Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Kandang Harimau


__ADS_3

Vante mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak jauh di belakangnya ada dua buah mobil SUV lain dan juga beberapa motor di sekitarnya yang membawa sekelompok pasukan dengan senjata masiong-masing. Tak menyangka ia berada dalam perjalanan kembali menuju rumah Darco.


Vante hanya bisa memfokuskan diri pada satu nama. Meskpun ia jelas tidak akan menemukan Jeni di sana. Setidaknya dengan menemui Ibu Kori dan membuat beberapa pernyataan, ia berharap Kori akan menunjukkan batang hidungnya.


Ponsel itu kembali berdering. Di mana Anton mulai bicara lagi.


“Kami sudah mencoba mencari tahu kepada para pelayan di sana. Mereka mengatakan bahwa rupanya Jeni telah menolak perasaan Kori. Mereka mengetahuinya karena seharusnya malam itu ada kelompok musisi yang harusnya menunjukkan penampilannya, tapi semua batal karena hal itu. Lalu juga setelah apa yang kami periksa dari keterangan sopir taksi online itu, alamat yang ia tuju adalah apartemen Anda, Tuan. Sepertinya Jeni sedang menuju ke tempat Anda sebelum akhirnya diculik,” ucap Anton kemudian.


Ya, semuanya kini masuk akal. Vante tidak heran kenapa mendadak malam itu Jeni menghubunginya. Ia mengatakan akan ada hal yang ingin segera ia bicarakan dengan Vante. Kemungkinan besar adalah mengenai mereka berdua. Hanya saja Jeni memang belum menyebutkan kalau dia akan pergi ke apartemennya saat itu.


Begitu tiba di halaman rumah Darco, hal pertama yang Vante lakukan adalah masuk ke dalam. Berbondong-bondong diikuti oleh para anak buah yang dengan mudah membersihkan jalan. Dipukul dan ditendang beberapa anak buah Anna yang sedang berjaga di luar. Anna yang mendengar keributan itu di dalam memberi instruksi pada anak buahnya untuk menahan pergerakan.


Anna yang tampil elegan dengan gaun berwarna merah itu bahkan segera menyiapkan dua gelas. Memasukkan es batu dan mengisinya dengan vodka. Ia berjalan dengan anggun sambil membawa segelas di tangannya. Menunggu Vante menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya.


BRAK.


Anna tersenyum begitu tipis sedangkan Vante sudah menunjukkan kobar mata penuh amarah.


“Akhirnya kita bertemu juga, Vante. Masalahnya, apakah begini caramu pulang ke rumah?” tanya Anna yang mendudukkan dirinya di sebuah sofa dengan kaki bersilang.

__ADS_1


“Ini sudah bukan rumahku. Lagipula aku percaya kau tahu kenapa aku datang dengan cara seperti ini.” Vante berjalan mendekat ke arah Anna.


“Aku rasa kau terlalu terburu-buru. Aku bahkan sudah menyiapkan wine untukmu. Kita bisa menikmatinya bersama.” Anna menunjuk dengan dagunya satu gelas wine yang berada di atas meja.


“Aku tidak ada waktu untuk itu!” Vante makin emosi.


“Wow, kau jauh lebih tampan dilihat secara langsung. Luar biasa. Andai saja kau beberapa tahun lebih tua. Sayang sekali aku tidak suka pria muda. Apalagi usiamu tak jauh berbeda dari putraku, Kori. Ah, tapi kalian juga sudah saling mengenal ya.” Anna meminum wine di tangannya.


“Kalau begitu, kita tidak perlu basa basi lagi. Di mana putramu itu? Di mana dia bersembunyi?” tanya Vante mulai emosi.


“Satu hal yang pasti, aku tidak tahu dia di mana. Apa … dia mengganggumu?” tanya Anna pura-pura tak tahu.


“Kalau kau terus berbelit seperti ini, aku tidak akan punya cara lain selain membawamu juga." Vante menegang.


