
Begitu Vante menutup teleponnya, ia hanya tersenyum melihat wajah merona Jeni. Mendadak ia jadi begitu rindu dengan kehangatan sang istri. Sayang sekali ia harus menahan hasratnya untuk sementara waktu. Vante memilih untuk pergi ke dapur dan mengambil sekaleng bir dingin untuk mendinginkan pikirannya.
Baru saja menikmati sebuah film aksi selama beberapa menit, Vante sudah dikagetkan dengan kedatangan seorang anak buahnya yang melapor bahwa ada tamu untuknya. vante dengan celana panjang dan kaos berwarna hitam itu mempersilahkan siapapun itu masuk ke ruang tengah rumahnya.
Tidak lama kemudian, muncul Rosa dengan satu botol whiskey di tangannya. Ia mengenakan sebuah jubah berwarna gelap dengan riasan wajah yang seperti biasa begitu menonjol. Sepatu hak tinggi warna merah menyala yang berbunyi merdu seiring langkahnya.
“Rosa, apa kita punya janji malam ini?” tanya Vante sopan.
“Hm, ya memang tidak. Aku datang sebenarnya untuk merayakan pernikahanmu dan Jeni. Hanya saja … kenapa sepertinya sepi ya?” Rosa melongok kanan dan kiri.
“Ya karena Jeni memang sedang tidak berada di sini. Ia sedang berada di Boranesia untuk membereskan beberapa hal. Aku rasa kau datang di saat yang salah.” Vante masih berusaha satai.
“Ah, aku yang seharusnya meminta maaf. Aku tidak menghubungimu dulu sebelum datang. Sayang sekali. Aku membeli mahal whiskey ini.” Rosa mengangkat botolnya dan memperhatikannya dengan sedih.
“Kalau kau memang ingin, kita bisa minum beberapa gelas sebelum kau kembali.” Vante hanya berusaha ramah saja.
“Kau pikir begitu? Baiklah.” Rosa segera duduk di kursi terdekat.
Vante sigap mengambil dua gelas yang memang ada di sisi ruangan. Ia juga lalu dengan sigap membuka botolnya dan menuangkan whiskey. Keduanya menikmati minuman beralkohol itu bersama-sama.
“Wah ….”
__ADS_1
“Enak kan? Aku pikir akan lebih enak kalau menikmatinya bersama-sama.” Rosa tersenyum cantik.
“Meskipun begitu, Jeni bukan seseorang yang suka minum. Dia mungkin juga akan hanya melihat saja.” Vante tersenyum santai.
Semakin banyak minum, semakin keduanya larut dalam percakapan yang antah berantah. Mulai berani mengungkapkan isi hati terdalam masing-masing. Dimulai dari Rosa yang akhirnya mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.
“Hm … aku pikir ini caraku untuk datang dan berdamai dengan keadaan. Aku sebenarnya sangat jatuh cinta padamu dan begitu berharap kau akan memberiku sedikit kesempatan saja. Sayang sekali, celah itu tidak pernah ada.” Rosa mulai melantur.
“Bohong rasanya kalau aku bilang tidak tahu. Aku menyadari perasaanmu padaku. Hanya saja memang aku terlalu fokus pada satu orang saat itu. Aku takut kalau membiarkanmu masuk, maka tujuanku pada akhirnya akan berubah.” Vante berucap jujur.
“Lalu kenapa tidak melakukannya? Kau kan tidak punya tanggung jawab untuk melakukan itu? Kau kan pria bebas yang bisa memilih siapa saja untuk berada di sisimu waktu itu?” tanya Rosa yang terdengar frustasi.
“Mungkin … karena aku merasa sudah berjanji. Rasanya akan salah kalau aku melanggar janji yang pernah aku ucapkan sendiri. Aku pikir setelah mengetahui hasilnya, baru akan memikirkan langkah apa yang akan ku ambil setelahnya. Ternyata … inilah takdirnya.” Vante tentu saja berucap dengan bangga.
