Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Kekuatan Hukum


__ADS_3

“Kalian polisi gila! Kalian mau aku melawan ibuku sendiri di pengadilan demi keringanan hukuman?” tanya Kori.


“Ya, semua itu pilihanmu. Aku hanya mengatakan.” Hope dengan santai bicara.


Kali ini Kori terdiam. Dia mungkin akan memikirkannya. Di lain sisi, Juan juga sudah kembali untuk menginterogasi Anna. Dibeberkan semua bukti-bukti mengenai usaha prostitusinya yang merajalela hingga ke berbagai negara tetangga.


“Aku sejujurnya senang sekali karena kau dengan senang hati menyerahkan dirimu datang kemari. Asal kau tahu, selama kau di sini, pasukan kami sedang berada di rumahmu untuk menggeledah. Anak buahmu semuanya akan ditangkap dan terlebih lagi akan semakin banyak bukti yang kita kantongi. Bahkan tanpa pengakuanmu, kami akan bisa menahanmu untuk waktu yang sangat lama. Owh, dan satu lagi, Kori bersedia untuk membantu kami. Pernyataannya akan membuat hukumanmu semakin berat.” Juan terlihat begitu santai.


“Apa? Sialan! Anak tak tahu diuntung. Kau, dengarkan aku. Semua rencana ini adalah usahanya. Maksudku penculikan itu adalah idenya. Dia yang memang ingin menculik gadis itu, Jeni, untuk membalas dendam pada Vante. Selebihnya aku tidak ikut campur!” Anna dengan cepat mengelak.


“Jadi, kau mengakui usaha prostitusi itu?” tanya Juan.


Anna merasa terjebak. Ia memilih untuk diam. Mengatakan akan menunggu pengacaranya saja untuk bicara lebih lanjut. Sedangkan Juan dan Hope juga sudah merasa di atas angin. Apalagi setelah anak buah mereka yang berada di rumah Darco sudah berhasil mendapatkan bukti-bukti mengenai prostitusi yang selama ini dijalankan oleh Anna.


Juan juga segera memberi kabar pada Vante. Pria itu masih setia mendampingi Jeni yang pingsan. Melalui telepon, dua pria itu terlihat senang sekali dengan apa yang mereka dengar. Hingga tiba-tiba Vante melihat pergerakan sang wanita, Jeni.


“Aku tutup dulu teleponnya. Sepertinya adikmu sudah bangun.”


Vante segera merapat ke tepian ranjang. Ia menggenggam tangan Jeni menunggunya membuka mata. Sesekali memanggil namanya lirih. Jeni akhirnya membuka matanya perlahan. Antara lega dan terkejut melihat Vante di sana untuk pertama kali.


“Vante?”


“Iya, Jeni. Ini aku. Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terasa sakit?” tanya Vante terlihat khawatir.


Jeni menggeleng. “Hanya sedikit pusing. Tolong beri aku air putih.”


Vante dengan cekatan mengambil air putih dan membantu Jeni duduk di sandaran ranjang. Gadis itu minum beberapa teguk dan lalu melihat ke sekitar.

__ADS_1


“Kamu ada di rumahku. Tenang saja karena semuanya sudah aman. Kori dan ibunya sudah berada di kantor polisi.” Vante bicara dengan lembut.


“Ah, begitu. Aku sama sekali tidak menyangka ternyata dia …-”


“Tidak masalah. Aku rasa kau selalu bermasalah dengan caramu menilai orang. Hehehe. Aku harap ini yang terakhir, karena setelah ini aku ingin kau selalu ada di sisiku. Aku berjanji akan menjagamu dengan jauh lebih baik. Bagaimana?” tanya Vante tersenyum.


“Apa? Kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Jeni yang memang masih merasa belum siap.


“Ya, aku tahu ini terlalu terburu-buru, tapi faktanya kita memang ditakdirkan bersama Jeni. Kau bisa lihat kan bahkan di saat terpurukmu, aku yang selalu ada di sana untuk membantumu. Begitu pun sebaliknya.” Vante menatap dengan serius.


“Tapi, Vante-”


“Mari kita menikah. Aku serius dengan apa yang kita ucapkan. Mari kita saling melindungi satu sama lain. Ayolah. Tolong jangan banyak mengelak lagi. Kita sudah membuktikan perasaan masing-masing. Kita faktanya masih mencintai satu sama lain. Bukankah kau bisa diculik adalah karena menolak Kori? Bukankah kau diculik saat sedang berada di dalam perjalanan menuju rumahku?” tanya Vante menebak.


