Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Penyerangan Palsu


__ADS_3

Jeni kembali pulang dengan gontai. Ia tidak percaya bahwa Vee yang selama ini ia kenal adalah Vee yang juga menjadi target dendam sang kakak. Ia bahkan harus bertanya lebih lanjut pada kakaknya mengenai sosok Vee.


“Apa itu benar, Kak?” tanya Jeni sebelumnya.


“Ya tentu saja. Aku kadang juga penasaran, kenapa pria tampan ini harus berada di dalam dunia mafia? Kalau dipikir lagi, dengan wajahnya itu ia bisa menjadi aktor atau model terkenal kan? Usianya juga masih sangat muda. Benar-benar disayangkan,” ucap Juan ikut melihat ke arah dinding kaca itu.


“Apa … kau pernah bertemu dengannya?” tanya Jeni lagi.


“Tentu saja. Aku pernah memburunya beberapa kali. Lagipula aku sudah menyelidiki ini bertahun-tahun, Jeni. Ya aku akui dia pria yang hebat. Dia selalu berhasil lolos dariku. Bahkan terakhir kali setelah aku berhasil menembaknya, dia juga masih bisa lolos,” ucap Juan dengan bangga.


“Kau … menembaknya?!” tanya Jeni makin tak percaya.


“Ya, aku melakukannya untuk urusan pekerjaan. Aku mengikutinya ke sebuah dermaga yang menjadi pusat jual beli senjata ilegal yang memang ia kelola. Darco, bos mafia itu, begitu percaya padanya. Aku berhasil menembaknya saat itu, tapi ia kabur. Malam yang sama saat aku datang ke apartemenmu dan memintamu untuk mengunci pintu itu.” Juan mencoba mengingat.


“Bukankah kau sering melakukan itu?” tanya Jeni yang masih mencoba mengelak.


“Hahaha. ya, kau benar juga. Maksudku itu malam saat aku datang dan melihat kotak P3K di ruanganmu itu,” ucap Juan lagi.


“Ah, itu.” Jeni tak bisa berkomentar.


“Ya. Itu adalah waktu tepat setelah aku menembaknya. Dia walau tampan adalah pria yang berbahaya. Dunia ini memang sangat menakutkan, Jeni. Itu adalah alasan kenapa aku sangat protektif padamu. Tidak ada yang bisa kita percaya di dunia ini, Jeni. Siapa sangka, pria yang terlihat baik-baik saja itu adalah kaki tangan mafia.”

__ADS_1


“Ah, aku mengerti, Kak.”


“Ah, seharusnya aku tidak membicarakan banyak hal ini tentangmu. Hanya saja aku pikir tidak ada salahnya kau tahu. Aku sudah melakukan semua ini selama bertahun-tahun. Lega rasanya kau juga tahu. Setidaknya kau akan lebih berhati-hati saat melihat wajah-wajah ini di luar sana.”


Jeni kembali lagi di ruangannya. Ia hanya bisa duduk di sisi ranjangnya. Semua ucapan kakaknya terasa menggema. Sedangkan wajah Vee juga terus terbayang. Apa itu alasannya kenapa ia sangat tertutup dan misterius? Apa itu juga alasannya dia menghilang begitu saja saat di minimarket itu?


“Vee adalah kaki tangan mafia yang membunuh ayah dan ibuku? Walau masih dugaan, tapi … apa yang harus aku lakukan?” tanya Jeni.


“Ah, kalau dipikir lagi, saat kejadian mengerikan itu terjadi, Vee juga pasti masih berusia sangat muda. Jadi, dia pasti tidak ada hubungannya dengan itu kan?” tanya Jeni lagi.


“Tapi … bukankah tetap saja ia pria yang jahat? Ia mungkin sudah membunuh orang. Lagipula, kalau kakak sampai tahu, ia pasti tidak akan pernah setuju kalau aku berhubungan dengan Vee,” ucap Jeni apda dirinya sendiri.


