Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Menginjakkan Kaki


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Vante akhirnya memutuskan untuk kembali. Game baru telah diluncurkan. Hanya tinggal beberapa masa promosi yang akan diatur oleh bagian pemasaran. Vante harusnya tidak perlu terlalu terlibat. Apalagi dia juga mendapat restu penuh sang paman.


10 jam perjalanan akhirnya Vante lewati. Ia sudah membeli sebuah rumah yang cukup besar juga di kota itu sebelum kembali. Semua dibantu oleh dua orang kepercayaannya, yaitu Anton dan Billy. Juga satu orang lagi yang paling penting baginya, Maria.


Meskipun telah lama terpisah, hubungan Vante dan Maria tetap terjalin. Bahkan kadang Vante meminta Maria untuk datang menonton pertunjukan drama yang dimainkan oleh Jeni. Keesokan harinya, Maria akan menceritakan bagaimana Jeni terlihat cantik dan mengesankan di atas panggung.


Begitu menginjakkan kaki di bandara, Vante bisa mendengar suara Maria yang memanggilnya dari kejauhan. Vante begitu haru. Ia segera memeluk wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu.


“Astaga. Sudah lima tahun tidak bertemu. Kau terlihat semakin tampan, Vante,” ucap Maria memuji.


“Aku rasa kau yang terlihat semakin cantik, Maria. Bagaimana kabarmu?” tanya Vante.


“Aku sangat baik. Aku juga berterima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku. Kalau kau tidak ada, aku mungkin sudah menjadi gelandangan saat ini,” ucap Maria bersyukur.


“Maria, sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu seperti yang selalu kau lakukan untukku sejak aku kecil. Sekarang waktunya aku membalas semua kebaikanmu. Sekarang lebih baik kita pergi ke rumahku yang baru. Kau sudah menyiapkannya untukku kan?” tanya Vante saat itu.


“Ya tentu saja. Aku kesepian sekali berada di rumah sebesar itu sendirian,” ucap Maria.


Keduanya mulai berjalan menuju keluar bandara. Vante juga akhirnya bertemu dengan Anton yang mulai sekarang membantunya juga untuk menjadi supir kendaraan Vante, hanya kalau diperlukan.


Selama di perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit itu, Vante dan Maria kembali banyak berbincang. Setelah lima tahun akhirnya mereka bisa bertatap muka.

__ADS_1


“Mengenai apa yang aku katakan sebelumnya. Rumah itu terlalu besar untuk aku tinggali sendiri. Apa dengan kau datang, kau berencana akan tinggal lama di sana?” tanya Maria.


“Aku tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah kepindahanku secara resmi. Aku hanya akan mencoba berada di sini selama kurang lebih satu bulan. Sekaligus ada yang memang ingin aku lakukan,” ucap Vante sedikit melamun.


“Pasti ada hubungannya dengan gadis itu kan? Dia sekarang sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik dan mempesona. Tidak salah kalau kau masih mengejarnya sampai sekarang,” goda Maria.


“Maria, ayolah, jangan menggodaku!” Vante menunjukkan wajahnya.


“Apa lagi yang kau tunggu, Vante. Lima tahun sudah kau hanya memintaku untuk mengawasi rumah dan juga dia. Aku semakin laam semakin tua dan tidak punya kekuatan lagi untuk melakukan semua permintaanmu itu,” ucap Maria pura-pura merajuk.


“Maria, kau selalu punya alasan untuk itu,” ucap Vante yang tersenyum kecil. Begitu tiba di rumah pribadi miliknya, Vante menghela nafas lega saat pertama kali melihatnya. Rumah itu sebelumnya hanya pernah ia lihat dari layar laptop saja karena tak pernah bisa benar-benar datang berkunjung.


