumit sejak terjalin sekitar hampir enam tahun yang lalu. Saat itu karena satu dan lain hal kita memang harus berpisah. Kami akhirnya bertemu lagi setelah lima tahun. Saya pikir kesempatan tidak akan datang untuk ketiga kali. Jadi, di kesempatan kedua ini saya melamarnya dan kami menikah sekarang.”


“Hubungan kami memang sangat singkat dan sama sekali tidak diketahui oleh publik selain oleh keluarga terdekat saja. Mungkin ini akan mengejutkan untuk banyak orang di sini. Hanya saja, kalian tidak perlu bertanya-tanya lagi, karena kami saling mencintai. Kami hanya memohon dukungan dari kalian semua untuk terus mendoakan kami. Sekarang, mari kita bersulang dan melanjutkan pesta.”


Suara riuh dengan cepat menggema di tepian pantai itu. Angin yang cukup kencang membuat Vante menyerahkan jasnya untuk dikenakan oleh sang istri. Mereka akhirnya berdansa sebentar dan karena tak sabar, Vante akhirnya membawa Jeni terlebih dahulu masuk ke dalam resort. Jeni yang jelas kalah dalam segi kekuatan, hanya bisa berpasrah saat pria itu menggendongnya.


“Vante, kenapa pergi begitu saja? Tamu kita masih banyak di sana?” tanya Jeni yang bahkan belum diturunkan dari gendongan Vante.


“Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, Jeni.”


Vante mencium bibir Jeni begitu mesra. Jeni yang terkejut, pelan tapi pasti mulai menyeimbangi pergerakan sang suami. Vante merebahkan istrinya yang masih berpakaian pengantin lengkap itu di ranjang. Seolah tak sabar, satu per satu Vante membuka kain yang ada di tubuh sang istri. Mengecup perlahan setiap inchi kulit yang terlihat.


“Jeni, malam ini, kamu akhirnya milikku.” Suara Vante berat menggema di telinga Jeni.

__ADS_1


__ADS_2