
Vante tidak bisa diam saja. Apalagi setelah mendengar keseluruhan percakapan malam itu antara Jeni dan Kori atau JK. Keduanya terlihat semakin dekat bahkan hanya setelah satu malam. Vante juga mengikuti mobil itu lagi hingga Kori mengantarkan Jeni tepat ke depan apartemennya.
“Jadi, kenapa perempuan cantik dan terkenal sepertimu, belum punya kekasih?” tanya Kori lagi.
“Ya ampun. Pertanyaanmu benar-benar frontal,” ucap Jeni lagi menggeleng kepalanya.
“Dan aku benar-benar ingin tahu. Apa kau belum menemukan pria yang tepat? Atau justru kau belum bisa berpindah dari pria yang lama?” tanya Kori masih emdnesak.
“Kau benar-benar ingin tahu ya? Aku hanya sedang tidak memikirkan tentang pria. Aku hanya sedang sibuk mengejar karir untuk saat ini,” jawab Jeni bijak.
“Ya baguslah kalau begitu. Setidaknya aku punya kesempatan untuk mendekat padamu. Aku benar-benar serius mengatakannya, jadi kamu tidak perlu tertawa,” ucap Kori tegas.
Percakapan itu cukup membuat Vante frustasi. Ia tidak mungkin menyerahkan Jeni pada orang lain apalagi pria yang sangat mencurigakan seperti itu. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya di atas meja. Sama sekali tidak bisa menikmati burger yang ada di hadapannya.
Sejurus kemudian, ia kembali dengan mengebut di atas roda ban sedan mewah yang membawanya kembali ke rumah. Begitu menginjakkan kakinya di lorong tempat tinggalnya, ia segera bicara pada Anton dan Billy.
“Aku benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya JK. Apa yang dia lakukan di rumah itu. Lalu apa hubunganya dengan Darco. Semua hal detail tentangnya aku ingin tahu,” ucap Vante jelas.
“Tapi, Tuan, bukannya sebelumnya kau mengatakan tidak ingin mencari tahu lebih lanjut tentangnya?” tanya Billy.
“Ya, jawabanku sudah berbeda kini. Daripada mempertanyakan itu, lebih baik kalian memanfaatkan energi untuk melakukan apa yang kusuruh!”
__ADS_1
Vante tidak ingin membuang waktu lagi. Ia jadi sedikit emosi. Suaranya yang cukup lantang sepertinya mengundang Maria untuk mendekat. Setelah Anton dan Billy pergi, mari masuk ke dalam ruang kerja Vante. Ia bisa melihat beberapa foto JK dan Anna berjajar di meja.
Maria sedikit mengernyitkan dahi. Ia seolah merasa kenal dengan sosok Anna. Meskipun penampilannya sudah cukup berbeda jauh. Maria mengambil satu foto di mana Anna dan JK terlihat berjalan dan tersenyum bersama. Vante yang menyadari segera bertanya.
“Apa kau mengenali mereka, Maria?” tanya Vante penasaran.
“Apa ini … Anna?” tanya Maria tak yakin.
“Apa kamu mengenalnya?” tanya Vante yang terkejut.
“Ah, dia kembali? Bersama … putranya?” tanya Maria yang juga masih terkejut.
“Maria, coba kau ceritakan semua yang kau tahu tentang mereka berdua,” ucap Vante jelas.
Maria menghela nafas dari mulutnya. Ia menoleh ke arah deretan rak buku yang memang ada di belakang tubuh Vante. Mengulang lagi ingatannya sekitar 30 tahun yang lalu. Anna memang pernah menjadi wanita yang spesial bagi Darco saat itu.
“Darco pernah sangat mencintai Anna. Bahkan ia sudah membawa perempuan itu masuk ke dalam rumahnya. Tak lama Anna yang awalnya hanya seorang pelayan restoran, berubah drastis kehidupannya menjadi nyonya rumah. Dia jelas bukan nyonya rumah yang baik. Walaupun begitu berada di depan Darco, ia menjadi sosok yang sangat berbeda. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan jahat serasi yang kau lihat di buku-buku dongeng,” ucap Maria mengingat.
