
Lima tahun yang lalu, Jeni akhirnya sadar dan dia mengetahui bahwa tengah berada di sebuah ranjang rumah sakit. Begitu ia membuka matanya, kamar itu kosong. Jeni mencoba untuk mengingat lagi semua runtutan kejadian yang menimpanya hingga ia berada di sana.
Kepala Jeni memang masih sakit apalagi ketika ia menggunakannya untuk berpikir sedikit lebih keras. Potongan-potongan memori itu muncul begitu saja dalam kepalanya. Satu hal yang dia ingat pertama kali adalah dia sedang dalam perjalanan pulang dari kampusnya menuju mini market.
Hingga di satu titik, ia merasakan ada dua pria yang mencengkeramnya erat. Salah satunya membekap mulutnya. Ia dibawa dengan sebuah mobil SUV hitam entah kemana. Jeni ingat dia sempat berontak dan oleh karena itu dua pria itu memukul kepalanya dengan sangat keras dan Jeni langsung tak sadarkan diri.
“Kenapa kau memukulnya? Bos mengatakan kita harus membawa gadis ini hidup-hidup. Apa kau mau mati huh?” tanya pria yang juga mengendarai mobil itu.
“Dia benar. Bos bisa membunuh kita kalau sampai terjadi hal buruk pada gadis ini. kau kan bisa bius saja dia!” ucap pria lainnya.
“Maaf, aku hanya reflek,” ucap sang pelaku pemukulan tanpa rasa bersalah.
Jeni memang tak ingat apa-apa lagi, tapi dia menolak untuk pingsan sepenuhnya. Ia berusaha meraih kesadarannya saat mobil itu akhirnya berhenti. Salah seorang pria itu mengatakan bahwa mereka sampai, tapi di mana dan untuk apa, Jeni juga tidak tahu.
Jeni mendengar samar-sama suara yang dia kenal di kejauhan. Suara itu seperti suara Vee yang sudah lama tidak ia temui. Mendengar suaranya, pria itu sepertinya sedang ada dalam masalah. Jeni tak sepenuhnya sadar bahkan ada darah terasa menetes dari belakang kepalanya melewati rambut-rambutnya.
Entah apa yang terjadi, Jeni bisa merasakan tubuhnya terguncang. Seolah ia sedang menjadi rebutan. Belum lagi suara tembakan yang beberapa kali terdengar di luar. Jeni dibawa pergi oleh pria lainnya yang tak ia tahu. Sepertinya mereka lah yang membawa Jeni ke rumah sakit.
“Aduh, sakit. Kak Juan, kamu di mana? Vee, apa benar itu suara kamu yang aku dengar di tempat itu?”
__ADS_1
Pikiran Jeni berkecamuk. Dia tidak ingat apapun, tapi dia masih ingat dengan benar suara-suara yang sempat mengunjunginya dan bicara padanya. Suara dokter dan perawat, juga suara Juan, Hope, Irene, dan juga Vee. Jeni yakin pria itu memang datang.
Jeni sekali lagi mencoba mengingat semua ucapan Vee atau mungkin Vante. Ia mendadak menangis sesenggukan. Jeni merasa sangat marah, kesal, kecewa, dan lainnya. Terlalu sulit bahkan untuk mengetahui rasa sakit apa ini sebenarnya.
“Apa aku marah karena dia ternyata penjahat? Atau aku marah karena dia tidak pernah mengatakan semuanya dari awal? Apa aku kesal karena dia meninggalkanku begitu saja? Atau justru aku kesal karena dia tidak menungguku sadar untuk sekedar berpamitan?” tanya Jeni pada dirinya sendiri.
Ya, dia mendengar semuanya. Dia masih ingat kata per kata yang pria itu ucapkan. Semua penjelasannya dan permintaan maafnya. Bahkan janjinya untuk datang dua atau tiga tahun lagi. Hanya saja, Jeni sama sekali tidak tahu caranya bersikap.
“Kalau memang ini jalan yang kau pilih, maka aku tidak punya cara lain selain mengikutinya. Aku … akan menjalani hidupku dengan baik dan menjadi artis sesuai impianku selama ini. Aku … tidak akan peduli lagi padamu!” ucap Jeni kesal.