Sungguh, Jeni banyak berpikir malam itu. Segala kemungkinan yang mungkin terjadi saat ini dan kemudian hari. Kepalanya mendadak pening. Ia bahkan jatuh tertidur tanpa berganti pakaian di atas ranjangnya.


Di lain tempat, Vante sudah bersiap. Malam ini rencana yang sudah dia atur bersama sang paman akan dijalankan. Vante akan bekerja sama dengan Sanchez. Pria itu akan menjadi pancingannya. Sebuah gudang dipilih untuk menjalankan aksi.


“Apa kau pikir rencana itu akan berhasil?” tanya Vante saat dia masih ada di rumah Sanchez.


“Kau perlu kembali padanya. Tunjukkan bahwa kau masih setia dan menjalankan semua tugasmu dengan baik. Aku akan membuatnya semakin marah dengan mengganggu usaha yang ia miliki. Aku percaya ia pasti akan membuatmu memburuku lagi. Saat itu lah, kita akan menangkapnya,” ucap Sanchez penuh keyakinan.


“Baiklah kalau begitu. Hanya saja, Darco bukan pria sembarangan. Bagaimana kalau dia … mengetahui rencana kita?” tanya Vante.

__ADS_1


“Lalu apa? Maka kita hanya perlu menghadapi mereka. Aku tahu kau bisa melakukannya,” ucap Sanchez lagi.


Itu lah kenapa, Vante hanya hidup dalam menunggu. Sambil terus berpura-pura menjadi anak buah penurut. Meskipun sebenarnya ia merasa muak setiap kali melihat wajah Darco. Bahkan setelah hampir dua minggu setelah ia kembali dari rumah Sanchez, situasi masih terlihat begitu tenang.


“Apa katamu? Usaha judi kita sudah mulai ditinggalkan karena bisnis judi Sanchez? Jadi katamu, para pelanggan kita lebih memilih judi online itu daripada datang langsung ke tempat judi kita?” tanya Darco penuh emosi.


“Ya, Tuan. Bagi para pelanggan, bisnis judi online itu mudah dan murah. Mereka tidak perlu datang yang itu berarti memangkas pengeluaran mereka. Sedangkan hasil yang mereka dapatkan kabarnya juga dua kali lebih besar. Kesempatan menang jauh lebih banyak dan-”


“Cukup! Apa kau sekarang berpihak pada mereka?! Kenapa kau terus mengatakan hal-hal baik tentang usaha judi online itu?!” tanya Darco kesal.


Pria itu tak segan mengambil pistol yang ada di lacinya dan dengan satu kali tembakan, ia tepat mengenai kepala anak buahnya itu. Vante yang berada di sisi pria malang itu, hanya bisa memejamkan mata saat darah itu terciprat di wajahnya.


“Vee, aku tidak mau tahu. Kau harus segera menangkap Sanchez! Aku akan membunuhnya sendiri dengan tanganku karena sudah berani mengusik usahaku. Apa kau mengerti?!” Darco memberi perintahnya.


“Masalahnya, terakhir kali aku sudah gagal, Tuan.” Tentu itu hanya akting saja.


“Bukankah ini terlalu berlebihan? Kau masih hidup dan bahkan sangat sehat. Sejak kapan kau jadi pengecut seperti ini?! Bahkan kalau kau mati saat berusaha membawanya kemari, aku tidak akan peduli! Kau hidup adalah untuk menjalankan semua perintahku! Apa kau sudah mulai berani membantah perintahku sekarang?!” Darco terlihat sudah tak peduli lagi.


“Tentu saja aku tidak akan berani, Tuan. Aku akan melakukannya,” ucap Vante menunduk sebagai tanda hormat.


Vante pergi dari ruangan itu dengan senyum misterius muncul di wajahnya. Ia menuju kamarnya sendiri dan menutup pintunya rapat. Mengambil jaket hitam juga helmnya yang ada di atas meja.

__ADS_1


“Aku senang mendengarnya, Darco. Karena dengan begini, aku tidak akan merasa bersalah lagi untuk membunuhmu! Kau lihat saja pembalasan dendamku!”


__ADS_2