Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Hari Penolakan


__ADS_3

“Aku minta maaf, Kori. Setelah aku pikir-pikir lagi, rasanya aku tidak bisa menerima cintamu. Kali ini aku memiliih untuk bersikap tegas karena aku juga tidak mungkin terus menerus menggantungmu dengan status yang tak jelas.”


“A-apa? Tapi Jeni … selama ini aku-”


“Ya, aku tahu, Kori. Aku juga sangat amat berterima kasih atas segala bantuan juga perhatian yang telah kau berikan selama ini. Aku sangat tersanjung, tapi pada akhirnya ini bukan tentang balas budi. Aku menganggapmu sebagai seorang teman baik dan tidak lebih.” Jeni mencoba menatap pria itu dengan tulus.


“Jeni, aku sudah katakan padamu untuk tidak terlalu terburu-buru. Pikirkan dulu semuanya baik-baik. Kalau kau butuh waktu, maka aku akan memberikan semua yang kau butuhkan.” Kori masih berusaha merajuk.


“Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa. Sama sekali tidak ada yang bagus dari memaksakan.” Jeni menocba bicara lebih halus.


“Apa ini karena pria itu? Laki-laki yang bernama Vante itu? Kau menyukai dia kan? Kau belum bisa melupakannya kan?” tanya Kori mulai terpancing emosi.


Jeni memang tidak bisa menjawab yang satu itu. Semua yang Kori katakan memang benar, tapi arsanya akan terlalu menyakitkan kalau ia mengatakannya juga. Apalagi mereka sedang berada di sebuah restoran mewah lainnya kini. Hal yang semakin kesini semakin membuat Jeni juga tak nyaman.


“Maafkan aku, Kori.”


Jeni memilih untuk beranjak dari sana setelah membungkukkan badannya tanda permintaan maaf. Kori tentu saja murka. Ia membanting gelas yang berada dalam jangkauan tangannya. Bahkan pemain musik sudah ia siapkan malam itu untuk kembali membuat Jeni terpesona.


Kori salah. Sejak awal ia tak punya kesempatan. Sejak pertama bertemu, di dalam hatik Jeni sudah tertanam satu nama yang tak pernah pudar dan itu adalah Vante. Kembali Kori berteriak dan melempar pisau juga garpu yang ada di atas meja. Bahkan manajer retoran itu tak bisa menghentikannya.


“Jadi, kau memilih cara ini, Jeni? Baiklah kalau begitu. Aku akan melakukannya.”

__ADS_1


Kori yang murka segera menelpon anak buahnya. Ia dengan cepat mengatur strategi baru. Begitu telepon itu ditutup, ia berjalan dengan santai menuju keluar restoran. Mengendarai mobilnya ke sebuah klub yang selama ini selalu ia kunjungi.


“Kalau aku tidak bisa memiliki Jeni, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya. Entah itu Vante atau pria manapun!”


Jeni yang sedang berada di dalam taksi online, hanya bisa menatap ponselnya. Belakangan ini ia memang mulai rutin membalas pesan Vante yang memang masih gencar menghubunginya. Pria itu rupanya cukup bersikeras juga meskipun ia telah menolaknya berkali-kali.


Sekarang, setelah ia akhirnya bisa menolak Kori, ia berencana akan pergi menemui Vante. Jeni ingin mengungkapkan perasaannya pada pria itu. Hal yang sebenarnya cukup lama ia pendam. Kalau ia juga masih mencintai Vante. Jeni tersenyum dalam perjalanannya hingga sesuatu mulai mengganggu.


“Maaf, Nona. Sepertinya ada yang mengikuti mobilku,” ucap sang supir tiba-tiba.


“Benarkah? Siapa, Pak?” tanya Jeni yang jadi ikut menoleh ke kanan dan kiri.


Benar saja, tidak hanya satu melainkan dua mobil sedang mengemudi begitu dekat dengan mobil taksi online. Satu mopbil berada tepat di bagian belakang dan satunya seolah berusaha menerobos dan mencegat mobil itu dari depan.


