Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Hubungan Jarak Jauh


__ADS_3

Jeni sudah dalam perjalanan terbang kembali menuju Boranesia. Ia memang harus melakukan beberapa hal sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Vegasa. Setelah pembicaraan bersama Vante semalaman, mereka akhirnya menyepakati beberapa hal. salah satunya adalah Jeni akan kembali sendirian ke Boranesia.


“Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku berencana akan bertahan di sana selama beberapa hari dan kemudian aku akan membereskan beberapa hal yang perlu dilakukan. Setelah itu, aku pasti akan datang kembali ke sini untuk hidup bersamamu selamanya.” Jeni berusaha meyakinkan.


“Aku tahu itu, tapi setidaknya biarkan aku mengantarkanmu. Aku harus memastikan kau kembali dengan aman. Aku akan merasa sangat bersalah kalau kau mengalami hal-hal buruk selama kembali pulang.” Vante terus memohon.


“Ini hanya perjalanan singkat dengan pesawat. Aku akan baik-baik saja. Lagipula perusahaanmu sudah kau tinggalkan cukup lama. Aku tidak mau jadi alasan para anak buahmu membencimu. Aku tidak mau karena menikah denganku, mereka berpikiran bahwa kau tak serius dengan pekerjaan itu.” Jeni berusaha meyakinkan.


“Tapi … apa kamu yakin bisa melakukannya sendiri?” tanya Vante sekali lagi.


“Aku bisa melakukannya. Aku bukan anak kecil lagi.” Jeni menepuk pundak sang suami.


Vante sebenarnya tidak rela melepaskan sang istri untuk kembali pulang. Walaupun pada akhirnya ia akan kembali, tapi bahkan sehari menjadi sangat berarti. Tentu saja Vante masih sedikit gengsi untuk menunjukkannya pada Jeni. Jadi, ia menggunakan alasan mengantarkan Jeni pulang agar sedikit bisa bertahan lebih lama bersama.


“Aku pasti akan sangat merindukanmu.”


Vante memilih untuk memeluk sang istri ke dalam dekapannya. Sebelum akhirnya mereka akan berpisah esok hari, Vante terus menerus mencium seluruh wajah Jeni dan membuatnya kegelian. Tentu saja malam itu ditutup dengan permainan yang panjang dan melelahkan, tapi juga menyenangkan untuk keduanya.


Keesokan paginya, Vante mengantarkan Jeni untuk pergi ke bandara. Keduanya berpisah di sana dengan ciuman di pipi kanan dan kiri. Vante langsung pergi ke tempat kerja. Sedangkan hal pertama yang Jeni lakukan begitu kembali tiba di Boranesia adalah menemui Juan dan Irene di apartemen mereka.

__ADS_1


Jeni sedang menemui Irene dan menikmati jus jeruk kalengan dingin yang baru saja dikeluarkan dari kulkas. Kandungan Irene sudah sangat besar dan berusia delapan bulan. Gerakannya sudah semakin terbatas dan juga mudah lelah. Itu kenapa Jeni datang ke apartemen, selain karena lokasi itu yang hanya dengan mudah ia jangkau juga untuk mendampingi sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


“Jadi … kalian akan menjalani hubungan jarak jauh untuk sementara waktu?” tanya Irene kali ini.


“Itu tidak akan terlalu lama. Aku hanya ingin melakukan beberapa hal termasuk bertemu dengan beberapa orang selama berada di sini. Setelah itu toh aku akan kembali menuju Vegasa untuk tinggal bersama Vante. Sebenarnya aku ingin menunggu sampai keponakanku lahir. Kau pasti butuh banyak bantuan ketika itu. Hanya saja kau tahu kan, Vante cukup posesif juga.” Jeni hanya bisa tersenyum mengenang sang suami.


“Aku bisa melihatnya. Dia sepertinya sangat mencintaimu. Itu hal yang bagus. Setidaknya kau tahu dia tidak akan selingkuh darimu.” Irene menepuk pundaknya.


