Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Tamasya


__ADS_3

Vee menepati janjinya untuk datang dan bertemu dengan Jeni di sebuah wahana wisata. Itu adalah sebuah wahana wisata terbesar di kota itu bernama Purple Dreamland. Datang di akhir minggu, suasananya memang cukup ramai dan penuh dengan pengunjung.


Vee datang dengan pakaian serba hitamnya dan juga masker bahkan topi di hari yang panas dan terik ini. Sedangkan di lain sisi, Jeni terlihat sangat cantik dan berbeda dengan rok dan kaos bergambar tokoh kartun Minie Mouse.


Mata Vee lekat. Ia tidak bisa tidak menatap gadis itu dengan rasa kagum yang membuncah di dalam hatinya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa perasaan itu mulai tumbuh di dalam hatinya. Gadis cantik dengan rambut yang diekor kuda kali ini. Sempurna dengan riasan wajah tipis. Apalagi senyuman yang selalu menghangatkan dada.


“Ada apa denganmu? Kita ini sedang tamasya. Kenapa kau malah menggunakan pakaian yang mengerikan seperti ini?” tanya Jeni kesal.


“Hm … aku tidak punya pakaian lain selain yang berwarna seperti ini,” jawab Vee dengan polosnya.


“Karena itu aku sudah menebaknya. Aku membelikanmu kaos juga. Sepasang dengan punyaku. Kaos bergambar Mickey Mouse.” Jeni tersenyum saat menyerahkan sebuah tas kertas. “Eh, ta-tapi … jangan besar kepala. Ini bukan karena aku ingin kita pakai baju yang sama. Ini murni hanya karena kalau beli sepasang, aku mendapat harga yang lebih murah.”


Vee tertawa kecil sebelum menerima tas kertas itu. Gadis di hadapannya ini makin manis saja saat tersipu malu. Vee mengatakan bahwa ia akan berganti pakaian. Meninggalkan Jeni yang menjadi sangat merah wajahnya karena malu.


“Ish, aku harap pria itu tidak akan berpikir kalau aku perempuan yang genit.”


Vee di dalam kamar ganti memperhatikan sebentar kaos yang ia pegang itu. Dia telah membuka pakaiannya sendiri dan kemudian menggantinya dengan kaos putih bergambar kartun itu. Konyol.


Bahkan Vee menertawakan dirinya sendiri. Menatap cermin yang ada di sudut ruang ganti itu, Vee menyadari bahwa ucapan Maria benar. Ia tersenyum lebar karena hal-hal receh kini. Di mana senyuman itu sudah sangat lama tidak pernah dilihatnya.


“Apa yang terjadi padaku? Apa semudah itu aku mengaku jatuh cinta pada sosok Jeni?” tanya Vee pada dirinya sendiri.


Vee dan Jeni kembali bertemu di luar area wisata. Mereka sepakat untuk masuk berdua dan bersenang-senang. Siapa sangka Jeni cukup pemberani menjelajahi area wisata tersebut. Ia akan naik apapun yang dilihatnya. Berbeda dengan Vee yang entah kenapa merasa mual karena tumpangan kedua mereka yang terus berputar itu.

__ADS_1


“Hahaha. Vee, jangan katakan kau mual karena naik wahana itu? Wajahmu pucat sekali. Hahaha.” Jeni tertawa puas sekali.


“A-aku hanya sedang merasa tidak enak badan,” alasan Vee.


“Ck kau ini. Tidak asyik.” Jeni menatap ke sekitar dan melihat ada sebuah bangku kosong. “Kita istirahat sebentar di bangku itu dan membeli minuman ya. Aku rasa minuman bersoda bisa membantumu menghilangkan mual.”


Vee menurut saja karena memang kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja. Sejujurnya di dalam hatinya ia gengsi sekali untuk menunjukkan kelemahannya itu. Hanya saja semakin ditahan, justru ia semakin merasa tubuhnya sakit.


Jeni datang menyodorkan satu kaleng minuman bersoda padanya. “Minum.”


Vee dengan cepat meminumnya dan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah bisa bersendawa beberapa kali, ia memang merasa jauh lebih baik.


“Terima kasih ya, Jeni,” ucap Vee.