Jeni tertunduk malu. Apa yang vante katakan memang benar. Dia memang sudah mengaku pada dirinya sendiri bahwa memang cinta pada pria itu. Sekarang Vante ada di hadapannya dan memintanya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


“Ah, benarkah?” Vante mendadak mengingat sesuatu. “Benar, kalau dipikir lagi ini memang lamaran yang kurang pantas. Aku melupakan cincinya. Jangan khawatir, aku menyimpannya selama ini.”


Vante mengeluarkan satu kotak beludru berwarna hitam. Di mana ketika ia membukanya terlihat sebuah cincin emas putih dengan mata berwarna hijau. Jeni tentu saja terpana melihat cincin yang cantik itu. Pria itu memasangkan cincinnya segera ke jemari manis sang wanita.


"Ini indah, Vante."


"Dan sangat cocok untukmu, Jeni."


Vante menatap Jeni lekat dan ia mulai merapatkan bibirnya. Saling melepas rindu dan kelegaan, keduanya saling bertaut. Di dalam hati membuncah bahagia karena pada akhirnya mereka akan bersatu. Mendadak Jeni memisah jarak antara keduanya.


“Ah, tapi, apa yang kau lakukan kemarin untuk menyelamatkanku itu luar biasa. Aku hanya ingin tahu, apakah nantinya kau akan hidup sebagai pebisnis atau mafia seperti dulu? Terus terang saja, menikah denganmu tidak akan mudah. Kau mungkin masih punya banyak musuh di luar sana yang ingin menghabisimu. Sedangkan aku mungkin tidak akan sanggup melakukannya lagi.” Jeni mendadak berpikir jauh.

__ADS_1


“Aku tahu hidup denganku tidak akan mudah. Bahkan ketika aku memilih berbisnis, persaingannya juga akan menakutkan, Jeni. Aku tidak akan memaksamu, tapi kau memang harus menjadi seorang istri yang kuat untuk bisa hidup bersamaku. Aku malah berpikir karena tidak selalu bisa melindungimu, kau harus mempertimbangkan untuk melindungi dirimu sendiri. Seperti mungkin belajar bela diri dan lain sebagainya.” Vante tersenyum penuh arti.


“Kau serius dengan ini?” tanya Jeni tak percaya.


“Ya, itu semua demi kebaikanmu kan. Kau bisa pikirkan sendiri manfaatnya untukmu. Aku juga tidak mungkin akan selalu ada di sini kan.” Vante bicara santai.


“Kau benar juga. Apapun itu aku harus menjadi seorang istri yang kuat.” Jeni akhirnya bersikeras.


“Hehehe. Tenang saja. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan mendampingimu.” Vante bicara lagi.


Tak lama setelah itu, Juan dan Irene juga datang di rumah Vante. Mereka datang untuk menjenguk Jeni. Lega karena melihat sang adik baik-baik saja. Sekaligus mereka membicarakan mengenai apa yang sudah menimpa Kori dan Anna.


"Jadi, mereka benar-benar akan dihukum kan?" tanya Jeni masih penasaran.


"Ya. Mereka berdua akan dihukum untuk waktu yang lama. Tidak perlu khawatir." Juan terlihat begitu gembira.


"Aku juga senang mendengarnya. Tidak akan ada yang mengganggumu lagi. Aku senang kau baik-baik saja." Irene mengusap punggung sahabatnya itu.


"Sekaligus kita perlu membicarakan ini. Aku dan Jeni juga sudah sepakat untuk menikah." Vante angkat bicara.


"Apa?" Juan sangat terkejut.


"Wah benarkah? Aku senang mendengarnya." Irene cepat memberi selamat.


"Aku … aku bingung juga apa yang kurasakan. Melepaskan adikmu satu-satunya untuk pria lainnya rasanya melegakan dan berat di saat yang bersamaan." Juan menggaruk belakang kepalanya kasar.


"Ck, tenanglah. Kau hanya butuh sedikit waktu agar terbiasa." Irene merangkul lengan suaminya kini.

__ADS_1


__ADS_2