
Vante begitu terkejut dengan sikap frontakl istrinya, tapi entah kenapa ua sama sekali tidak tersinggung. Seolah memahami apa yang terjadi, ia akhirnya memilih untuk diam. Apalagi Rosa terlihat tak bisa berkutik. Ia tidak menjawab pertanyaan hingga akhirnya seorang temannya memanggil namanya.
Begitu Rosa pergi, Vante menatap sang istri dengan lekat. Wanita itu memilih untuk fokus pada garpu dan pisau yang ada di tangannya. Ia melihat makanan di hadapannya dan menikmatinya dengan santai.
“Apa itu tadi, Jeni?” tanya Vante.
”Kenapa? Apa kau ingin membela sekretarismu itu?” tanya Jeni yang masih kesal sekali.
“Ya, maksudku kenapa mendadak begitu kesal padanya. Apa kalian punya masalah sebelumnya?” tanya Vante ingin tahu.
“Hmh, kau seharusnya lebih tahu daripada aku. Bukankah kau sedang ada di dalam masalah bersamanya? Apa aku harus mengingatkanmu dengan tragedi seranjang antara kalian berdua?” tanya Jeni dengan begitu santai.
“Jeni, kau … tahu?” tanya Vante gelagapan.
“Kenapa? Apa kau berniat menyembunyikan selamamya dariku?” tanya Jeni masih tenang.
“Hanya saja … bagaimana?” tanya Vante yang bingung.
Jeni meletakkan peralatan makannya dan kini menatap Vante dengan tajam. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan terakhir yang dia dapat dari orang yang tak diketahui namanya itu. Vante tentu saja terkejut dengan mata terbelalak menatap foto itu.
“Ini? Jeni … aku bisa menjelaskannya.” Vante cepat membela diri.
“Tidak perlu menjelaskan apapun. Lagipula aku tidak yakin bisa mendengarnya.” Jeni mengalihkan pandangannya lagi.
__ADS_1
“Jeni, meskipun kau tidak ingin mendengarkan apapun, aku tetap akan menjelaskannya. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Ya Rosa memang datang ke rumah ini membawa whiskey. Kami memang minum bersama dan terkahir kali yang aku ingat … kami memang berciuman. Hanya saja setelah itu, aku tidak ingat apapun lagi. Aku tidak tahu kenapa bisa ada foto seperti itu.” Vante menjelaskan dirinya.
“Ya bisa dibilang kurang lebih aku mengerti. Aku memang sudah curiga dan merasa bahwa ada rekayasa dalam foto ini. Maksudku fotonya nyata hanya saja mungkin apa yang terjadi di sana tidak seperti yang aku pikirkan. Kesal rasanya, tapi aku percaya padamu. Melihat bagaimana Rosa begitu menyukaimu, aku segera mengerti bahwa ini mungkin caranya untuk membuat kita berpisah.” Jeni bicara dengan santai.
“Aku benar-benar berterima kasih. Aku tidak menyangka kau percaya padaku.” Vante dengan cepat mengusap punggung tangan sang istri.
Jeni menarik tangannya cepat. “Jangan terlalu percaya diri. Tetap saja aku sangat amat marah padamu. Kau bisa jatuh ke jebakan murahan semacam ini. Aku benar-benar sangat kesal! Kau ini pernah menjadi seorang mafia yang bahkan diperhitungkan. Kenapa jatuh pada tipuan seorang wanita? Aku bahkan berpikir kau dengan sengaja menjatuhkan dirimu di sana.”
“Jeni, jangan salah paham. Aku benar-benar tidak berpikiran sejauh itu. Aku rasa ada sesuatu dalam diriku yang sangat salah saat itu. Aku bahkan sudah mencari tahu tentang itu. Hanya saja sampai titik ini, aku belum bisa mendapatkan bukti apapun. Bagaimana obat itu dimasukkan dalam tubuhku. Kami masih mencari tahu caranya.” Vante dengan cepat membela diri.
“Entahlah. Lakukan apa yang bisa kau lakukan, dan aku akan mengusahakan yang bisa ku usahakan.” Jeni terlihat enggan.