Setelah itu tak lama Juan memang datang bersama Hope. Dia memperhatikan kondisiku yang sedang ditangani oleh dokter. Dokter bilang aku baik-baik saja dan beruntung bahwa gegar otak itu sama sekali tidak membahayakan syarafku. Aku masih bisa mengingat dan berkegiatan dengan baik.
“Kak, aku masih sedikit pusing.” Jeni coba mengelak.
“Kamu apa masih ingat bagaimana kejadiannya?” tanya Juan ingin tahu.
“Kami sudah mendapat rekaman CCTV-nya. Sebetulnya meskipun kau tidak menjelaskannya, kami tahu siapa yang menculikmu. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, apa hubunganmu dengan para mafia itu? Kenapa mereka menculikmu?” tanya Hope.
Juan mengangguk tanda sepakat. Entah kenapa dia merasa mendadak begitu payah. Mungkin karena terlalu lega pada akhirnya adik satu-satunya itu sadarkan diri. Keduanya menunggu Jeni untuk mengatakan sepatah kata.
__ADS_1
“Aku tahu pertanyaan kalian menjurus kemana, tapi aku juga sama sekali tidak tahu. Aku memang mengenalnya. Pria bernama Vee. Aku mengenalnya sebagai pria biasa saja yang berkenalan denganku. Hubungan kami bahkan belum lama dan juga belum terlalu dekat. Jadi, kalau kalian ingin tahu kenapa aku terseret di sini, aku juga tidak tahu,” ucap Jeni mendadak lesu.
“Jeni, apa kau tahu … dia?” tanya Juan.
“Ya, aku mengetahuinya, Kak. Aku tahu karena aku melihat foto dan semua coretan itu di kamarmu. Kalau sebelum itu, aku tidak mengetahuinya. Aku juga terkejut,” ucap Jeni muram.
“Aku selalu mengatakan kepadamu untuk berhati-hati dengan orang asing! Mereka semua itu sama sekali bukan orang sembarangan. Kau benar-benar ber-”
“Kak, bisakah kau berhenti? Aku sudah di sini sekarang bersama kalian. Bukankah itu tandanya aku sudah aman? Kenapa harus diperdebatkan lagi?” tanya Jeni yang kesal.
“Kau ini memang gadis keras kepala! Seharusnya kau tidak pernah menutupi apapun dariku. Bahkan termasuk saat kau dekat dengan orang manapun. Aku kan sudah bilang, tidak ada yang bisa kita percaya di dunia ini selain satu sama lain!” Juan masih meluapkan kekesalannya.
“Kakak, tolong berhenti! Apa kau tidak bisa melihat aku masih terbaring di ranjang. Aku bahkan masih sangat pusing sekarang. Aku benar-benar tidak butuh ceramah darimu!”
“Baiklah kalau begitu, Jeni. Lebih baik, kau beristirahat saja. Aku akan bantu untuk menghubungi Irene supaya dia datang kemari dan menemanimu ya. Ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan dengan Juan,” ucap Hope cepat menengahi.
Hope dengan sigap membawa sahabatnya itu menuju lorong rumah sakit. Di mana ada bangku-bangku berjajar di sana. Juan yang kesal merebahkan tubuhnya saja di sana. Hope datang membawa dua gelas kopi panas dan menyerahkannya satu pada pria yang terlihat kusut itu.
Juan tahu dia memang mungkin keterlaluan. Di kala sang adik sedang terkapar lemah, dia justru melupakan kemarahannya. Masalahnya semua yang dia ucapkan adalah bentuk kepeduliannya terhadap Jeni. Mungkin dia hanyalah pria yang buruk dalam menunjukkan perasaan hati.
__ADS_1
“Kita tidak tahu apa yang sedang dialami oleh adikmu. Jangan mendesaknya seperti itu. Kau satu-satunya keluarga yang dia miliki. Seharusnya kau bisa mendukungnya penuh dalam kondisi apapun,” ucap Hope membuka obrolan.