
Vante sudah bersiap mengendarai motor besarnya di mana dia diikuti oleh dua mobil SUV yang penuh dengan anak buah Darco. Mereka sudah berhasil memantau pergerakan Sanchez yang rupanya sedang berada di jalan dalam perjalanan kembali menuju rumahnya.
Vante juga sudah memastikan bahwa Sanchez didampingi oleh dua mobil lainnya di depan dan belakang yang berfungsi untuk melindungi pergerakannya. Begitulah dunia mafia di negara itu. Keras dan tak tersentuh.
Berada di sebuah jalan raya, Vante yang bisa melihat rombongan kendaraan dari kejauhan, dengan segera memberi instruksi untuk membuat rombongan itu berhenti. Pertarungan tak bisa dielakkan. Dua kubu mafia itu bertarung.
Di jalan raya yang lebar itu, bahkan polisi tidak akan berani campur tangan. Saling pukul dengan tongkat besi dan tongkat bisbol masing-masing juga tangan kosong. Vante dengan sigap berhasil melumpuhkan satu per satu anak buah Sanchez.
Vante segera membuka pintu mobil Sanchez, di mana pria itu terlihat tak bergeming. Vante menginstruksikan anak buahnya untuk mendampingi. Meninggalkan perkelahian yang belum usai juga di tengah jalan itu.
Vante mengendarai mobilnya menuju sebuah gudang yang memang sudah ia siapkan sebelumnya. Gudang kosong bekas tempat penyimpanan peralatan milik Darco. Beberapa orang juga dengan cepat mengikat Sanchez ke sebuah kursi.
“Tuan, Sanchez sudah di sini,” ucap Vante melalui telepon.
“Bagus sekali, Vee. Kau memang anak buah yang bisa diandalkan. Aku akan segera kesana sebentar lagi,” ucap Darco di seberang.
Menunggu cukup lama, beberapa kali pukulan dilayangkan ke arah Sanchez yang membuat pria itu dengan mudahnya tak sadarkan diri. Di dalam hati, Vante berharap bahwa kondisi pamannya tak akan terluka parah setelah ini. Hingga akhirnya Vante bisa melihat sebuah sedang mewah hitam dengan dua mobil SUV lain mendekat.
Vante bisa melihat Darco turun dengan setelan hitam dan topi vedora. Ia memegang sebuah tongkat berkepala harimau di ujungnya. Dia berjalan dengan tenang dengan senyum mengembang di wajahnya saat menatap Vante dan Sanchez bergantian.
__ADS_1
“Kau memang anak buah yang bisa aku andalkan, Vante. Aku senang sekali kau berhasil melakukannya,” ucap Darco menepuk pundak sang anak buah.
“Tentu saja, Tuan.”
“Wah, akhirnya kita bertemu juga ya, Sanchez. Kau benar-benar membuat masalah belakangan ini. Kau sengaja melakukannya untuk ini kan?” tanya Darco yang menjambak rambut Sanchez kuat.
“Ka-kau marah karena aku menyinggung bisnismu sedikit? Bisnis hanyalah bisnis. Kalau kau ingin bertahan, kau hanya perlu strategi yang matang. Daripada menculikku seperti ini, kenapa kau tidak memperbaiki bisnismu sendiri saja?” tanya Sanchez terbata.
“Aku akan melakukannya. Tentu sebelum itu, aku harus menghancurkanmu terlebih dahulu! Memastikan bisnisku akan berjalan lancar di kemudian hari,” ucap Darco.
“Kau … terlalu mudah merasa tak aman dengan dirimu sendiri. Kau selalu dengan mudahnya menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau buat sendiri. Apa tidak pernah kau berkaca dengan pengalaman sebelumnya? Apa aku harus mengingatkanmu tentang Boirez dan Clarissa?” tanya Sanchez dengan bibir berdarah.
“Kau! Jangan mulai bicara sembarangan!”
Melalui instruksi tangan Sanchez, mendadak ada begitu banyak anak buah pria itu yang memasuki gedung. Tak tanggung-tanggung, mereka membawa senjata api. Anak buah Darco perlahan mundur, tapi tak juga meninggalkan ruangan.
