Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Kehidupan Baru


__ADS_3

Lima tahun kemudian. Jeni telah menyelesaikan kuliahnya dan juga sudah lama berhenti dari pekerjaannya sebagai penjaga mini market. Dia menjalani kehidupan sebagai seorang artis teater yang tampil di berbagai pertunjukan. Bisa dikatakan ia kini adalah artis teater kelas B yang cukup dikenal oleh masyarakat luas.


Ya memang sekeras apapun dia berusaha, akan terlalu sulit menyaingi mereka yang memiliki banyak uang. Kebanyakan artis kelas A yang merasa takut kalah saing, pada akhirnya menyuap produser dan sutradara drama agar dia bisa mendapatkan peran-peran utama.


Meskipun begitu, Jeni menikmati perannya sebagai aktris yang dikenal dengan kemampuan akting yang mumpuni, meskipun ia hanya bertahan menjadi peran-peran pendukung. Cukup lega selama orang mengakui kemampuannya dan menikmati aktingnya.


Popularitas yang terus meroket, membuat Jeni makin sering menemukan berbagai orang aneh. Ada yang datang menawarkan pekerjaan, tapi selebihnya adalah pria yang mengaku ingin dekat dengannya. Sungguh Jeni sama sekali tidak tertarik, kecuali yang satu ini.


Pengirim bunga misterius yang tidak pernah menunjukkan batang hidungnya, bahkan namanya pun tidak. Jeni sungguh penasaran karena pria itu tidak pernah melewati batas dan juga cukup romantis. Bunga-bunga itu selalu memiliki bunga favoritnya dengan kombinasi bunga lainnya yang begitu cantik.


Seperti kali ini setelah Jeni baru saja selesai berlatih untuk penampilannya yang akan datang, sebuket bunga sudah tiba lagi di meja riasnya. Ada yang memuji, ada juga yang iri dan dengki. Seperti si artis A yang bernama Yasmin.


“Pengagum rahasiamu lagi? Apa kau tidak khawatir? Kalau memang dia pria baik-baik, kenapa tidak menunjukkan saja dirinya? Apa dia buruk rupa? Menurutku dia terlihat lebih seperti penguntit daripada penggemar rahasia kan?” tanya Yasmin dengan nada menghina.


Jeni selalu begitu. Dia memilih untuk tidak menghiraukannya dan pergi dari sana dalam diam. Alangkah lebih baiknya kalau dia menghindari pertikaian. Bukan karena dia takut, dia hanya enggan saja memperumit hubungan profesional mereka. Bagaimanapun mereka adalah rekan kerja.


Seperti biasa, Jeni menggunakan taksi untuk tiba di apartemennya. Tentu dia sudah pindah ke apartemen yang jauh lebih baik dan juga lebih besar. Lokasinya bahkan masih satu komplek dengan apartemen milik Juan dan Irene. Ya, mereka akhirnya menikah sekitar dua tahun yang lalu dan Jeni sangat bahagia.


Begitu membuka pintu apartemennya, Jeni meletakkan bunganya begitu saja di atas meja. Bahkan dalam apartemennya itu masih banyak rangkaian bunga lain yang sudah setengah layu. Semua adalah dari pengirim yang sama. Kalau benar-benar layu, baru Jeni akan membuangnya.


Baru saja meletakkan mantel dan tasnya, bel apartemen Jeni berbunyi. Ia dengan cepat membukakan pintu dan itu adalah Juan dan juga Irene yang datang dengan senyum lebar. Jeni mempersilahkan keduanya untuk segera masuk.

__ADS_1


“Apa yang membawa kalian berdua datang kesini?” tanya Jeni yang segera sedikit membersihkan apartemennya.


“Wow, bunga-bunga ini. Apa tidak berlebihan? Apartemenmu lebih mirip taman bunga daripada sebuah tempat tinggal,” ucap Juan begitu masuk.


“Kakak, jangan mulai lagi. Aku baru saja sampai,” ucap Jeni yang memang cukup lelah.


“Ah, ya, aku dan kakakmu sebenarnya datang untuk membawa kabar baik,” ucap Irene yang cepat bertukar senyum pada sang suami.


“Kabar baik apa?” tanya Jeni yang jadi penasaran juga.