Sama sekali tak bergeming, mereka saling tatap satu sama lain. Faktanya kalau Vante nekat melakukannya sekarang, tidak akan ada yang terjadi kecuali korban berjatuhan dari dua sisi. Lagipula daripada sang putra, Anna memang terlihat jauh lebih cerdas dan percaya diri. Benar apa yang dikatakannya, Vante telah melangkah masuk ke kandang harimau.


Ia bisa melihat semakin banyak orang bertubuh kekar dengan senjata laras panjang memasuki ruangan. Anak buahnya yang memang kali ini jelas kalah jumlah, akan tewas dengan mudah kalau mereka berani bertindak. Vante yang kesal, menghela nafasnya kasar.


“Kau benar kali ini. Aku yang terlalu terbawa emosi. Kalau kau tidak ingin mengatakan di mana putramu, baiklah, aku akan mencarinya sendiri. Hanya saja jangan salahkan aku, kalau dia meregang nyawa di tanganku!”

__ADS_1


Vante melenggang pergi begitu saja. Anak buah Anna sudah siap menyerang, tapi wanita paruh baya itu menahannya. Ia justru tersenyum dan sengaja melepaskan pria itu. Vante bergegas pergi dari sana bersama seluruh anak buahnya.


“Aku ingin tahu sejauh apa putraku itu bisa diandalkan. Sesuai janjiku, aku akan membiarkan ia membalaskan dendam ayahnya. Ah lagipula itu hanya alasan saja untuk membuatnya bergerak. Sejak kapan aku peduli pada tua bangka Darco itu? Aku hanya ingin Kori membunuh Vante. Ia adalah pria yang bisa mengancam kehidupanku di masa depan dan aku tidak menginginkan itu!”


“Apa kita perlu mencari keberadaan Tuan Kori, Nyonya?” tanya anak buah.


“Tidak perlu. Aku akan mempercayakan semua kepadanya kali ini. Beri dia sedikit waktu. Kita hanya perlu menunggu hasil seperti apa yang akan dia berikan padaku,” ucap Anna dengan senyum penuh arti.


“Vante sepertinya serius dengan ini. Bagaimana kalau dia benar-benar membuat Kori dalam bahaya?” tanya Anna ingin tahu.


“Apa kau menyepelekan Kori? Kau merendahkan aku?” tanya Anna dengan mata membelalak.


“Te-tentu saja tidak, Nyonya. Aku tidak akan berani.” Pria itu menunduk ketakutan.


Di sebuah lokasi lain, di sebuah bekas hotel yang sudah lama tidak digunakan, Kori sedang bersama sang tawanan cantik, Jeni. Gadis itu masih pingsan dan terbaring dengan tangan terikat di atas ranjang. Tentu saja ia sama sekali tidak berniat menyakitinya. Hanya sedikit memberinya pelajaran karena sudah berani menolak cintanya.


Keduanya berada di lantai lima gedung hotel yang tak lagi digunakan itu. Kamar yang seharusnya VVIP itu mulai terlihat lusuh dengan kertas dinding yang mulai mengelupas di beberapa sisi. Meskipun begitu, ranjangnya bersih tentu demi kenyamanan sang tawanan. Dekorasi sarat kemewahan puluhan tahun yang lalu.


Ibunya baru saja membeli bangunan itu. Akan disulapnya menjadi usaha hotel dengan fasilitas plus plus yang pastinya memanjakan setiap tamu yang datang. Sebelum itu terjadi, Kori lebih dulu menggunakannya untuk kepentingannya ini. Tidak akan ada yang menyangka juga dia berada di sana sekarang.

__ADS_1


Kori memperhatikan Jeni yang masih terpejam. Gadis di hadapannya itu memang begitu cantik dan polos. Kori begitu tergila-gila. Tak heran bahkan seorang Vante juga jatuh cinta padanya. Sayang sekali ia tak punya kesempatan yang baik untuk mendekatinya, hingga akhirnya harus menggunakan cara licik seperti ini.


“Apa yang harus aku lakukan padamu, Jeni?”


__ADS_2