
Kori adalah putra tunggal Darco dan Anna. meskipun hubungan rumah tangga orangtuanya berakhir berantakan, ibunya masih punya cukup uang untuk memanjakannya dengan gelimang harta.
Kori tumbuh menjadi pribadi yang arogan, sombong, kasar, boros, dan terus menerus berganti perempuan. Selain karena kekayaan ibunya yang memang ia miliki, juga tentu karena wajah dan tubuhnya yang memang rupawan.
Masalahnya, dia sudah terlalu sering bertemu dengan anak buah ibunya. Para kupu-kupu malam yang semuanya terlihat cantik tapi agresif. Bahkan ibunya pun juga tak jauh berbeda Alih-alih ibu yang penuh kasih sayang dan hangat juga lembut, sang ibu adalah sosok wanita tangguh yang aktif dan keras.
Kori akhirnya tumbuh menjdi sosok pria yang begitu terobsesi dengan gadis-gadis yang memiliki image polos. Dia selalu menjerat banyak gadis-gadis sederhana dengan cara yang sama. Mengajak mereka berkenalan, berkencan untuk beberapa saat, mengambil keperawanan mereka, dan lalu meninggalkannya.
Setelah menemukan harta murni dan merusaknya, maka Kori akan membuangnya. Pada akhirnya gadis-gadis itu akan memiliki dua jenis akhir. Pertama, mereka akan menjadi anak buah sang ibu. Kedua, mereka akan depresi dan bahkan bunuh diri. Tentu saja Kori sama sekali tak akan merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan.
Kori mengetahui dengan pasti siapa Vante dan juga Jeni. Ia juga mengetahui apa yang terjadi di antara mereka. Itu semua adalah alasannya mulai mendekati jeni yang ia ketahui adalah seorang aktris baru di industri teater.
Kori pertama kali mengetahui bahwa ia ternyata memiliki ayah adalah ketika sang ibu akhirnya memberitahunya. Tentu saja, Kori mendadak begitu ingin bertemu dengan sang ayah. Menurut info ibu Kori, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses.
“Kenapa baru sekarang, Bu?” tanya Kori.
“Aku rasa itu karena hubungan kami berakhir dengan tidak begitu baik. Aku jadi segan untuk membawamu pergi menemuinya. Aku pikir lagi akan jauh lebih baik kalau kau mengetahuinya saat usiamu dewasa. Sekarang, aku menyesal, karena aku sadar semuanya terlambat,” ucap sang Ibu penuh haru.
“Terlambat? memangnya kenapa, Bu?” tanya Kori ingin tahu.
__ADS_1
“Ayahmu telah dibunuh oleh anak buahnya sendiri yang bernama Vante. Aku juuga baru mengetahuinya beritanya belakangan. Aku awalnya bingung apakah harus mengatakannya padamu atau tidak. Hanya saja kalau dipikir lagi, kau berhak mengetahuinya,” ucap Anna dengan wajah penuh haru.
“Vante? Siapa dia, Ibu? Kenapa dia membunuh Ayah?” tanya Kori yang ingin tahu.
Informasi itu lah yang membuat Kori dan Anna akhirnya kembali. Menempati rumah milik Darco yang memang menjadi hak milik Kori seutuhnya sejak awal. Tentu saja dengan beberapa kekayaan tersembunyi yang pastinya telah Anna persiapkan untuk keduanya.
Kori memang sudah dewasa, tapi dia berada di bawah kontrol penuh sang ibu. Sedari kecil menjadi satu-satunya orang tua bagi Kori, maka pria itu hanya bisa menerima setiap detail yang diberikan oleh sang ibu kepadanya tanpa bantah.
Bahkan di titik ketika Kori mengetahui bahwa sang ibu adalah seorang pengusaha prostitusi tingkat internasional, Kori tidak bisa berbuat banyak kecuali belajar memaklumi. Ia memilih untuk menutup mata dan telinga. Apalagi selama ini semua kebutuhannya terpenuhi karena itu.
