
Jeni sudah kembali di apartemennya sendiri. Jujur dia sangat merindukan pria yang ia kenal dengan nama Vee itu. Sudah seminggu, Vee menghilang begitu saja. Setelah pertemuan mereka ketika itu, bahkan memberi kabar saja tidak.
Bukannya tidak pernah berusaha untuk menghubungi, tapi bahkan ketika Jeni mencoba menghubungi, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Sejujurnya Jeni juga bertanya pekerjaan seperti apa yang dilakukan oleh Vee sampai tidak bisa menghubunginya.
Pikirannya begitu penuh dengan pria misterius yang biasa ia panggil Vee itu. Sungguh ciuman pertama mereka membuat Jeni semakin sulit berpikir jernih. Ia mengaku telah jatuh cinta pada sosok itu.
“Pria misterius yang menyebalkan. Setelah menemuiku dan mengatakan cinta bahkan menciumku, dia pergi begitu saja. Apa benar yang Irene katakan bahwa ia hanya memanfaatkanku saja?”
Jani juga memikirkan mengenai Juan dan orang-orang di sisinya yang mungkin akan kurang setuju dengan kehadiran Vee dalam kehidupannya. Pria itu bahkan setelah semua yang mereka lakukan, masih sangat misterius. Jeni masih tidak tahu banyak tentangnya.
“Tapi … bagaimana kalau ia sebenarnya memang pria berbahaya? Ya meskipun aku bisa melihat dia adalah pria yang baik, tapi … kalau dipikir lagi, aku tidak tahu apapun tentangnya. Kalau Juan tahu, ia pasti akan marah besar.”
Jeni bingung mengenai langkah lanjutan yang akan dia lakukan. Vee memberi kesan bahwa ia memang tak ingin dihubungi. Apakah dia harus menunggu sosok misterius itu atau kah harus mulai kembali fokus pada diri sendiri dan melupakannya?
“Ah benar-benar menjengkelkan! Kalau dipikir lagi, kenapa aku harus terfokus pada satu pria asing itu? Anggap saja itu hanyalah perkenalan menyenangkan yang singkat saja. Lebih baik aku fokus pada kuliah dan pekerjaanku!”
Di lain sisi, Vante juga merasakan hal yang sama. Ia juga merindukan gadis bernama Jeni itu. Masalahnya untuk saat ini, menjaga jarak adalah pilihan terbaik. Vante tidak mau kalau Jeni harus celaka karenanya. Dia tetap harus berhati-hati dengan rencana yang sudah ia susun.
“Sementara waktu. Ini untuk sementara saja, Jeni. Aku harap kau akan menungguku. Aku janji setelah itu, kita akan hidup bahagia bersama.”
Vante yang sedang beristirahat di dapur, sedang menikmati segelas minuman coklat dingin. Sesekali ia masih mengamati beberapa luka di tubuhnya yang masih terasa nyeri. Kalau dipikir lagi, meskipun permintaan maaf itu sudah diterima, tapi tetap saja tubuh Vante terasa nyeri.
__ADS_1
“Putraku yang tampan. Apa yang kau lakukan malam-malam di sini?” tanya sebuah suara yang begitu ia kenal.
“Maria, kau belum istirahat?” tanya Vante.
“Ck, kau ini! Aku bertanya kau malah balik bertanya. Aku belum mengantuk saja. Ada beberapa hal yang harus aku bersihkan di dapur. Kau sendiri?” tanya Maria.
Vante menunjukkan gelas kopi dinginnya. Maria yang mengerti segera duduk di hadapan Vante setelah mengambil segelas jus jeruk dari kulkas. Mereka berdua menikmati malam penuh bintang bersama dari jendela besar yang memang ada di sana.
“Apa lagi yang kau pikirkan kali ini? Apa tentang gadis yang waktu itu?” tanya Maria.
“Wow, aku akui kau adalah cenayang yang hebat, Maria. Aku memang sedang sedikit … merindukannya,” ucap Vante tersipu malu.
“Owh ya ampun. Ini benar-benar pertama kalinya kau bertindak aneh seperti ini. Aku bisa sangat yakin mengatakan bahwa gadis itu benar-benar membuatmu jatuh cinta. Benar kan?” tanya Maria yakin.