Setidaknya Vante bersyukur Jeni percaya padanya. Meskipun saat ini ia masih sangat marah, tapi setidaknya ia ada di pihaknya. Vante juga jadi lebih bertekad mengungkap mengenai apa yang sebenarnya telah dilakukan Rosa padanya. Sambil terus berpura-pura berada di sisi gadis itu.
Keesokan harinya, Vante melanjutkan pekerjaannya sedangkan Jeni memulai kegiatan barunya untuk mencari pekerjaan. Vante menawarkan diri untuk mencarikan manajer sekaligus asisten untuk Jeni, tapi ia menolak. Jeni pikir toh belum membutuhkan keduanya.
Jeni secara mandiri mencari pekerjaan sendiri. Ia mulai dengan mengikuti casting di beberapa lokasi. Bintang iklan, drama TV, bahkan pemain film. Segala kemungkinan dia coba dengan berbekal pengalaman yang ia miliki. Vante tentu saja diam-diam mencoba untuk membantu Jeni.
Di lain sisi, Vante yang sedang berada di ruangan itu, kedatangan Rosa. Ia datang dengan langkah kaki menghentak. Mungkin ada hubungannya dengan apa yang terjadi sebelumnya di restoran. Rosa berharap mendapat perhatian sang bos siang ini.
“vante, kita harus bicara.” Rosa duduk di salah satu kursi.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Vante.
__ADS_1
“Tentang apa yang terjadi kemarin. Bukankah istrimu itu sangat menyebalkan? Kenapa dia berkata seperti itu padaku?” tanya Rosa kesal.
“Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang sebenarnya kau katakan padanya saat dia sedang berkunjung ke perusahaan ini? Apa benar kau mengatakan mencintaiku? Bagaimana kau bisa mengatakannya pada istriku?” tanya Vante yang tak kalah kesal.
“Ah, itu. Aku hanya … hanya asal bicara saja. Aku tidak benar-benar serius mengatakan itu. Mungkin juga sedikit terpengaruh atas berita pernikahanmu itu.” Rosa salah tingkah sendiri.
“Jadi kau mengakui sudah bicara sembarangan pada Jeni? Aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimanapun aku adalah seorang pria beristri sekarang. Meskipun benar apa yang telah kita lakukan sebelumnya terjadi, kamu tetap tidak punya hak untuk bicara seperti itu pada Jeni. Aku tidak bisa menyalahkannya dengan apa yang terjadi. Lagipula … ada hal yang lebih penting dari itu.” Vante menatap dengan lekat.
“Ap-apa itu?” tanya Rosa ragu.
“Kenapa Jeni bisa mendapatkan foto kita berdua? Bagaiaman juga caranya foto itu bisa diambil?” tanya Vante kesal.
“Apa? Fot-foto apa yang kau maksud?” tanya Rosa pura-pura tak tahu,.
“Owh ayolah. kalau benar ada yang terjadi antara kita malam itu, maka sudah seharusnya itu menjadi rahasia antara kita berdua kan? Rumahku penuh dengan penjagaan yang sangat ketat dengan kamera CCTV di seluruh penjuru bangunannya. Kalau tidak ada orang lain yang mengambil foto itu, maka harus kepada siapa lagi aku mempertanyakannya?” tanya Vante begitu santai.
“Apa maksudnya kau menuduhku?” tanya Rosa yang mendadak marah.
“Lalu kalau tidak, coba jelaskan padaku penjelasan yang sangat masuk akal.” Vante menyilangkan kedua tangannya.
“Aku juga tidak tahu, Vante. Aku benar-benar tidak suka ini. Kau memojokkan aku. Bukankah kau seharusnya mendampingiku seperti janjimu?” tanya Rosa dengan tatapan memelas.
“Sudah. Hentikan tipu dayamu ini. Aku akan memastikan untuk mencari caramu membuatku jatuh tertidur malam itu. Kalau aku berhasil, maka aku akan melaporkanmu dan semua orang yang bekerja sama denganmu ke polisi. Sungguh aku tidak butuh sekretaris sepertimu lagi!” Vante bicara lantang.
__ADS_1