Seluruh informasi tentang Vante dan kehidupannya kini, sudah berada di tangan Kori. Anna selalu mendorong putranya itu untuk membalas dendam dengan membunuh Vante. Dalih bahwa Vante adalah pembunuh ayahnya yang pria yang membuat Kori kehilangan kesempatan untuk bertemu sang ayah.
“Bu, aku akan melakukannya dengan caraku. Aku hanya perlu kau percaya padaku. Bagaimana?” tanya Kori kemudian.
“Baiklah kalau begitu. Lakukan apapun yang kau sukai. Tentu saja aku akan memberimu tenggat waktu. Kalau sampai kau tidak berhasil dengan caramu, maka aku akan memastikan berhasil dengan caraku,” ucap Anna kemudian.
Tentu saja cara yang dimaksud adalah dengan melalui Jeni. Kori banyak mencari tahu tentang Jeni. Entah bagaimana dia jadi berakhir jatuh cinta dengan gadis yang seharusnya menjadi umpannya itu. Walaupun memang rasanya tidak bisa dipercaya, tapi ia memang mulai menyukainya.
“Aku rasa ini akan menjadi rencana balas dendam yang baik. Aku bisa menjatuhkan Vante sekaligus mendapatkan hati Jeni. Saat ini aku harus mulai dengan mendekati Jeni.”
__ADS_1
Begitulah kurang lebih tekad pria itu. Itu kenapa ia mulai aktif menonton pertunjukan Jeni. Bahkan sesekali mempelajari mengenai dunia akting dan teater. tentu saja semua untuk merebut simpati Jeni. Ia sama sekali tak peduli dengan Vante. Cepat atau lambat, dia pasti akan mendengar tentangnya.
Akhirnya mereka bisa bertemu dan berkenalan kini. Tentu saja kesempatan itu tidak akan dia sia-siakan. Apalagi setelah mengetahui bahwa Vante telah kembali untuk berusaha merebut kembali hati Jeni. Pasti Kori tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Diam-diam ia memantau pergerakan Jeni. Kori diam-diam memiliki akses pada CCTV di apartemen Jeni. Terutama semua lokasi di mana Jeni mungkin melewatinya. Dari sana juga ia tahu bahwa Vante beberapa kali datang untuk mengawasi. Bahkan hingga Vante akhirnya datang.
“Jadi kau sudah menemukan cara untuk menjatuhkan Vante?” tanya Anna di suatu waktu.
“Ya … sebenarnya aku mengincar perempuan yang saat ini dekat dengannya. Daripada membunuhnya yang berarti dia akan tewas begitu saja. Aku pikir akan lebih baik, kalau aku menyiksanya perlahan dimulai dengan mendekati orang-orang yang dia pedulikan. Vante kembali ke negara ini untuk gadis itu, Bu. Aku bisa mulai dari sana,” ucap Kori.
“Gadis itu? Gadis yang bernama Jeni? Aku sempat membaca tentangnya dan juga melihat fotonya. Aku tidak yakin kau berniat untuk menyiksanya. Apakah kau juga tertarik padanya?” tanya sang ibu selalu tepat.
“Hm, kalaupun iya, tidak ada salahnya kan? Menurutku akan jauh lebih baik karena kini aku punya dua motivasi yang sama-sama kuat. Bahkan kemungkinan terburuknya, kalau aku tidak bisa mendapatkan Jeni, maka dia pun juga tidak akan bisa,” ucap Kori tegas.
“Bukankah kau menganggap Jeni sama saja seperti gadis-gadis yang sebelumnya kau temui?” tanya sang ibu yang memang sangat mengenal tabiat sang putra.
“Entahlah, Bu. Jeni … sedikit berbeda. Aku mungkin juga harus menunjukkan seluruh kemampuanku dengan lebih ekstra.” Kori tersenyum jahat.
“Baiklah kalau begitu. Sesukamu saja. Aku tidak terlalu peduli kau tertarik dengan siapa. Seperti yang ku bilang, lakukan apapun yang kau suka,” ucap Anna lalu pergi melenggang meninggalkan sang putra.
__ADS_1