
"Ayah! Aku kesal sekali. Kenapa justru Vante menikah dengan perempuan lain dan bukan aku?! Ayah kan berjanji padaku akan membuat kami menikah?!” Rosa terlihat begitu kesal mengadu pada sang ayah.
“Ayah juga tidak tahu kalau Vante ternyata punya calon istri, Rosa. Kalau tahu seperti itu, pasti sudah Ayah usahakan dari dulu untuk membuat Vante menikah denganmu. Maafkan, Ayah.” Pria bernama Randy itu mencoba menenangkan ayahnya.
“Sekarang aku kehilangan Vante. Apa yang harus aku lakukan?” Rosa terlihat bersedih di salah satu sudut kursi di rumahnya yang megah.
Rosa memang seperti itu. Ia adalah seorang wanita yang sangat manja yang selalu bergantung dengan ayahnya sejak ia sangat kecil. Hidup yang serba berkecukupan membuatnya melihat segala hal dengan sepele, bahkan salah satunya termasuk perasan pria terhadap wanita.
Semua bermula ketika ia melihat sosok Vante di salah satu pesta pebisnis. Rosa mengakui ia segera jatuh cinta pada sosok Vante yang punya kesan misterius dan pastinya tampan itu. Rosa dengan cepat merengek pada ayahnya untuk entah bagaimana caranya mendekatkan dia dengan Vante.
Walaupun sebenarnya ia memang tidak terlalu suka bekerja, tapi menjadi sekretaris Vante adalah kesempatan emas baginya. Sebaik mungkin, ia mencoba untuk menjadi karyawan yang bisa Vante banggakan. Hal yang bisa dilakukannya karena bagaimanapun ia punya latar belakang pendidikan yang cukup baik juga.
Rosa memang sebenarnya adalah gadis yang cukup pintar. Ia hanya sedikit malas dan enggan bekerja keras, sekali lagi karena apa yang telah ayahnya miliki. Bahkan tanpa bekerja, ia bisa hidup nyaman, jadi untuk apa bekerja.
“Ayah punya cara,” kata Randy.
“Cara apa lagi, Yah? Dia sudah menikah. Aku tidak serendah itu untuk merusak pernikahan orang lain. Seharusnya sejak awal Ayah bergerak lebih agresif. Harusnya Ayah jodohkan kami berdua saat itu juga.” Rosa masih begitu kesal.
“Dengarkan Ayah dulu. Kau tidak perlu merebut Vante dan mengemis cinta padanya. Aku hanya perlu waktu untuk membuatnya jatuh hati padamu dan dia yang akan berakhir mencarimu nanti. Ayah sudah memikirkan caranya.” Randy tersenyum begitu jahat.
__ADS_1
Entah apa yang dipikirkan oleh sang ayah, tapi Rosa terlihat masih kebingungan. Ayahnya ini memang punya beberapa ide yang kadang sangat di luar nalar. Entah harus mengantisipasi seperti apa, tapi ia hanya bisa mengiyakan.
Sudah beberapa kali Rosa mencoba mendekati Vante. Selama ini mereka bertahan untuk tidak menggunakan cara-cara yang licik. Kalaupun iya, maka mereka akan membuatnya sangat halus dan tidak kentara. Sayang, entah kenapa mereka selalu gagal.
Suatu waktu, Rosa bahkan menyiapkan obat tidur untuk Vante di sebuah pesta perusahaan. Ia dengan sigap selalu berada di sisi Vante berharap pria itu akan jatuh ke pelukannya. Tanpa disangka pria itu justru jatuh dan mendapatkan bantuan dari Waren.
Di lain waktu, Rosa bahkan berhasil mengundang Vante ke apartemennya dengan dalih makan makan formal bersama Waren. Entah bagaimana, mobil Waren mogok dan ia batal datang. Rosa sudah bersiap dengan pakaian super seksi. berharap Vante akan jatuh di ranjangnya. Sayang sekali, Vante ternyata tak tergiur dengan dirinya.
