
“Jeni, ini sudah hampir ja-”
Bibir Irene terhenti saat dia bisa melihat sosok pria yang sedang duduk di samping rekan kerjanya itu. Meskipun Irene tidak bisa melihatnya, tapi menilai dari penampilan pria itu saja yang mengenakan pakaian dan jaket kulit hitam, ia bisa segera tahu bahwa itu sosok misterius yang dibicarakan oleh Jeni sebelumnya.
“Irene, kalau kau ingin pulang, pulang saja dulu. Aku akan menutup tokonya setelah ini,” ucap Jeni.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan dengan senang hati melakukannya.” Irene tersenyum penuh arti.
Irene membereskan cepat tasnya dan secepat kilat pergi dari minimarket itu. Dia sempat meminta Jeni bagaimanapun untuk hati-hati. Jeni hanya tersenyum dan mengangguk untuk mengiyakan.
Tidak banyak yang Jeni dan Vee bicarakan malam hari itu. Vee bisa dikatakan adalah pria yang sangat tertutup. Sedangkan Jeni sebenarnya bingung mau bicara apa lagi dengan pria itu.
“Jadi kau hanya punya seorang kakak?” tanya Vee.
“Ya. Seorang kakak laki-laki yang sudah bekerja. Tapi, kami tinggal terpisah karena terus terang aku merasa tertekan terus menerus dikekang olehnya. Jadi, lebih baik aku pergi dan mendapatkan apartemenku sendiri. Ya meskipun aku masih harus menyewanya,” cerita Jeni.
“Kau beruntung setidaknya masih memiliki anggota keluarga. Aku tidak punya siapapun lagi,” ucap Vee lirih hampir tak terdengar.
“Hah? Apa?” tanya Jeni yang memang kurang jelas mendengar.
“Hm, bukan hal yang penting.” Vee bicara kaku.
“Lalu … kau sendiri apa sekarang sedang bekerja?” tanya Jeni ingin tahu.
“Hm … bisa dikatakan begitu. Aku bekerja sebagai pedagang biasa saja,” kata Vee.
“Ah, begitu.” Jeni mengangguk kepalanya.
“Ah ya. Sebelum aku melupakannya lagi. Apa boleh kalau aku meminta nomor teleponmu?” tanya Vee dengan santainya.
“Nomorku? Ya tentu saja.”
Jeni mengetikkan nomornya sendiri ke dalam ponsel Vee yang disodorkan padanya. Setelah selesai, Vee juga menelpon nomor itu dan memastikan Jeni menyimpan nomornya. Tak terasa hari makin malam dan Jeni juga terlihat mulai lelah.
__ADS_1
“Aku akan mengantarmu setelah ini,” ucap Vee cepat.
“Ah, tidak perlu. Kau tahu sendiri kan rumahku cukup dekat dari sini.” Jeni mencari alasan.
“Justru karena itu aku akan mengantarmu. Kau terpaksa pulang larut malam karena aku datang. Tentu saja aku harus mengantarmu.” Vee dengan cepat berdiri mengambil kantong belanjaannya.
“Baiklah. Aku akan menutup pintu terlebih dahulu.” Jeni tersenyum.
Vee sedang bersandar di samping pintu menunggu Jeni yang sedang menutup minimarket. Minimarket tempat Jeni bekerja memang letaknya tepat berada di pojok jalan dan terdengar langkah kaki dari arah yang berlawanan dengan lokasi Vee berdiri.
“Jeni? Kenapa baru pulang?” tanya suara tersebut yang cepat membuat Jeni menggeleng.
“Kak? A-aku ….”
Jeni menoleh ke arah Vee yang mendadak sudah menghilang. Jeni meneguk ludahnya kasar. Kakaknya sangat over protektif dan kalau mengetahui ia sedang bersama seorang pria, ia pasti akan marah besar. Hanya saja masalahnya, ke mana Vee pergi?
“Hei, aku bertanya padamu? Ini sudah jam 11 malam.” Juan yang berada di dalam mobil memanggil.
“Eh, hanya … ada pengiriman barang yang aku harus bereskan,” ucap Jeni sambil tertawa kikuk.
Jeni sekali lagi melirik ke kanan dan kiri, tapi sosok Vee memang sudah tidak ada. Maka, Jeni tidak punya alasan untuk menolak kakaknya. Ia naik ke kursi penumpang di belakang karena Hope ada di kursi depan samping kakaknya.
