Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Hubungan Dengannya


__ADS_3

“Aku harus meminta maaf terlebih dahulu pada semua sikap burukku saat itu. Kakakmu ini aku akui memang sangat buruk dalam mengutarakan perasaan. Apa yang terucap kadang sama sekali tak sesuai dengan apa yang aku rasakan. Aku percaya kau lebih mengetahuinya daripada aku,” ucap Juan membuka pembicaraan.


“Sudahlah, Kak. Lagipula itu sudah terjadi lima tahun yang lalu. Toh saat ini hubungan kita berdua juga sangat baik. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan,” ucap Jeni memandang ke kejauhan.


“Hei, aku sama sekali tidak berniat untuk mengganggu kehidupan pribadimu. Aku benar-benar hanya ingin mendengar semuanya. Kau sendiri yang bilang ini sudah lima tahun berlalu. Maka, kalau kau sudah benar-benar melupakannya, semestinya bukan masalah besar kan kalau aku memintamu untuk menceritakan tentang dia padaku?” tanya Juan penasaran.


“Kau begitu ingin tahu ya?” tanya Jeni setengah menggoda.


Jeni akhirnya menceritakan semuanya. Awal pertemuan keduanya juga pertemuan selanjutnya yang mendekatkan keduanya. Jeni mengakui pria itu baik meskipun memang misterius. Dia juga menceritakan pertemuan terakhirnya dengan pria itu dan bagaimana dia mengatakan akan kembali setelah beberapa hari.


“Jadi, dia tidak menepati janjinya?” tanya Juan.


“Ya … entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Aku tahu dia datang saat aku dirawat di rumah sakit ketika itu. Dia mengatakan banyak hal termasuk siapa dia dan apa yang dia lakukan juga masa lalunya. Ya meskipun ketika itu aku juga belum sadarkan diri,” ucap Jeni.


“Kau mengharapkan dia kembali?” tanya Juan.


“Kak!” Jeni sebenarnya tidak tahu harus berkata apa.


“Setelah kau sadar itu dan kondisimu jauh lebih baik, aku memang melanjutkan penyelidikanku sendiri. Tidak ada yang ku kejar memang selain menjawab rasa penasaran. Toh, Darco yang membunuh orang tua kita juga sudah tewas. Aku hanya ingin mencari tahu apa hubunganmu dengan Vante sebenarnya. Aku memang tidak menyangka akan sejauh ini,” ucap Juan menatap ke kejauhan.


“Lalu, setelah kau mendengars emuanya dari aku, apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Jeni ingin tahu.


“Hm … entahlah. Aku hampir tidak merasakan apapun. Aku rasa itu karena aku sudah sepenuhnya melupakan dendam pada orang yang membunuh orang tua kita. Aku justru berpikiran bahwa tidak ada bedanya antara kita dan juga Vante. Kita sama-sama hanyalah anak yang malang yang tidak mendapatkan kasih sayang orang tua dan tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang … berbeda,” ucap Juan.

__ADS_1


“Apa inti maksud ucapanmu, Kak?” tanya Jeni yang masih bingung.


“Hm, aku hanya memikirkannya. Suatu saat kalau dia benar-benar kembali padamu, aku tidak akan menghentikannya lagi," ucap Juan.


"Kak, apa kau serius?" tanya Jeni penasaran.


"Jadi kau benar-benar menunggunya ya? Hehehe." Juan masih saja menggoda.


"Ya ampun, Kakak!" bentak Jeni.


"Ya ya ya, maaf. Apapun itu, aku harap kau tetap menomorsatukan kebahagiaanmu sendiri. Kalau dia benar tak kembali, maka kamu berjanji padaku harus bahagia meskipun tanpanya. Kau mengerti kan, Jeni?" tanya Juan.


"Baik, Kak. Aku mengerti," ucap Jeni cepat.


Tak lama kemudian, Irene mendekat. "Apa sudah selesai bicaranya? Kita bisa makan sekarang?"