Alih-alih menjawab pertanyaan, Irene menyerahkan satu kotak kado berwarna pink dengan pita di atasnya. Melalui bahasa isyarat, mereka memintaku untuk membukanya. Aku sangat terkejut sekali melihat itu adalah sebuah hasil alat tes kehamilan yang jelas menunjukkan hasil positif.


“Tunggu, Irene, kau hamil?” tanyaku memastikan.


“Aku kehilangan ibu dan nenek, dua wanita yang aku sayangi, tapi Tuhan menggantikannya dengan menghadirkan Irene dan juga calon bayi perempuan di dalam kandungan Irene. Aku sangat bahagia,” ucap Juan.


“A-aku juga sangat senang mendengarnya. Astaga … akhirnya aku akan segera jadi seorang Tante,” ucap Jeni senang. “Eh, tapi tunggu. Bagaimana kau bisa mengatakan bayi ini perempuan kalau usianya bahkan masih sangat kecil?”


“Hahaha. Sebenarnya kami juga terlambat mengetahuinya. Itu karena Irene begitu tidak peduli dengan dirinya sendiri. Usia kandungannya sudah menginjak empat bulan saat ini. Ketika kami memeriksakannya, dokter bilang kemungkinan itu adalah bayi perempuan,” ucap Juan.


“Tentu saja apapun jenis kelaminnya kami akan dengan senang hati menerimanya. Kami hanya berharap bayinya akan terlahir dengan sehat,” ucap Irene menambahkan.

__ADS_1


“Apa? Ya ampun. Apa kalian akan terus membuatku terkejut? Apapun itu, selamat kalian berdua. Aku benar-benar senang,” kata Jeni yang begitu bahagia.


Bukan tanpa alasan Jeni begitu bahagia. Selain karena dia memang ingin punya keponakan, Juan dan Irene juga sudah menunggu dengan tak sabar bahkan sejak dari awal menikah. Mereka sudah begitu menunggu kehamilan dan begitu khawatir meskipun usia pernikahan mereka juga belum terlalu lama.


Jeni yang telah selesai membersihkan diri, bisa melihat Irene sedang di dapur dan terlihat memindahkan berbagai jenis makanan ke piring. Jeni yang berniat membantu, dengan cepat ditolak oleh Irene. Wanita itu justru meminta Jeni menemui sang kakak. Jeni bisa melihat Juan sedang berada di balkon apartemen.


Pemandangan dari balkon apartemen yang memang tidak terlalu tinggi itu, cukup memanjakan mata. Mereka bisa melihat apartemen lainnya yang juga menjulang tinggi di mana salah satunya adalah milik Irene dan Juan. Selain itu, mereka juga bisa melihat pemandangan kota dengan cukup jelas.


“Kau, kenapa tidak pernah bercerita tentang bunga-bunga itu? Jumlahnya sangat banyak, Jeni, dan hampir memenuhi rumahmu,” ucap Juan melihat ke dalam.


“Entahlah, Kak. Aku hanya tidak ingin membuangnya,” ucap Jeni beralasan.


“Sepintas aku lihat, semua bunga itu memiliki kesamaan. Dikirim oleh seseorang yang bahkan tidak menuliskan inisial namanya di sana. Aku yakin kau juga menerima banyak bunga seperti itu, tapi kenapa hanya itu?” tanya Juan yang curiga.


“Kak, aku benar-benar tidak punya alasan khusus. Aku hanya … menyukai bunganya,” ucap Jeni cepat.


“Apa karena kau mengharap bahwa pengirim bunga itu adalah ….”


“Kak, aku mengerti maksudmu, tapi aku sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Lagipula kita tidak tahu di mana dia. Dia juga sudah mengingkari janjinya sendiri akan kembali dalam tiga tahun. Ini sudah lima tahun dan dia juga belum kembali.” Jeni terlihat kesal.


“Jadi, kau menunggunya kan?” tanya Juan tersenyum mengejek.

__ADS_1


“Kakak! Kau selalu saja menggangguku-”


“Jeni, sejak kau sadar di rumah sakit lima tahun yang lalu, kita mungkin belum pernah membicarakan tentang ini, dan mungkin sekarang adalah waktunya,” kata Juan serius.


__ADS_2