
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Juan.
“Kak, kau benar-benar harus sadar. Dengar, mungkin selama ini aku terlalu keras padamu, tapi aku akan mengatakannya padamu dengan baik kali ini. Kau benar-benar harus mempertimbangkannya dan bukan hanya sekedar angin lalu yang masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kirimu,” ucap Jeni panjang lebar.
“Ya ampun. Kenapa kamu berbelit-belit sekali,” ucap Juan yang telah menyelesaikan kegiatan membersihkan rumah.
“Aku rasa dendam ini mulai berakhir tidak sehat. Kau kehilangan banyak waktu dan kesempatan untuk mengembangkan dirimu sendiri sebagai manusia. Entah itu dalam karir, pekerjaan, bahkan kehidupan pribadi. Kalau kita tarik mundur dan berandai-andai kedua orang tua kita hidup, bukankah mereka akan sangat sedih kalau kau terus begini? Keduanya adalah manusia yang baik dan bahkan mereka tewas karena berusaha menyelamatkan manusia yang lain,” ucap Jeni sebelum meneguk satu kaleng soda.
“Tapi … aku sudah tidak tahu caranya berhenti, Jeni. Hidupku hanya berputar di sekitar kematian kedua orang tua kita. Seolah dendam itu lah yang memberiku energi untuk hidup. Aku bahkan tidak tahu caranya untuk memulai hidup tanpa itu.” Juan memandang lurus ke arah jendela kamarnya.
“Aku bisa membantumu kalau kau ingin. Aku bisa melakukan apapun yang kau butuhkan untuk kembali pada dirimu yang dulu. Kakak yang selalu menjagaku dengan baik dan bukan kakak yang selalu menuduhku dengan prasangka. Aku merindukan kakak yang bisa tertawa bersamaku dan bukan hanya kakak yang datang untuk marah dan mengatakan bahwa aku harus mengunci pintu. Kak, aku membutuhkanmu,” ucap Jeni dengan mata yang berkaca.
“Jeni-”
“Kak, kalau kau ingat-ingat lagi, kita bahkan sudah tidak mengenal satu sama lain sejak dendam itu mulai menyelimutimu. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri yang gelap ini. Sedangkan aku di sini menunggumu sendirian. Bukan hanya kau yang terluka karena meninggalnya orang tua kita, tapi juga aku, Kak.” Jeni kali ini terdengar lebih emosional.
“Tapi, Jen-”
“Kak. Bahkan ketika kau berhasil membalaskan dendam, ayah dan ibu tidak akan mendapatkan apapun di sana. Bukankah lebih baik bagi mereka kalau kita menjalani kehidupan yang baik dan bahagia jadi mereka bisa merasakan hal yang sama?” tanya Jeni akhirnya.
Kali ini Juan terdiam. Dia banyak berpikir dan semua ucapan sang adik memang benar. Dia seolah menutup mata dan hidup dalam dendam. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain memikirkan itu tanpa sadar ia tidak memikirkan banyak hal lain, termasuk adiknya sendiri.
“Maafkan aku, Jeni. Aku benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana. Apa kau … mau membantuku?” tanya Juan akhirnya.
Jeni akhirnya tersenyum lega. Ia memeluk sang kakak setelah memastikan pria itu serius dengan ucapannya. Ia akan berusaha untuk mengikhlaskan kematian kedua orangtuanya dan tidak lagi terlalu berfokus pada dendam.
__ADS_1
“Mari kita mulai dengan lebih banyak mengobrol dan juga mungkin makan dan main bersama. Aku akan memastikan Irene juga hadir,” ucap Jeni sambil tersenyum.
“Irene?”
“Kau tidak bisa membohongiku, Kak. Aku tahu kau menyukai Irene sejak dulu. Hanya saja aku yakin kau selalu berusaha menepisnya karena obsesimu itu. Apa aku benar?” tanya Jeni dengan kedipan matanya.