Makan malam kami terasa semakin lengkap karena Hope juga di sana. Ia telah memiliki sepasang kekasih juga bernama Hana. Seorang pramuniaga di kedai pizza yang didatangi Hope suatu waktu. Jeni lega sekali karena semua orang perlahan menemukan kebahagiaannya.


Di sebuah negara lain berjarak hampir 10 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang, Vante sedang menikmati kopi paginya dengan memperhatikan berita yang ada di internet.


Vante tinggal di sebuah mansion yang terbilang cukup mewah. Jangan salah, bukan miliknya, tapi milik sang paman. Selama lima tahun ini ia begitu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai pebisnis.


Rupanya tak ada ruginya mengabdi pada sosok Darco dulu. Secara otodidak dia jadi belajar banyak tentang bisnis. Mudah baginya memutar modal yang diberikan oleh sang paman menjadi sebuah perusahaan produsen game yang cukup diperhitungkan.

__ADS_1


Kalau ditanya kenapa malah jatuh ke game. Pamannya lah yang memberikan saran. Dia sudah memiliki tim terbaik untuk urusan program dan desain visual untuk game bekal dari judi online yang sebelumnya ia miliki. Vante hanya perlu memikirkan konsep dasar juga cara jual yang sesuai.


Darco sebenarnya tidak tahu terlalu banyak tentang game, tapi dalam proses belajar dia mengenal banyak jenis game dan mulai memiliki konsep game yang ia sukai. Vante cepat belajar dan meskipun ini dunia yang sangat berbeda dari sebelumnya, ia menikmatinya.


Vante yang berubah menjadi seorang pengusaha muda makin lama juga makin dikenal oleh banyak orang karena sang paman lagi-lagi membawanya masuk ke dalam lingkungan bisnis yang lebih besar. Vante mudah dikenali karena masih muda dan juga tampan. Jelas sebuah kombinasi yang sempurna.


Tak ayal, banyak wanita yang ingin dekat dengannya. Apalagi dari rekan bisnis pamannya. Ada yang ingin mengenalkan Vante dengan putrinya, keponakannya, sepupunya, dan lain sebagainya. Vante tersanjung, tapi dia selalu menolak.


Vante tak pernah bisa benar-benar beralih dari sebuah nama. Jeni. Wanita itu terus berada di pikirannya. Melalui situs berita lokal, Vante juga mengawasi setiap pergerakan wanita itu. Vante senang Jeni kini sudah meraih mimpinya menjadi seorang aktris.


“Jadi … sampai kapan kamu mau terus berada di sini? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan wanita itu?” tanya sang paman suatu waktu.


“Tentu saja aku masih ingin, Paman. Aku masih mencintainya dan aku berharap bisa membangun hubungan serius dengannya,” ucap Vante.


“Lalu kenapa kamu tidak pergi? Apa kamu khawatir dengan bisnis yang kita jalankan?” tanya Sanchez lagi.


“Entahlah, Paman. Mungkin itu salah satu alasannya. Bisnis kita sedang sangat berkembang saat ini. Lagipula, aku hanya sedikit kurang percaya diri,” kataku.


“Karena?” tanya sang paman ingin tahu.


“Ya karena apa yang kita tinggalkan di sana. Kenangan buruk. Aku hampir membuatnya celaka dan itu terus menggangguku. Aku yakin dia dan juga kakaknya yang polisi itu tidak akan mau menerimaku,” ucap Vante.


“Ya ampun. Kemana Vante yang aku kenal? Pria yang bahkan rela menerima serangan peluru tajam untuk wanita yang dia cintai? Apa kini mendadak menciut karena kurang percaya diri? Hahaha. Kau konyol, Vante!” sang paman tertawa terbahak.

__ADS_1


“Aku sama sekali tidak bercanda, Paman,” ucap Vante.


“Dan begitu juga denganku. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Sekalipun dunia ini menolak kebersamaan kalian berdua, tidak akan ada artinya selama kalian saling mencintai. Owh ya ampun. Aku masih tidak percaya harus menguatkan seorang mantan mafia yang galau karena cintai. Kembali ke sana segera sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanmu, Vante!” ucap sang paman membuat Vante kesal.


__ADS_2