
Bisa dibilang kondisi rumah tangga yang baru itu berjalan dengan sangat lancar. Pasangan suami istri itu begitu mesra di awal pernikahan keduanya. Vante juga selalu setia mendampingi Jeni kemanapun wanita itu berkegiatan. Bahkan hampir saja lupa kalau ia juga punya tanggung jawab pekerjaan.
"Bukankah kau bilang padaku punya bisnis di luar negeri? Kenapa aku tidak pernah melihatmu bekerja?" tanya Jeni di suatu pagi setelah menyiapkan kopi untuk sang suami.
"Ya aku sebenarnya juga ingin membicarakan tentang itu. Aku ingin membawamu pergi ke luar negeri untuk melihat bisnisku di sana. Aku tidak akan memaksamu tinggal. Hanya berjalan-jalan saja. Lagipula kalau dipikir lagi, aku belum mengenalkanmu dengan rekan kerjaku yang ada di sana." Vante mencetus ide.
"Aku rasa aku bisa melakukannya. Aku sedang tidak mengambil pekerjaan sementara ini. Aku memang ingin sementara waktu untuk fokus dengan rumah tangga kita. Hanya saja kalau dipikir lagi, aku rasa kita harus mulai mempertimbangkan tentang tempat tinggal. Kau punya bisnis di negara lain sedangkan aku punya pekerjaan di sini. Kita tidak mungkin hidup terpisah kan?" Jeni terlihat bersemangat.
"Ya sebenarnya aku juga memikirkan itu. Kenapa aku ingin membawamu ke negara Vegasa. Aku harap kau bisa mengenal tempat itu dan mungkin mempertimbangkan dengan pindah kesana. Tentu saja hanya kalau kau mau melakukannya. Aku tahu akan sulit untuk pindah negara begitu saja dan meninggalkan keluarga juga pekerjaan yang ada di sini." Vante coba untuk memahami.
"Ah jadi itu maksudnya. Ya faktanya memang perlu ada yang mengalah. Tentu saja perusahaan sebesar itu tidak akan bisa diabaikan begitu saja. Aku akan memikirkannya. Kalau untuk pekerjaan aku rasa kesempatan akan selalu ada. Satu hal yang berat hanyalah keluargaku saja. Juan dan Irene juga calon keponakanku yang akan segera lahir." Jeni terlihat merenung.
"Ya jarak Vegasa ke Boranesia tidak terlalu jauh. Dua jam terbang dengan pesawat, kau sudah bisa bertemu dengan mereka. Lagipula … kita bisa memiliki anak sendiri agar kau tidak kesepian." Vante tersenyum menatap Jeni dengan penuh kasih sayang.
Jeni hanya bisa menatap Vante dengan kesal. Mereka bahkan baru saja menikah dan Vante sudah membicarakan tentang anak. Jeni jadi bertanya di dalam hati apakah Vante memang begitu terburu-buru ingin memiliki anak. Vante yang segera menyadari air muka sang istri dengan segera menarik pergelangan tangannya dan membiarkan wanita itu duduk di atas pangkuannya.
__ADS_1
“Ad-ada apa, Vante?” tanya Jeni yang sedikit bingung.
“Aku sangat ingin memiliki anak yang lucu. Mereka pasti akan cantik atau tampan seperti orang tuanya. Hanya saja aku tidak mengatakan ingin anak itu sekarang. Kita punya banyak waktu untuk melakukannya. Bahkan seumur hidup kita. Tidak ada salahnya untuk bersenang-senang berdua dulu sementara waktu. Pasti akan sangat menyenangkan melakukannya bersamamu.”
Seolah menjawab pertanyaan, Jeni tersenyum hangat menatap sang suami. Tangannya yang mengalung di leher sang suami. Semakin lama semakin dekat dan bibir keduanya tak lagi menemukan jarak. Begitu lah khidupan pernikahan keduanya yang masih begitu menggebu.
Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya terbang ke Vegasa. Pertama kalinya juga bagi Jeni untuk melakukan perjalanan keluar negeri. Jeni begitu bersemangat karena menurut cerita Vante, Vegasa punya pesona yang jauh berbeda dengan Boranesia. Lokasinya indah dan juga banyak hiburan yang menyenangkan dengan area pinggir pantai yang cantik.
Begitu tiba di lokasi, Vante juga dengan segera membawa Jeni menuju rumahnya yang modern dan canggih. Kebanyakan fitur di rumah itu hanya perlu menggunakan remot untuk mengoperasikannya. Jeni benar-benar terpukau dengan segala yang dimiliki oleh sang suami.
“Ya … aku hanya suka memanjakan diriku dengan memberikan semua yang memudahkan. Kau tahu kan sebelumnya aku ini hanya seorang perjaka yang tak jago mengurus diri sendiri. Hehehe. Sekarang tentu semuanya berbeda karena aku punya kau.”
Vante memeluk pinggang sang istri dan sekali lagi membawanya berkeliling. Mengusung tema industrial modern, rumah itu jelas cocok sekali dengan pesona Vante yang dingin. Pria itu membawa Jeni ke kamar utama di mana sudah mengalami sedikit penyesuaian setelah dia akhirnya resmi menikah.
Sebuiah kamar dengan ranjang yang luas menghadap ke sebuah balkon dengan pemandangan laut di tebing yang cukup tinggi. Rumah itu memang berjarak cukup jauh dari rumah mewah lainnya yang berada di sekitar. Sepertinya hanya orang penting saja yang berada di sana.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu? Apa kau suka tempat ini?” tanya Vante di sisi Jeni yang sedang menikmati panasnya angin laut.
“Wow, sungguh perbedaan suhu yang sedikit berlebihan. Hanya saja bagaimanapun aku sangat menyukainya. Angin semilir ini begitu cocok dengan hawa hangatnya. Kamar tidur kita juga punya pemandangan yang sangat indah. Aku harap kau tidak punya fantasi aneh dengan apa yang bisa kita lakukan di sini. Aku takut tetangga kita akan mengintip.” Jeni terkekeh sendiri melihat kaca yang begitu bening sempurna.
“Hahaha. Kau terlalu berlebihan, tapi apa yang kau katakan justru membuatku … terinspirasi.” Vante mengedipkan matanya.
“Owh astaga. Aku rasa aku harus berhati-hari dengan apa yang ku ucapkan mulai sekarang.” Jeni berusaha menghindar.
Kegiatan mereka berlanjut dengan pergi ke perusahaan milik Vante. Jeni dengan cepat menyesuaikan diri dengan mengenakan setelan rok berwarna merah dari sebuah brand ternama dan juga riasan dan tata rambut yang mendukung. Pengalamannya sebagai aktris tentu saja sangat membantunya dengan hal semacam itu.
Di lain sisi, Vante juga bersiap dengan setelan jas berwarna putih tulang dengan kemeja berwarna hitam. Seperti biasa ia juga terlihat begitu tampan. Keduanya dengan mobil pribadi mengunjungi perusahaan yang masih berada di jam kerja sekarang. Sekitar jam satu siang setelah semua orang menyelesaikan jam istirahat mereka.
Begitu amsuk ke area kantor, Jeni bisa melihat perusahaan milik Vante. Bukan perusahaan yang terlalu besar, tapi jelas memiliki kesan canggih dan modern. Banujnannya hanya sekitar tujuh lantai, tapi masing-masing lantai punya bagian yang berbeda sesuai dengan pekerjaan masing-masing.
Semua orang dengan cepat menunduk menunjukkan rasa hormat. Jeni tentu saja tersenyum. Vante bisa melihat lirikan mata itu dengan cepat tercipta. Seolah para anak buah itu membicarakan mereka di dalam hati. Tentu saja keputusan untuk membawa Jeni datang bukan tanpa alasan. Selain karena Vante memang ingin mengenalkan Jeni sebagai istrinya kepada semua orang yang dia kenal di negara tersebut, Vante sadar dia harus mulai memberi batasan pada wanita yang masih nekat mendekatinya. Salah satu yang paling ekstrim adalah Rosa.
__ADS_1