
“Apa yang terjadi di sini, Jeni?’ tanya sebuah suara yang begitu mengejutkan.
Jeni dan Johan kompak menoleh ke asal suara dan betapa terkejutnya saat Vante sedang berada di sana. Keduanya tentu terkejut dengan cara yang berbeda.
‘Ah, Johan, ini .. suamiku.” Jeni tersenyum canggung.
“Ah, aku tidak tahu kalau kau …-”
“Tidak masalah. Istriku mungkin memang tidak sempat mengatakannya padamu.” Vante mengulurkan tangan. “Namaku Vante dan aku adalah suami dari Jeni.”
Johan mengulurkan tangannya untuk berjabat. “Aku Johan. Aku … hanya kebetulan sedang lewat. Aku harap kau tidak salah paham.
“Tentu saja tidak. Aku sangat mengerti. Istriku ini memang cantik dan berbakat. Wajar kalau banyak pria yang berusaha mendekatinya. Aku juga tahu siapa Anda. Aku tahu Anda bukan orang sembarangan. Maka saya rasa akan lebih baik kalau Anda mencari wanita yang pastinya belum memiliki suami. Saya yakin banyak yang berminat berkencan dengan Anda.” Vante tersenyum ramah.
“Vante! Dia hanya mencoba untuk bersikap baik padaku.” Jeni berusaha berkata lirih.
“Hm, baiklah kalau begitu. Jeni akan segera menjalani audisi dan aku suaminya akan mendampinginya di sini. Anda sama sekali tidak perlu khawatir.” Vante tersenyum dengan ramah.
Johan yang salah tingkah, tentu saja memilih untuk pergi dari sana. Jeni yang kesal sekali dengan semua kata-kata Vante beralih menatap sang suami dengan tajam.
__ADS_1
“Apa maksud semua itu? Aku kan jadi tidak enak pada Johan!” Jeni sedikit kesal.
“Aku cemburu dan aku sangat tidak menyukainya. Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau tidak mengatakan padanya kalau kau sudah menikah dan punya aku? Apa kau sengaja melakukannya? Apa kau memang membiarkannya mendekatimu?” tanya Vante dengan raut wajah yang berubah begitu manja.
“Jangan asal bicara! Aku murni hanya belum mengatakannya karena memang dia tidak bertanya tentang itu. Kami sama sekali tidak sedekat itu dan pernah beberapa kali berbincang.” Jeni dengan cepat membela diri.
“Baiklah kalau begitu. Hanya saja lain kali jangan seperti itu lagi.” Vante merajuk.
“Sebentar. Apa kau lupa aku ini adalah seorang artis? Bagaimana kalau aku harus … beradegan mesra misalnya?” tanya Jeni ingin tahu.
“Kau bisa ambil peran apapun yang tidak melibatkan kontak fisik mesra seperti itu. Apa sulitnya?” Vante bicara dengan santai.
“Hehehe. Sudahlah. Aku mendukungmu dan aku serius dengan itu. Ya apa salahnya dengan sedikit lebih selektif dengan peran yang diambil? Aku percaya ku bisa melakukannya.” Vante tersenyum lagi.
Sebuah suara membuat perhatian mereka teralih saat nama Jeni dipanggil. itu adalah gilirannya masuk ke dalam ruang audisi. Mendapat kecupan mesra dari sang suami, Jeni menghela nafas panjang dan melangkah dengan penuh percaya diri ke dalam ruangan audisi.
Vante yang sebetulnya memang datang untuk memberi dukungan kejutan pada Jeni, justru lebih terkejut dengan hadirnya Johan yang penuh percaya diri ingin membawa sang istri pergi makan. Untung saja ia gerak cepat siang itu. Tak ingin kecolongan lagi, Vante setia duduk di sana dengan sabar.
Hingga beberapa saat kemudian, Jeni keluar dengan wajah berbinar. Wanita itu memanggil nama sang suami dan Vante segera mendongak. Berlari kecil ke arah Vante dan dengan cepat memegang tangannya.
__ADS_1
“Aku lolos. Aku mendapatkan peran utamanya. Yey …!”
“Wah itu bagus. Selamat ya.”
Keduanya berpelukan dengan bahagia. Akhirnya penantian panjang Jeni berakhir juga. Ia mendapatkan satu peran utama di sebuah film. Mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Vante juga tulus memberinya selamat dengan pelukan yang hangat.
Selepas itu, mereka kembali mengendarai mobil menuju rumah mereka. Keduanya berpegangan tangan seolah tak ingin berpisah. Senyum keduanya bersinar terang di wajah masing-masing. Kali ini Vante bahkan menyetir sendiri kendaraannya.
“Jadi, kau sedang dalam perjalananmu menjadi seorang aktris besar kini.” Vante tersenyum hangat.
“Ya, kau juga adalah seorang pebisnis dan mafia yang hebat…” Jeni tersenyum kecil.
“Sungguh takdir yang begitu lucu ya, Jeni. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Setelah jalan penuh liku dan jurang yang terjal, kita sampai di titik ini.” Vante menatap jauh ke depan.
“Sama sekali tidak mudah, tapi aku benar-benar bahagia bisa bertemu denganmu.” Jeni tersenyum menatap sang suami.
“Aku harap ini akan selamanya, Jeni.”
“Aku juga berpikir, ini akan bertahan untuk waktu yang lama, Tuan Mafia.”
__ADS_1
Apakah perjuangan berhenti sampai di situ? Sama sekali tidak. Jeni dan Vante sama-sama siap menjalani hidup mereka yang berat ke depannya. Dendam Randy dan Rosa yang belum usai. Setiap orang yang merasa terganggu kehidupannya karena kehadiran Vante dan Jeni. Belum lagi kehidupan rumah tangga Jeni dan Vante yang pastinya akan bertabur kejutan. Tapi, keduanya sepakat untuk saling mendukung satu sama lain. Berkomitmen membangun rumah tangga yang akan bertahan lama dengan dua kehidupan yang berbanding terbalik.