“Apa Anna sejahat itu? ia terlihat seperti ibu-ibu normal pada umumnya?” tanya Vante mengernyitkan dahi.
“Dia perempuan yang sangat liciik, Vante. Selain selingkuh dan juga bersikap jahat pada para pelayan di rumah, ia juga pandai memanipulasi Darco. Pria itu yang dibutakan oleh cinta, tanpa sadar terus menerus digerus kekayaannya oleh Anna. pelan tapi pasti, ia membangun kerajaannya sendiri di bawah namanya. Bahkan bisnis bejat prostitusi itu semua bermula dari Anna. Dia bahkan tidak meminta bantuan Darco untuk menyiapkan segalanya. Hingga akhirnya Darco tahu dan membiarkan Anna menjalani semua yang diinginkan. Darco hanya meneruskan usaha Anna setelah itu pergi. Hanya saja aku yakin dimanapun dia berada, dia pasti akan melanjutkan usahanya itu,” ucap Maria lagi.
__ADS_1
“Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Vante.
“Perbedaannya, sejahatnya Darco, ia aku akui adalah pria yang begitu setia pada wanitanya. Itu kenapa dia sangat amat marah saat mengetahui bahwa Anna selingkuh dan tidur dengan beberapa anak buah Darco juga rekan bisnisnya. Ia bahkan mendapatkan uang juga berbagai bentuk barang mewah dari orang-orang itu. Sebagian lainnya benar-benar ia lakukan hanya demi mengejar kepuasan belaka. Darco sangat murka dan mengusir Anna ketika itu tanpa tahu bahwa Anna hamil,” ucap Maria lagi.
“Jadi bukankah seharusnya mereka sudah tidak ada hubungan lagi?” tanya vante lagi.
“Ya seharusnya begitu. Masalahnya dua tahun kemudian, Anna kembali bersama Kori yang saat itu masih berusia satu tahun. Tentu saja Darco sangat terkejut, tapi tetap tidak bisa menerima Anna lagi. Sebagai gantinya, sejauh yang aku tahu, Darco meninggalkan surat wasiat untuk Kori. hanya saja seperti apa isinya, aku juga tidak pernah tahu.” Maria menceritakan segalanya.
“Jadi, begitu. Dua orang ini katanya sudah kembali ke rumah Darco dan tinggal di sana untuk saat ini. Sepertinya Kori akhirnya memanfaatkan surat wasiat itu. Kau benar Maria, aku juga tidak tahu sejauh apa surat wasiat itu tertulis. Aku hanya sedikit khawatir kalau mereka datang untuk membalaskan dendam padaku. Sekali lagi, aku mengkhawatirkan orang-orang di sisiku,” ucap Vante.
“Aku mengerti, tapi kalau dipikir lagi, bukankah kau justru membantu mereka mendapatkan warisannya?” tanya Maria.
“Ya mungkin begitu, tapi kita tidak pernah mengetahui isi hati seseorang dengan sangat baik. Bahkan walaupun aku belum pernah bertemu dengan kedua orangtuaku, aku juga sangat ingin membalas dendam pada Darco saat itu. Bukan tidak mungkin kalau Kori ingin melakukannya juga kan?” tanya Vante yang masih duduk di kursi kebesarannya.
“Ya, masuk akal juga,” ucap Maria.
“Apalagi secara kebetulan Kori ternyata sedang mendekati Jeni juga. Ia bahkan berhasil membawa wanita itu makan malam tadi. Aku hanya takut kejadian buruk yang dulu pernah terjadi akan terulang lagi. kau tahu maksudku kan?” tanya Vante.
“Ya, aku tentu ingat, tapi bagaimanapun kau punya keunggulan. Alih-alih hanya mengawasi mereka dari kejauhan, kau harus menunjukkan dirimu dengan segera di hadapan Jeni. Dengan begitu ia kemungkinan besar akan memilihmu asal kau sedikit berusaha. Itu adalah cara untuk menyelamatkan Jeni dengan segera,” ucap Maria.
“Ya, kau benar juga, Maria. Aku akan menemui Jeni besok di apartemennya. Terima kasih banyak, Maria.” Vante terlihat menatap dengan serius.
__ADS_1