“Halo, Jeni,” sapanya.
“Hai, Hope.” Jeni tersenyum seadanya.
“Apa kau sedang menunggu seseorang? Kau dari tadi seperti mencari sesuatu,” ucap Hope tiba-tiba.
“Eh, tidak tidak. Tidak ada siapa-siapa. Hehehe. Aku hanya memastikan sudah menutup pintu dengan benar.” Jeni mencari alasan.
“Owh begitu. Kau sudah makan?” tanya Hope dengan senyumnya yang secerah matahari.
“Sudah. Aku tadi makan mi instan,” jawab Jeni.
__ADS_1
“Wah … sayang sekali. Aku padahal ingin membawa kalian makan makanan laut,” katanya.
“Ck, daripada memikirkan kami, pikirkan dirimu sendiri. Bukannya tadi siang kau bilang gajimu bulan ini sudah menipis?” tanya Juan dengan santainya.
“Hai, kau ini! Kenapa tidak bisa membiarkan aku mendekati adikmu?” tanya Hope yang kesal.
“Aku sudah bilang ribuan kali aku tidak akan mengizinkannya!” Juan mulai kesal.
“Kenapa? Apa aku kurang baik untuk adikmu? Kau sudah sangat mengenalku kan?” tanya Hope yang terlihat putus asa.
Jeni hanya bisa tersenyum melihat tingkah Juan dan Hope. Mereka memang rekan kerja yang sangat kompak. Juan yang selalu serius dan Hope yang suka sekali bercanda. Kombinasi yang pas, tapi tidak kalau sudah menyangkut dirinya.
Tentu saja Juan tahu kalau adiknya itu hanya menganggap Hope saja. Itu kenapa dia bertindak seolah menentang rasa suka Hope itu. Hanya karena dia tidak ingin sahabatnya jatuh lebih dalam ke dalam perasaannya sendiri. Lagipula itu justru akan berakibat buruk pada hubungan mereka bertiga.
Hingga sampai di apartemen Jeni, Juan memastikan adiknya itu masuk ke dalam kamar. Seperti biasa, ia meninggalkan banyak pesan yang bahkan setiap katanya sudah memuakkan bagi Jeni.
“Kau membuatku bosan, Kak.”
Begitu tiba di dalam kamar, Jeni segera mengganti pakaiannya. Setelah membersihkan diri, ia berbaring dan melihat ponselnya. Di mana di sana ada pesan dari nomor yang belum sempat ia simpan sebelumnya. Itu adalah nomor Vee.
Pesannya tertulis, “aku minta maaf karena meninggalkanmu begitu saja karena ada pekerjaan yang mendadak harus aku lakukan malam ini.”
Jeni sebenarnya cukup lega karena pria itu tidak ada di sana saat kakaknya datang. Juan akan marah besar dan mungkin mengusir Vee dengan kasar. Jadi, begitu tahu bahwa Vee pergi karena pekerjaan, dia merasa baik-baik saja.
“Tidak masalah. Aku memang sedikit bingung kau tiba-tiba pergi begitu saja. Tapi, aku lega kau baik-baik saja,” ketik Jeni.
“Aku baik-baik saja. Apa itu tadi kakak yang kau ceritakan itu?” tanya Vee melalui pesannya.
“Ya, itu kakakku. Aku kira kau tidak sempat melihatnya. Apa kau mengenalnya?” tanya Jeni.
“Ah, tidak. Ya mungkin pernah melihatnya di suatu tempat,” kata Vee asal.
“Bisa jadi. Ia memang sering berpatroli karena dia adalah seorang polisi.”
__ADS_1
Vee menurunkan ponselnya. Tidak mungkin ia tidak melihat sosok itu. Justru karena dia melihatnya, dia segera pergi dari minimarket itu. Juan adalah pria yang menembaknya dan begitu terobsesi untuk menangkapnya. Ajaibnya, ia juga adalah kakak dari Jeni, gadis yang ia suka.
“Wah, dunia ini bekerja dengan cara yang luar biasa. Kakak dari gadis yang membuatku tertarik adalah orang yang paling ingin menjatuhkanku. Apakah ini takdir?” tanya Vee begitu lirih.