“Hmh, kau ini justru membuatku berpikiran yang tidak-tidak. Sebenarnya ketika aku akhirnya pergi ke perusahaan miliknya, aku merasa sedikit terintimidasi. Dia sepertinya atasan yang punya banyak penggemar di sana. Kebanyakan dari mereka sepertinya memandangku sebelah mata karena bisa menikah dengan Vante. Apalagi aku juga tidak punya latar belakang yang mentereng.” Jeni berkeluh kesah.


“Hei, apa maksudmu? Kau perempuan yang sangat cantik dan berbakat. Kau juga faktanya cukup terkenal di negara ini. Kenapa kau mendadak merasa terintimidasi dengan orang lain? Ini bukan Jeni yang aku kenal.” Irene tentu saja bingung.


“Wow. Jujur aku tidak tahu sebesar apa pengaruh rekan-rekan kerja Vante di sana sampai kau berpikiran seperti ini. Apa kau mendapat perlakuan buruk di sana? Apakah separah itu?” tanya Irene dengan cepat.


“Ada seorang wanita. Ia itu sekretaris Vante. Ya dan juga pastinya juga menyukainya. Dia hanya mengatakan padaku bahwa kehadiranku ini mengganggunya. Dia juga mengatakan bahwa akan terus berusaha mendapatkan perhatian Vante dan juga menjauhkanku dari sosok vante. Hal-hal semacam itu.” Jeni menunduk mengingatnya lagi.


“Lalu apakah kata-katanya begitu mengganggu? Vante sangat mencintaimu, jadi kenapa harus begitu khawatir? Bahkan kalau itu memang membuatmu galau, kau hanya perlu berkata pada suamimu. Dia pasti akan memikirkan cara.” Irene memberi saran.


“Ah, tidak. Aku tidak mau. Aku hanya merasa tidak perlu mengatakan hal sereceh ini pada suamiku. Aku tidak mau mengganggunya dengan masalah sepele seperti ini. Sementara waktu, aku pikir akan lebih baik untuk menjaga Vante dengan baik di sisiku. Bagaimanapun aku adalah istri sah di sini. Aku tidak boleh kalah dengan bibit-bibit pencuri suami orang seperti itu kan?” Jeni menguatkan diri.

__ADS_1


“Ya, itu benar. Hanya saja kalau dipikir lagi, maka bukankah lebih baik kalau kau mempercepat sesi ucapan selamat tinggal di sini? Kau harus cepat terbang kembali ke Vegasa dan menjaga Vante seperti yang kau katakan kan?” Irene coba memberi semangat.


“Hm … kau benar juga. Aku belum berpikiran sejauh itu.”


“Kau pasti bisa. Tingkat kepercayaan dirimu. Kau bisa menjadi aktris yang lebih baik selama berada di Vegasa. Aku dengar bisnis industri hiburan di sana jauh lebih berkembang dari pada di Boranesia. Pengalamanmu berakting juga sudah cukup banyak. Kau pasti akan dengan mudah menjadi aktris terkenal di sana. Aku arsa itu akan bagus untuk membungkam para wanita-wanita gatal itu yang berusaha merebut suamimu.” Irene memberi saran.


“Itu sebenarnya cukup bagus juga. Aku bisa menunjukkan kemampuanku. Pada akhirnya, aku bisa menaikkan derajatku setara dengan Vante. Maka, tidak ada alasan lagi bagi para wanita itu untuk mendekati Vante. Aku akan memantaskan diriku sendiri untuk menjadi seorang istri dari Vante.” Jeni kali ini bertekad.


“Ya, Jeni. Aku suka semangatmu itu.”


“Semangat apa? Memangnya Jeni akan melakukan apa?” tanya sebuah suara yang tak asing.


“Juan, akhirnya kau datang juga.” Jeni memeluk sang kakak.


“Akhirnya kau kembali juga dari Vegasa?” tanya Juan.


“Ya. Aku hanya kembali untuk sementara waktu. Aku datang untuk berpamitan dengan kalian semua sekaligus menyerahkan beberapa oleh-oleh untuk kalian.” Jeni tersenyum menatap sang kakak.


“Apa ini perpisahan?” tanya Juan yang terlihat bersedih.

__ADS_1


__ADS_2