Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Ancaman Darco


__ADS_3

“Jadi … apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan? Aku memberi tugas banyak sekali padamu. Mulai dari mencari dan menyiapkan lokasi baru untuk titik jual beli senjata kita selanjutnya. Juga termasuk mengenai rencana balas dendamku pada sosok Sanchez. Aku harap kau tidak melupakannya.”


Darco sudah menunggu dengan tak nyaman di dalam ruangan kerjanya sedari tadi. Ia sudah mendapatkan informasi dari anak buahnya yang lain bahwa Vee belakangan ini sepertinya kurang fokus dalam bekerja. Ia dikabarkan sering menghilang sendirian dan pergi entah kemana.


“Aku sedang melakukannya, Tuan. Jumlah dermaga di kota ini tidak begitu banyak. Aku khawatir kalau menggunakan dermaga yang sudah diketahui banyak orang maka akan lebih cepat juga kita ditemukan. Itu kenapa aku butuh waktu yang sedikit lebih panjang untuk mencari.” Vee coba memaparkan alasan.


“Kau tahu kan aku paling tidak suka dengan alasan. Aku tidak peduli! Aku hanya ingin kau bekerja dengan baik padaku. Tunjukkan sedikit rasa terima kasihmu dengan bertanggung jawab penuh dengan apa yang kau lakukan. Apa kau sudah lupa siapa yang membawamu datang ke tempat ini dan memberimu kehidupan yang layak?” tanya Darco mulai kesal.


“Tentu saja aku mengingatnya dengan sangat baik, Tuan. Aku akan bekerja dengan lebih keras,” ucap Vee.


Darco menyandarkan punggungnya di kursi. Mengaitkan kedua tangannya dengan tenang. Tatapannya begitu tajam menatap Vee yang memang rasanya punya sikap yang sedikit berubah. Darco sama sekali tidak menyukainya.


“Apa kau yakin, Vee?” tanya Darco.


“Ya, Tuan.”


“Aku mendengar kabar bahwa ada yang lebih menarik perhatianmu di luar sana. Aku juga mendengar kalau ada seorang gadis yang belakangan dekat denganmu. Apa itu benar?” tanya Darco memberi kesempatan.


“Tuan, itu sama sekali tidak benar,” jawab Vee cepat.


“Tidak benar? Hm, ya baiklah kalau begitu. Anggaplah aku percaya padamu. Tapi, aku peringatkan. Jangan berusaha menutupi apapun dariku karena kau tahu semuanya akan percuma.” Darco menunjuk Vee yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


“Tentu saja, Tuan.”


“Aku tidak butuh orang-orang lemah yang hanya akan jatuh karena wanita. Pilihanmu hanya dua. Antara mengabdi padaku atau mati!” Darco memperjelas pesannya.


Vee mengiyakan saja semua perkataan Darco. Tapi, entah kenapa di dalam hatinya, dia merasa begitu khawatir mengenai kondisi Jeni. Tidak mengejutkan sebenarnya kalau Darco akhirnya mengetahui tentang gadis itu. Vee memilih keluar segera dari ruangan tersebut dan berjalan dengan gontai. Ia tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada sosok Jeni.


“Apa lagi yang kau pikirkan ini?” tanya Maria yang sedang membawa pakaian kotor dari dalam kamar Darco.


“Entahlah, Maria. Aku hanya sedang … bingung?” tanya Vee juga tak yakin.


Maria membawa Vee untuk duduk di sebuah bangku yang menghadap ke arah taman. Bangku yang menghubungkan antara rumah utama dan juga rumah para pelayan dan pembantu seperti Maria. Tentu saja ruangan tersebut dibuat terpisah demi kenyamanan Darco.


“Aku hampir tidak pernah melihat ekspresi seperti ini di kamu. Apa yang terjadi? Apa ini tentang gadis yang mengobati lukamu? Ceritakan semuanya padaku,” ucap Maria.


