
Hope yang memang merasa obsesi Juan semakin menjadi-jadi, memilih untuk menemui Lora setelah pulang kuliah. Hope memberi gadis itu tumpangan menuju minimarket. Ia perlu bicara dengan satu-satunya orang yang saat ini paling dekat dengan Juan.
“Kau tahu kan, tidak akan mempan bagiku bicara pada Juan. Dia tidak akan mendengarkanku. Aku rasa kau harus mulai bicara pada kakakmu itu. Obsesinya tentang kehidupan masa lalu kalian, itu semakin tidak masuk akal,” ucap Hope.
“Aku tahu, tapi bukannya aku tidak pernah mencoba. Kau juga tahu itu. Dia keras kepala sekali,” kata Jeni.
“Cobalah. Sekali saja bicara dengannya dari hati ke hati. Aku bukannya tak peduli dengan masa lalu kalian, tapi aku hanya tidak mau itu akan merusak masa depannya. Dia sangat berpotensi menjadi seorang polisi yang sukses. Tapi, semua obsesi itu menahannya. Bahkan dari kehidupan pribadinya. Kau paling tahu itu kan?” tanya Hope yang sedang menyetir.
“Ya. Aku tahu dan aku juga menyadarinya. Baiklah, Hope. Aku akan bicara dengannya,” ucap Jeni dengan tersenyum.
“Nah, begitu lebih baik. Aku lega mendengarnya. Lalu … kapan kau akan mempertimbangkan untuk pergi berkencan denganku?” tanya Hope yang dengan cepat merubah ekspresinya.
“Hope. Aku tahu kau memang memiliki perasaan padaku. Tapi, aku juga ingin kau tahu bahwa aku menganggapmu sama seperti kakakku, tidak lebih dari itu,” ucap Jeni berhati-hati.
“Apa tidak bisa kalau kau mencobanya? Kau kan sama sekali tidak pernah memberi aku kesempatan. Setidaknya sekali saja berkencan denganku. Kau bisa memutuskan setelah itu,” ucap Hope yang masih berharap.
“Bagaimana kalau pada akhirnya jawabanku akan tetap sama?” tanya Jeni berhati-hati.
“Maka aku berjanji setelah itu, akan melepaskanmu. Aku tidak akan mengejarmu lagi. Kalau kau menganggap aku sebagai kakakmu, maka kamu adalah adikku juga,” kata Hope dengan senyumnya yang tulus.
Jeni memang memikirkan ini sejak lama. Benar kata Hope, ia tak pernah memberi pria itu kesempatan. Meskipun pada akhirnya ia tetap akan menolak, tapi setidaknya Hope tak akan merasa terlalu buruk. Tidak adil bagi Hope juga kalau Jeni tak juga memutuskan. Ia berhak menemukan cinta lain.
“Baiklah kalau begitu, Hope. Aku akan bersedia pergi denganmu.” Jeni tersenyum manis.
__ADS_1
“Benarkah? Wah, bagus sekali. Aku akan menghubungimu nanti setelah aku memastikan jadwalku ya.” Hope terlihat bersemangat.
Akhir minggu, Hope akhirnya sudah memutuskan untuk membawa Jeni pergi ke pantai. Itu juga setelah Jeni memberikan beberapa saran padanya. Jeni bilang ia sudah lama tidak melihat pantai dan mungkin akan menyenangkan kalau pergi kesana.
Hope menjemput Jeni ke rumahnya. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun pantai yang panjang. cardigan besar berwarna putih menutupi tubuhnya. Hope juga tak kalah tampan. Pria itu datang dengan kemeja besar berwarna-warni dengan celana jeans yang gombrong. Berbeda jauh dengan penampilannya sehari-hari.
“Jangan tanya aku apapun, Jeni. Aku sedang mengagumi wajah dan penampilanmu yang luar biasa,” kata Hope dengan tatapan memuja.
“Hope, jangan berlebihan. Kau juga terlihat … berbeda. Dan lebih baik kita berangkat sekarang kan?” tanya Jeni kemudian.
Keduanya memang berangkat pagi hari sekali bahkan ketika matahari belum terbit. Mereka berharap bisa menikmati matahari terbit di sepanjang perjalanan. Butuh waktu sekitar dua jam untuk tiba ke pantai yang berada di tepian kota itu.