Merasa bersalah, Vante yang sudah setengah mabuk, akhirnya mendekat pada gadis itu yang menutup wajahnya karena menangis. Vante berlutut di hadapan perempuan itu karena bahkan ia tak sanggup berdiri dengan tegak. Ia memegang kedua tangan sang gadis berharap menariknya dari wajahnya.
“Maafkan aku, tapi bukankah kau datang untuk berdamai dengan keadaan? Bukankah kau seharusnya bisa menerima pernikahanku ini?” tanya Vante sudah sempoyongan.
“Bisakah sekali saja? Sekali saja anggap aku sebagai seorang wanita? Sekali saja jangan abaikan aku?” tanya Rosa meminta.
Dua tangan itu akhirnya tertaut. Vante menatap Rosa dengan air mata yang membasahi wajahnya. Entah kenapa ia jadi merasa tak tega. Vante yang terlalu pusing untuk melanjutkan perbincangan, terjatuh ke lantai dengan tangannya yang menarik pergelangan Rosa.
__ADS_1
Keduanya terbaring di lantai di mana Rosa tepat berada di atas tubuh pria itu. Rosa menempelkan bibirnya di bibir sang pria. Vante tak merespon awalnya, tapi entah kenapa ia akhirnya luluh juga. Tatapan mata Rosa yang seolah memohon itu membuat pertahanannya rontok. Vante mengecup bibir Rosa yang merona merah.
Kalap, Vante membuka jubah milik Rosa yang memang sudah terbuka sedikit. Menunjukkan dadanya yang mengembang sempurna di balik gaun merah super seksi yang ternyata tersembunyi di balik jubahnya. Rosa punya image yang begitu berbeda dengan Jeni. Rosa jauh lebih agresif dan berani juga menantang.
Hal terakhir yang Vante ingat sebelum akhirnya jatuh pingsan adalah, ia mencium Rosa dengan penuh semangat juga membuka jubah gadis itu. Bahkan menindihnya masih di lantai beralaskan karpet tebal dan hangat itu.
Keesokan harinya, Vante terjaga dengan Rosa yang berada di ujung ranjangnya. Ia masih mengenakan gaun seksi merah semalam, hanya saja dengan riasan wajah yang sudah hilang dari wajahnya. Vante terkejut karena dia terjaga dengan hanya ****** ******** di balik selimut tebal kamar tidurnya.
“Rosa …!”
“Vante, kau sudah bangun,” jawab Rosa tanpa menoleh.
Bayangan keduanya terlihat begitu jelas di cermin besar yang ada di seberang ranjang. Vante menatap pantulan wajah Rosa yang terlihat begitu polos kini. Seluruh riasan tebalnya menghilang menyisakan wajah ayu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sisi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Apa yang terjadi di antara kita semalam?” tanya Vante benar-benar bingung.
“Menurutmu apa? Apa aku harus menjelaskan semuanya lagi?” tanya Rosa dengan suara lirih.
Vante dengan cepat menggeleng. Ia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Ia jadi tak yakin apakah benar ada yang teradi antara keduanya atau tidak. Semakin ia mengingat, ia justru semakin sakit kepala.
“Tidak mungkin! Kita tidak melakukannya.” Vante menggeleng.
__ADS_1
“Ya, begitulah. Mudah bagimu untuk mengatakannya dan juga mengelaknya. Mudah bagimu juga untuk melupakannya dan menganggap ini bukan suatu hal yang besar. Ya … bisa dikatakan ini juga salahku karena aku yang memintamu untuk menganggapku sebagai wanita semalam. Aku hanya tidak menyangka semua terjadi begitu cepat.” Rosa masih bicara lirih.
Vante kembali menggeleng tak percaya. Ia coba mengingat apa yang terjadi semalam. Ingatan terakhirnya tertahan saat dia terjatuh di lantai dan ya dia memang mencium Rosa saat itu. Lalu apakah ciuman itu membawa mereka lanjut ke ranjang? Atau hanya Vante yang terjatuh pingsan dan tidur sampai pagi?