Vante memasuki rumahnya yang memiliki nuansa modern dengan dua lantai itu. Ada dua orang asisten rumah tangga lainnya yang berada di sana saat siang hanya untuk membantu Maria. Selain itu juga ada Anton dan Billy yang dengan sigap membantunya. Tempat pertama yang Vante lihat adalah ruang kerjanya yang nyaman dan modern.


“Aku rasa aku bisa melakukan semua pekerjaan dari sini. Ini sempurna. Terima kasih kalian,” ucap Vante duduk di kursi kebesarannya berbalut kulit berwarna coklat tua.


“Tuan Vante, sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan kepadamu. Masalah ini cukup sensitif dan itu kenapa kami menunggu Anda datang,” ucap Anton mengawali.


“Apa? Aku baru saja menginjakkan kaki di sini dan sudah ada masalah?” tanya Vante curiga.


“Hm, ada pergerakan di bekas rumah Darco. Kami belum tahu pasti siapa yang melakukannya. Kami hanya khawatir itu mungkin akan mengancam keselamatan Anda nantinya,” ucap Anton kemudian>

__ADS_1


“Pergerakan? Siapa?” tanya Vante yang mengernyitkan dahi.


“Kami sudah mencoba mencarinya melalui pusat data informasi. Hanya saja meskipun sudah mendapat fotonya, kami tidak bisa mengidentifikasi siapa dia. Datanya tidak ada ada jadi kemungkinan ia juga adalah pendatang dari luar negeri,” ucap Billy menyerahkan beberapa foto.


Vante dengan cepat menatap ke arah foto-foto itu. Asing sekali. Selama belasan tahun hidup bersama Darco, Vante juga begitu asing dengan wajahnya. Tidak sendirian, pria dengan rambut pirang itu juga datang bersama seorang wanita paruh baya yang masih cukup cantik dalam usianya.


“Siapa mereka? Apa yang kalian ketahui lagi tentang mereka?” tanya Vante lirih.


“Sejauh yang kami tahu, pria itu memiliki julukan JK yang merupakan singkatan namanya James Kobi. Sedangkan wanita paruh baya itu adalah ibunya yang bernama Anna. Kami belum menemukan hubungan keduanya dengan Darco, tapi keduanya sudah berhasil menguasai rumah milik Darco dan seluruh isinya dengan surat-surat resmi.”


Vante masih mengernyitkan dahi. Dia memang memikirkan beberapa kemungkinan, jadi dia putuskan untuk mencari tahu. Kemudian tak lama setelah itu dia menggeleng dan menarik keingintahuannya dalam hal tersebut.


“Lalu apa masalahnya? Aku juga tidak akan peduli. Mereka tidak ada hubungannya denganku. Selama mereka tak datang untuk mengganggu, maka aku tidak perlu repot mencari tahu,” ucap Vante menyerahkan seluruh foto itu kembali pada dua anak buahnya.


Vante melanjutkan perjalanannya menuju kamar tidurnya sendiri yang berada di lantai dua rumah itu. Ia mendorong dua daun pintu sekaligus yang kemudian menunjukkan secara nyata kamar besar dengan ranjang berukuran besar dan dominasi dinding berwarna hitam.


Vante sekali lagi menghela nafasnya lega dan berbaring di sana. Sprei dan selimut dengan warna abu gelap dengan garis-garis tipis berwarna putih. Kamar itu benar-benar seleranya. Paling penting rumah itu memiliki unsur hangat di dalamnya yang jelas tak pernah ia dapatkan saat berada di rumah Darco sebelumnya.


“Kehidupan baru. Entah apa yang bisa aku dapatkan di sini, tapi aku berharap itu kebahagiaan. Aku tidak tahu harus berharap apa, tapi aku sangat ingin Jeni bisa menerimaku kembali.”


Tidak butuh waktu lama, Vante dengan setelan jas berwarna abu tua itu berjalan keluar dengan membawa kunci mobilnya. Ia akan pergi berkendara sendiri menuju satu tempat yang sudah lama ingin ia kunjungi.

__ADS_1


__ADS_2