Sanchez menatap kedatangan anak buahnya dengan senang hati, tapi dia baru menyadari bahwa Darco tersenyum. Apakah dia mengetahui mengenai rencana itu?
“Tepat dugaanku. Jadi … kalian sudah saling mengenal? Sudah bernostalgia dan membicarakan masa lalu? Dasar pengkhianat!” ucap Darco yang emosi.
__ADS_1
Semua orang bersiap dalam posisi masing-masing, menunggu instruksi dari bos mereka untuk bergerak. Vante yang berhati-hati bisa melihat sebuah mobil melaju dari kejauhan.
”Jadi, hanya ini yang kalian miliki? Anak buahmu dan anak buahku bertarung bersama. Kerugian paling banyak yang bisa kita dapatkan adalah dengan hilangnya banyak nyawa. Jadi, aku berpikir mengenai jalan keluar yang terbaik bagi kita berdua. Bagaimana menurutmu Vee?” tanya Darco kali ini.
Vante menunggu dengan tegang. Ia tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh Darco. Pria itu justru tertawa begitu keras melihat wajah Sanchez dan Vante yang kebingungan.
“Kalian pikir aku bodoh ya? Kalian pikir aku tidak tahu kalau kau dan kau sudah bersekongkol untuk menjatuhkan aku? Hmh, aku akan menceritakannya sedikit pada kalian. Satu-satunya kesalahanku adalah aku tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa Sanchez akan mengenali Vee. Aku berharap Vee akan menangani pria sepertimu dengan cepat dan mudah. Hanya saja aku sepertinya salah menebak.”
Darco melihat mobil SUV yang berhenti tak jauh di belakangnya lalu kembali berpaling menatap Sanchez dan Vante.
“Aku segera menyadarinya ketika Vee kembali dari pengejarannya. Bagi sebagian orang, ia mungkin pria dingin yang sulit menunjukkan emosi. Tidak berfungsi padaku, karena aku segera tahu bahwa ada yang berubah dari caramu menatapku. Aku meminta anak buahku untuk mengawasimu secara diam-diam. Dari situ aku tahu bahwa kau ternyata sudah mengetahui tentang Sanchez.”
Darco kembali tertawa begitu lebar. Seolah sedang berada di puncak kemenangannya. Membuat Vante dan Sanchez terus bertanya.
“Kau punya sesuatu yang sangat aku inginkan. Sanchez, pamanmu yang juga musuh terbesarku. Aku di lain sisi juga punya sesuatu yang pasti sangat kau inginkan,” ucap Darco santai.
Seorang pria membuka pintu mobil SUV itu dan dengan jelas Vante bisa melihat sosok yang ia kenal sedang bersandar di sana. Itu adalah Jeni dengan tangan terikat dan bibir yang disumbat. Ia sepertinya pingsan dengan rambut berantakan dan lebam di pipinya. Vante yang melihat itu dengan cepat berteriak histeris.
“Ka-kau biadap, Darco! A-apa yang kau lakukan pada gadis itu, Darco? Kenapa kau harus menyeretnya dalam masalah ini?” tanya Vante yang sudah siap menyerbu.
__ADS_1
“Ah, manis sekali. Ada untungnya juga aku meminta anak buahku untuk mengikutimu. Aku tidak pernah menyangka kau akan jatuh pada seorang gadis. Sekarang aku pikir, ini akan menjadi alat tukar yang cukup seimbang. Kau bisa menyerahkan Sanchez padaku, dan sebagai balasannya, aku akan menyerahkan dia padamu. Kita tidak memerlukan pertumpahan darah yang tidak berarti. Bagaimana? Menarik bukan?” tanya Darco dengan tatapan mengerikannya.
Vante menatap Sanchez dan Jeni bergantian. Vante begitu khawatir pada keduanya. Hal ini benar-benar di luar prediksi. Sanchez juga sepertinya cukup terkejut karena keponakannya itu sudah mencintai seorang gadis yang sekarang menjadi sandera yang tak diinginkan. Vante harus berhati-hati dalam membuat keputusan.