“Bagaimana aku tidak tahu?” tanya Maria yang tertawa kecil. “Vee, aku merawatmu seperti anakku sendiri. Aku paling tahu bagaimana kau selalu menjadi pribadi yang sangat tertutup dan juga dingin selama ini. Tapi, sejak hari kau datang dengan balutan luka itu, aku bisa melihat air mukamu sepenuhnya berubah. Aku juga menyadari kau banyak tersenyum setelah itu. Aku bisa melihat … kebahagiaan di sana. Aku segera tahu, bahwa di luar sana, ada seseorang yang membuatmu bahagia.”


Vee tidak menyangka wajahnya begitu mudah menunjukkan perasaannya. Ia hanya beberapa kali bertemu dengan Jeni dan ia telah membawa banyak perubahan padanya. Vee tidak bisa mengelak. Ia memang merasakan bahagia hanya dengan menatap wajah Jeni.


“Orang seperti Darco itu, akan selalu iri dengan kebahagiaan orang lain. Entah kenapa aku merasa, Darco mulai curiga dengan kau dan juga hubungan rahasiamu itu. Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati ke depannya. Bagaimanapun ia adalah manusia yang jahat dan tega. Kita tidak pernah tahu langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya,” kata Maria.


“Kau juga menyadari itu, Maria?” tanya Vee yang mendadak kagum.

__ADS_1


“Hmh, aku mengenal Darco di separuh hidupnya. Dia sudah melewati banyak hal. Sekarang, dia hanya pria yang hidup tanpa cinta. Hatinya sudah beku dan kosong. Aku tidak mau kau berakhir sepertinya. Tapi, aku juga tidak mau kau terluka. Aku harap kau mengerti maksudku,” ucap Maria akhirnya.


“Iya, Maria. Sebenarnya aku juga sedang mengkhawatirkannya. Aku rasa aku tidak bisa lagi menutupinya. Aku menyukainya.” Vee tersenyum khas begitu tampan.


“Ya ampun … kau bahkan tersenyum kini. Jujur saja, suatu saat, aku ingin sekali melihat gadis itu. Aku penasaran seperti apa dia yang telah berhasil menaklukkan mafia kejam yang satu ini.” Maria tersenyum mengusap kepala Vee.


Vee tersenyum, tapi di dalam hatinya ia justru menjadi semakin khawatir. Semuanya benar, Darco tidak akan melepaskan Jeni dengan mudah. Saat ini, rasanya dia harus kembali fokus pada pekerjaannya. Toh ketika tigas itu selesai ia lakukan, ia bisa mencari cara untuk keluar dari kehidupan mafia yang mengerikan ini.


Di ruangannya, beberapa saat yang lalu, Darco menerima laporan dari anak buahnya. Berita mengenai semua kegiatan Vee beberapa hari ke belakang. Sebuah amplop coklat dengan beberapa lembar dokumen di dalamnya. Foto Jeni dan data pribadinya.


“Dia hanya gadis biasa, Tuan Darco. Vee belakangan kedapatan sering berada di sekitar minimarket tempat gadis itu bekerja. Namanya Jeni dan dia hanya anak yatim piatu yang sedang berkuliah di jurusan akting.”


Darco membaca ulang beberapa dokumen yang ada di sana. Dia melihat sebuah informasi yang sangat menarik. Senyum mengerikan itu muncul di wajah Darco.


“Gadis biasa katamu?”


“Hm … itu … berdasarkan yang aku lihat saja,” ucap sang anak buah.


“Itu karena kau tidak bisa melihat apa yang aku lihat. Ya setidaknya semua informasi ini cukup berguna bagiku. Kau, terus awasi semua gerak gerik Vee. Aku ingin tahu apa yang dia lakukan, kemana dia pergi, dan semuanya.” Darco memberi perintah.


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


Darco kembali tersenyum menatap foto Jeni dan juga kembali melirik informasi pribadinya. Ada beberapa lembar foto juga di sana. Ketika Jeni sedang bersama Vee, dan juga ketika Jeni sedang bersama sang kakak.


“Dunia ternyata sangat sempit ya. Vee, kau sangat buruk dalam berbohong. Lebih baik bekerja dengan baik. Karena kalau tidak, gadis ini dan keluarganya yang tersisa, akan mati di tanganku!”


__ADS_2