Jeni hanya mengangguk dan mencoba menekan nomor darurat polisi. Belum sempat ia bicara, ponselnya jatuh karena mobil taksi online itu ditabrak dari belakang cukup keras. Masih berusaha meraih ponselnya yang terjatuh di bawah, mobil itu ditabrak lagi. Kali ini Jeni terpental dan terbentur pintu mobil yang membuatnya hampir pingsan.


Jeni tidak terlalu mengingat lagi. Suara si supir adalah yang terakhir ia dengar bersamaan dengan suara pria yang entah siapa. Mereka hanya meminta si supir untuk membuka kunci pintu belakang mobilnya. Jeni yang mereka tuju. Tak punya pilihan lain karena ancaman pistol yang mengarah ke kepala, sang supir mematuhi perintah pria itu.


Pria-pria asing itu pergi sedangkan sang supir mendengar suara telepon masih berbunyi. Terdengar ada polisi di seberang mencoba memanggil. Sang supir berinisiatif untuk mengatakan bahwa seorang gadis yang merupakan penumpangnya telah diculik. Tak tahu harus bagaimana, sang supir hanya diam dan menunggu petugas polisi datang.


Siapa sangka saat menunggu, ponsel Jeni kembali berdering. Si supir mengintip nama penelponnya dan ia segera mengangkatnya untuk memberikan informasi. Seorang pria menjawab telepon itu dari seberang penuh kebingungan.

__ADS_1


“Jeni? Siapa ini?” tanya suara di seberang.


Panjang lebar sang supir menjelaskan dirinya dan apa yang terjadi pada penumpang wanita yang sebelumnya diculik. Tentu saja sang pria di seberang telepon itu terkejut bukan main.


“Jeni diculik? Sial! Siapa yang berani melakukannya.”


Telepon itu ditutup dan hal yang segera Vante lakukan adalah memanggil Anton dan Billy. Seolah terulang kembali, ia tidak mau kali ini Jeni mendapat masalah dan celaka. Maria yang mengetahui juga terlihat tegang.


“Kalian berdua, ambil segera ponsel milik Jeni itu sebelum polisi menemukannya. Aku harus tahu dengan siapa dia bertemu terakhir kali dan apa yang terjadi. Kemungkinan terbesar itu adalah orang yang membuat Jeni dalam bahaya.”


Tidak menunggu lagi, Anton dan Billy segera bergerak. Hal pertama yang ia lakukan adalah menjemput ponsel Jeni yang berada di tangan sang supir. Beruntung mereka tiba lebih dulu sebelum pihak kepolisian. Anton juga dengan cepat mengecek isi ponsel Jeni dan segera menghubungi Vante.


“Ya, apa yang kalian temukan?” tanya Vante yang sudah menunggu dengan tak sabar.


“Kalau dilihat dari riwayat pesannya, malam ini Jeni bertemu dengan Kori, Tuan. Mereka makan di sebuah restoran mewah. Saat ini kami sedang perjalanan menuju restoran itu.” Anton berusaha menjelaskan.


Seolah menduga, Vente memukul mejanya keras dengan kepalan tangan. Cepat atau lambat seharusnya Vante menyadari bahwa ini akan terjadi. Kesal pada dirinya sendiri karena seharusnya ia bisa mencegahnya terjadi sejak awal. Masalahnya ia belum bsia bergerak karena masih butuh bukti lain untuk memastikan.


“Tuan, kami sudah mengkonfirmasinya. Kami memantau pergerakan CCTV di restoran itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Jeni lebih dulu meninggalkan restoran dan Kori juga mengamuk.” Anton kembali melaporkan.


“Tidak salah lagi. Ini pasti ada hubungannya dengan Kori. Aku tidak bisa diam saja. Aku akan pergi ke rumah mereka sekarang. Kalian susul aku kesana dan bawa beberapa orang. Kita harus membuat pelajaran!”

__ADS_1


Vante meraih kunci mobilnya dan juga dua buah pistol yang selama ini tersembunyi di bawah laci kerjanya. Sempat berjanji pada diri sendiri untuk menghindari hal semacam ini lagi, tapi Vante tidak bisa tinggal diam untuk yang satu ini. Ia harus memastikan Jeni selamat.


__ADS_2