Rosa bahkan masih mengingat jelas percakapannya malam itu bersama Vante. Pria itu masih begitu santai bahkan saat melihat Rosa berdiri dengan setengah telanjang karena pakaian tidurnya yang super seksi dan tipis itu.
“Rosa, aku tahu apa yang sedang terjadi di sini. Aku ini hanya pria biasa yang juga memiliki nafsu. Aku mengakui itu. Hanya saja aku juga masih memiliki akal sehat dan aku menggunakannya dengan baik. Aku akan pulang dulu malam ini.” Vante dengan cepat meraih jaketnya yang tertinggal di sana.
“Jangan salah paham. Aku juga menghargaimu karena kau adalah anak Randy. Tentu saja juga karena pekerjaanmu juga cukup bagus selama di kantor. Justru karena itu aku ingin menjaga apa yang telah dimiliki dengan baik ini. Aku bukannya tidak tertarik padamu, tapi aku memang sudah jatuh cinta pada seorang wanita.” Vante akhirnya jujur.
“Siapa dia? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” tanya Rosa.
“Ya itu hanya karena dia sedang tidak berada di negara ini. Bagaimanapun aku yakin suatu saat akan bisa mendapatkannya.” Vante terlihat begitu bertekad.
“Bagaimana kalau tidak? Apakah lalu ada kesempatan untukku?” tanya Rosa kala itu.
__ADS_1
“Aku tidak bisa memastikannya juga. Bisa iya, tapi bisa juga tidak.” Vante melenggang begitu saja.
Sejak saat itu, Rosa jujur semakin memiliki semangat kuat untuk mengejar Vante. Melihat seorang pria dingin dan misterius seperti Vante ternyata memiliki seorang wanita yang ia cintai, rasanya membuat hati Rosa begitu terbakar cemburu. Sayang, ia masih kalah cepat juga.
Di lain tempat, Vante dan Jeni sedang melewati makan malam mereka di sebuah restoran mewah. Restoran itu memang menyediakan banyak makanan khas dari negara tersebut yang sangat Jeni cari. Keduanya makan dengan serasi dan juga romantis.
“Apa kau lelah hari ini?” tanya Vante menatap sang istri.
“Hm, tidak juga. Aku hanya sedikit enggan melakukannya. Aku merasa sangat kecil di hadapan banyak orang itu. Apalagi mereka memperhatikanku dari atas ke bawah seperti … entahlah.” Jeni masih teringat pada ucapan Rosa terakhir kali.
“Bukankah kau saja yang berlebihan? Maksudku … siapa yang berani menatapmu dengan seperti itu? Aku yakin semua orang menghormatimu.” Vante menggenggam tangan sang istri.
“Ya … ada satu orang yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya padaku. Aku juga bisa melihat beberapa orang sepertinya bicara tentangku. Aku rasa kau begitu populer di kalangan wanita ya? Karena mereka semua yang melakukannya kebetulan adalah para wanita.” Jeni terlihat tak suka.
“Apa kau cemburu?” tanya Vante penasaran.
“Bisa dikatakan, aku merasa tidak percaya diri. Aku bisa melihat kau banyak disukai oleh wanita pintar, cantik, dan pastinya datang dari keluarga yang berada. Meskipun saat ini hubungan kita sangat baik, tapi bukan berarti tidak ada kesempatan kau akan jatuh di kubangan. Aku … entah kenapa merasa khawatir.” Jeni tanpa sadar melamun.
“Aku entah harus merasa sedih atau senang kau memiliki sisi ini. Aku senang kau ternyata begitu mencintaiku, tapi aku harap kau bisa percaya padaku sepenuhnya. Aku sangat jatuh cinta padamu, bukan hanya untuk satu atau dua tahun, bahkan seumur hidup.” Vante sekali lagi mengusap punggung tangan sang istri.
__ADS_1