Begitu turun dari mobil, Jeni merasa begitu lega. Ia menghirup nafas panjang menikmati angin yang menerpa tubuhnya. Senyum gembira dan juga ceria segera terbit di wajahnya. Hope terlihat membawa alas duduk juga satu kantong plastik besar berisi makanan dan minuman.
“Wow, Hope, kau menyiapkan semuanya?” tanya Jeni yang girang.
Jeni dan Hope duduk di sana. Mereka berdua membuka kantong yang Hope bawa dan mulai menikmati segelas air mineral. Cuaca pinggir pantai memang sedikit panas. Beruntung mereka bisa duduk di tempat yang teduh dan nyaman. Mereka berdua menikmati pemandangan.
“Tempat ini bagus sekali ya. Pantainya masih sangat bersih dan juga tidak terlalu ramai pengunjung. Aku menyukainya,” kata Jeni senang.
“Bagus kalau kau menyukainya. Aku memang sengaja mencari pantai yang belum diketahui oleh banyak orang. Tapi, kita mungkin tidak bisa melakukan banyak aktivitas di tempat seperti ini.” Hope menoleh ke sekitar.
“Tidak masalah. Bagiku, selama ada pasir dan air laut, aku tetap bisa melakukan banyak hal,” ucap Jeni tersenyum.
__ADS_1
“Hahaha. Ya kau benar juga.”
Mereka melakukan banyak hal dengan pantai itu. Berlari kesana dan kemari, membangun istana pasir, mengubur tubuh Hope di dalam pasir, juga bermain air. Sesekali mereka juga makan dan minum bekal yang sudah dibawa sebelumnya.
“Wah, cukup melelahkan. Aku rasanya memang sudah terlalu lama tidak pergi ke pantai.” Jeni tersenyum dengan pipinya yang menggemaskan.
“Aku senang kau menyukainya,” ucap Hope senang.
“Tapi, aku rasa sangat kurang kalau kita berada di pantai tanpa kelapa muda,” kata Jeni menoleh ke kanan dan kiri.
“Aku akan mencarikannya untuk kita. Tunggu saja di sini ya,” kata Hope cepat.
“Ta-tapi-”
“Jangan membantah. Duduk saja di sini dan aku akan mencarikannya untukmu,” ucap Hope cepat berdiri.
Jeni kembali menatap ke kejauhan. Ia berdiri dan mulai berjalan tanpa alas kaki. Jeni mendadak ingin membuang air kecil jadi dia mulai berjalan mencari toilet. Tapi, baru berjalan beberapa langkah, pergelangan tangan Jeni ditarik oleh seseorang dan mulutnya dibungkam.
Jeni yang terkejut pun tak bisa berteriak. Ia hanya pasrah saja saat orang yang memeluknya itu menariknya hingga ke balik batu karang yang cukup besar. Jeni tidak bisa melawan saat seseorang itu mendorong tubuhnya pelan ke bebatuan. betapa terkejutnya Jeni saat melihat itu adalah Vee yang sedang berada di sana.
“Kamu!”
“Jeni, aku tidak bisa bicara panjang lebar untuk sekarang, jadi dengarkan aku! Aku belum selesai dengan pekerjaanku dan aku seharusnya tidak muncul di sini hari ini, tapi, kau sungguh membuatku frustasi. Sepertinya benar aku sudah terobsesi denganmu. Melihatmu pergi dengan pria itu, sungguh membuat hatiku merasa tak nyaman. Itu alasanku muncul di sini. Aku hanya perlu mengatakan bahwa aku tidak suka melihatmu pergi dengan pria lain manapun selain aku. Oleh karena itu, aku mohon jangan terlalu lama berdua dengannya. Setelah ini segera minta dia mengantarmu pulang. Apa kau mengerti?” tanya Vee yang terlihat kesal.
__ADS_1
Jeni yang masih terlalu terkejut, hanya bisa menelan ludahnya kasar. Ia tanpa sadar mengangguk. Sungguh pria di hadapannya itu punya kekuatan magis yang membuatnya tunduk seketika.
“Gadis pintar!”