“Jangan hanya berterima kasih saja. Kau masih harus menemaniku mengelilingi tempat wisata ini. Masih banyak sekali yang bisa kita lakukan seharian ini,” ucap Jeni masih menggebu.


“Tenang saja. Kalau kau merasa tidak sanggup naik wahana itu, ya tidak perlu naik. Aku bisa menaikinya sendirian. Jangan memaksakan diri,” ucap Jeni sambil tersenyum cantik.


“Aku sudah bilang, aku bukan tidak mau naik, hanya saja tubuhku yang kurang sehat,” elak Vee.


Jeni hanya bisa tersenyum menatap wajah Vee. Jujur saja setelah melihatnya berganti pakaian menjadi sesuatu yang lebih cerah, wajah Vee juga terlihat banyak berubah. Faktanya pria itu adalah pria yang tampan. Meskipun masih terlalu banyak hal yang membuat Jeni bertanya mengenai sosok misterius itu.


“Pakaian seperti ini cocok untukmu. Kau terlihat lebih … ceria. Pakain hitam membuatmu terlihat lebih murung dan gelap,” kata Jeni akhirnya.

__ADS_1


“Ah, terima kasih,” jawab Vee singkat.


“Sebenarnya aku pikir … banyak sekali hal yang belum aku tahu tentangmu. Begitu juga sebaliknya. Tapi, kita bisa saling bicara dan bahkan bertamasya bersama seperti ini. Gadis lain mungkin akan menolak ajakanmu. Seharusnya aku pun begitu,” kata Jeni.


“Lalu kenapa kau tidak bertindak seperti yang kau ucapkan itu? Mungkin saja kalau aku ternyata adalah pria berbahaya yang akan menculik dan memutilasimu setelah ini kan?” tanya Vee dengan tatapan menakut-nakuti.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu alasannya. Aku hanya punya perasaan yang kuat mengenai dirimu. Bahwa kau adalah pria yang sebenarnya baik dan … menyedihkan,” ucap Jeni berhati-hati.


“Menyedihkan?” tanya Vee.


“Ya. Kau dengan pakaian serba hitammu itu. Aku tidak tahu pasti memang apa yang kau kerjakan di luar sana, tapi aku bisa melihat kau adalah pria yang penuh kepalsuan. Kau menyembunyikannya di balik pakaian hitam yang seolah-olah memberi kesan kuat dan berani. Padahal, mungkin di dalam hati terdalammu, kau hanya pria rapuh.”


“Hahaha. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Bukankah kau hanya terlalu cepat menyimpulkan?” tanya Vee yang ingin mengelak.


“Aku rasa itu secara alamiah adalah insting saja. Kau tahu kan, manusia akan menemukan manusia lainnya yang setipe dengannya dan akan menjadi cocok satu sama lain. Mereka akan menjadi seperti magnet yang menarik satu sama lain. Aku rasa aku bisa berkata demikian, karena aku juga manusia yang seperti itu. Aku mungkin terlihat cukup tangguh di luar, tapi sebenarnya aku rapuh di dalam.” Jeni tersenyum tipis menatap ke kejauhan.


“Jeni, jadi menurutmu kita bertemu karena kita sama-sama manusia yang menyedihkan?” tanya Vee setengah meledek.


“Ya, faktanya bisa dibilang demikian. Tapi, bagaimanapun aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Kau bisa ceritakan apapun kapanpun saat kau mau padaku.” Jeni menatap Vee dengan lekat.


Vee balas menatap netra yang hitam pekat itu. Ia segera menyadari bahwa mungkin semua perkataan Jeni adalah kebenaran. Kalau dipikir lagi, mereka sama-sama hidup tanpa orang tua. Mereka tumbuh besar tanpa sosok dewasa yang bisa menumpahkan kasih sayang. Mereka hanyalah dua manusia yang kebetulan memiliki nasib serupa dan bertemu untuk saling menguatkan.


“Jadi … mau main apa lagi setelah ini?” tanya Vee yang berdiri dari kursinya.

__ADS_1


“Apa kau siap?” tanya Jeni tak ingin kalah.


“Tentu. Mari kita taklukkan tempat ini!”


__ADS_2