“Jeni, kau-”
“Ah, dan mengenai obsesi itu, aku bukannya akan membuat kau melupakannya begitu saja. Kau boleh mencari tahu tentang itu dan mungkin saja mendapat kesempatan untuk membuktikan suatu hari nanti. Hanya saja, kau tetap harus realistis. Kau sendiri yang bilang kan targetmu itu bukan orang sembarangan. Dia adalah mafia nomor satu di negara ini.”
“Iya, kau benar.”
“Itu berarti, dia punya banyak sekali lapisan yang harus kau tembus. Akan banyak orang yang bersedia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan pria itu. Apa kau pikir dengan posisimu saat ini akan cukup menjatuhkannya?” tanya Jeni.
“Jeni, aku bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu,” ucap Juan mulai menatap wajah adiknya.
“Jeni, kau adik yang luar biasa.”
Juan memeluk sang adik yang sudah tumbuh dengan dewasa tanpa pengawasannya. Selama ini pria itu mengaku bahwa ia selalu memandang rendah adiknya. Dalam artian, Jeni selau menjadi adik kecil yang akan ketakutan dan bersembunyi di balik punggungnya.
“Kamu sudah besar ya. Maaf Kakak selama ini terlalu sibuk dan akhirnya tanpa sadar mengabaikanmu. Semua ucapanmu sangat benar. Aku memang salah menentukan target hidupku. Aku harap … akan lebih baik setelah ini.” Juan tersenyum mengusap kepala Jeni jahil.
“Ya ampun, Kak. Sudah! Rambutku berantakan jadinya ….” Jeni mengerucutkan bibirnya.
“Owh ya. Kau dari mana?” tanya Juan memperhatikan penampilan adiknya yang rapi dan cantik.
__ADS_1
“Ah, sekarang kau mulai peduli? Hehehe. Aku sebenarnya baru pulang bersama Hope. Dia membawaku pergi ke pantai,” kata Jeni.
“Pantai? Apa itu semacam … kencan?” tanya Juan ingin tahu.
“Ya awalnya memang seperti itu, tapi aku berakhir mengutarakan perasaanku, Kak. Kau tahu kan aku hanya melihat Hope sebagai kakak. Aku tidak mau hubungan itu justru berubah menjadi tidak nyaman pada akhirnya. Itu kenapa aku pikir lebih baik kalau dia mengetahuinya segera.”
“Jadi, kau sudah menolak cintanya?” tanya Juan penasaran.
“Iya, Kak. Dia baik-baik saja. Ya setidaknya dari apa yang aku lihat. Aku rasa dia akan mengerti.” Jeni tersenyum tipis.
“Ya aku tahu kau tidak menyukainya, tapi apa itu bukan karena kau sudah menyukai pria lain?” tanya Juan ingin tahu.
“Hah? Apa? Ti-tidak, Kak. Aku tidak menyukai siapa-siapa. Bagaimana aku bisa menyukai seorang pria kalau kau begitu protektif begitu?” tanya Jeni dengan cepat mengelak.
“Hahaha. Kalau kau memang tidak punya seseorang yang kau suka, kenapa begitu tegang? Justru itu membuatku semakin curiga, Jeni. Aku harap dia pria yang baik ya,” ucap Juan menggoda.
“Kak, aku kan sudah bilang aku sedang tidak menyukai siapapun!” ucap Jeni kesal.
Sang kakak hanya tertawa dan pergi untuk menelpon kedai ayam goreng. Keduanya memang sudah lapar. Saat itu lah Jeni berjalan mendekat ke arah jendela yang penuh dengan foto dan coretan sebelumnya. Lalu tanpa sengaja dia menemukan satu foto yang begitu familiar.
DEG
“Bukankah itu …?”
“Apa yang kau lihat Jeni?” tanya Juan.
__ADS_1
“Kak, pria ini …?”
“Jangan hanya karena wajah tampannya saja kau terkecoh. Dia adalah salah satu pria jahat. Dia adalah kaki tangan Darco. Pria yang paling ia percaya bernama Vee,” ucap Juan sungguh membuat Jeni terkejut.