“Kau bisa menceritakan sedikit tentangnya. Kau tahu kan, aku bukan tipe orang yang akan membocorkan rahasiamu,” ucap Maria.
“Hahaha. Tentu saja aku percaya kau, Maria. Sebelumnya aku memang belum yakin dengans emua yang terjadi. Sekarang, aku rasa aku lebih siap untuk menceritakannya.”
Maria menunggu dengan penuh harap. terlihat jelas dari tatapan matanya yang berbinar itu.
“Namanya Jeni. Ia adalah seorang pekerja paruh waktu di sebuah mini market. Dia juga sedang kuliah jurusan akting. Dia jelas gadis yang baik, polos, dan apa adanya. Ah, dan tentu dia juga sangat cantik dan menggemaskan,” ucap Vante memperkenalkan.
__ADS_1
“Dia juga yang menolongmu saat terluka?” tanya Maria.
“Ya, itu sebuah ketidaksengajaan. Aku yang terluka kena tembakan waktu itu tidak sanggup lagi menjalankan sepeda motor. Aku kebetulan berhenti di sekitaran mini market di mana ia bekerja. Bukanya mengobatiku di sana, ia malah membawaku ke apartemennya. Sangat lugu dan lucu,” ucap Vante.
“Ah, jadi begitu ceritanya. Bagaimana kau bisa mendapatkan perban itu dan juga bantuan darinya.” Maria mengangguk mantap.
“Tapi sebenarnya … karena luka itu aku juga jadi ingat. Dia ternyata adalah adik kandung dari seorang polisi yang selama ini mengejarku. Aku jelas khawatir hubungan kita akan memburuk nantinya. Dan tentu saja dengan statusku sebagai kaki tangan Darco.” kata Vante lagi.
“Aku mengerti. Cinta itu memang tak akan pernah bisa memilih kepada siapa ia akan berlabuh. Sebagian dari cinta itu, harus melewati jalanan yang curam dan terjal. Mungkin hubungan cintamu itu adalah salah satunya. Tapi, bukan berarti itu tidak akan berhasil. Cinta yang bisa lolos dari ujian berat, maka itu lah cinta yang paling kuat,” ucap Maria menepuk pundak pria yang sudah dianggapnya sebagai anak itu.
“Apa benar begitu?” tanya Vante yang tak yakin.
“Aku rasa.”
Mereka berdua pun tertawa. Setidaknya pada Maria, Vante bisa membuka diri. Berbeda dengan Jeni yang bahkan belum bisa terbuka pada siapapun karena ia takut rahasia mengenai identitas pria misterius akan terendus oleh Juan, kakaknya.
“Ah dan satu lagi, Maria. Ada yang ingin aku katakan padamu. Aku sedang berusaha mencari jalan keluar dari kerajaan gelap ini. Aku sangat amat ingin menjadi diriku yang baru sepenuhnya. Kau tahu kan, Darco pasti tidak akan menyerah dengan mudah. Tapi, aku sangat ingin mencobanya. Maria, apa kau berada di sisiku?” tanya Vante meminta dukungan.
“Apa yang kau katakan itu? Bahkan sejak kau datang di sini, aku segera tahu bahwa tempatmu bukan di sini. Aku tahu kau amnesia dan tidak lagi mengingat apapun tentang masa lalumu. Maka, yang terbaik bagimu adalah kembali mengingat dan menjalani apapun yang seharusnya adalah kehidupanmu.” Maria kembali mengusap kepala Vante.
“Suatu saat, kalau aku berhasil keluar dari sini, Maria, ikutlah bersamaku,” ajak Vante.
__ADS_1
Maria terdiam dan tersenyum. Tatapan penuh kasih sayang itu lah yang membuat Vante bertahan selama ini di rumah Darco. Ia sudah menganggap Maria seperti ibunya sendiri. Vante yang berharap, bisa sedikit lega saat melihat Maria mengangguk.
Tekad Vante semakin kuat saja setelah ia mendapat persetujuan dari Maria. Seseorang yang benar-benar bisa ia anggap sebagai keluarga. Vante melanjutkan kegiatan minumnya bersama Maria hingga tengah malam bahkan membantu wanita itu membereskan dapur.